Pendukung Anies Baswedan sedang mabuk kepayang.

Gara-garanya, melalui instagram, Anies mengumumkan dia diangkat menjadi salah seorang Founding Member of International Advisory Board at the Institute of ASEAN Studies at the University of Oxford.

Ketika diterjemahkan, di media-media INDONESIA, posisi yang ditempati Anies itu adalah anggota Pendiri Dewan Penasihat Internasional Lembaga Kajian ASEAN di Universitas Oxford.

Di instagram, Anies juga menyatakan dia sempat memberikan kuliah di kampus ini.

Berita ini memang layak membuat para fans Anies semakin mencintai idolanya.

Maklumlah Oxford itu bukan universitas sembarangan.

Oxford adalah kampus bereputasi di dunia.

Jadi kalau sekarang Anies diangkat sebagai salah seorang anggota Dewan Penasihat untuk lembaga kajian ASEAN di sana, ini dibayangkan tentu luar biasa.

Para pendukung Anies langsung berkomentar penuh puja puji.

Seorang netizen menulis: “Di antara banyak tokoh yang muncul di media, Anda pantas memimpin negeri ini. Fix no debat!”

Seorang warganet lain menulis: “Please Pak Anies. Jangan keterlaluan dan kelewatan ngasih unjuk ilmunya. Kasih kesempatan Pak Ganjar atau Bu Puan. Biar tau rasanya didukung, bukan cari dukungan”.

Mmmm pertanyaannya: apakah memang sedemikian hebatnya Anies sehingga dia sampai diminta Universitas Oxford untuk menjadi penasihat di sana.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya, ada hal yang mungkin kita perlu pahami bersama.

Pertama-tama adalah soal posisinya .

Ada yang perlu dicermati.

Anies diangkat sebagai founding member.

Jadi dia bukan seorang anggota yang terpilih dari deretan intelektual yang dinilai memiliki misalnya kemampuan analitis tajam dalam kajian ASEAN.

Dia dipilih karena dia adalah seorang pendiri lembaga kajian tersebut.

Saya tidak tahu bagaimana proses Anies menjadi pendiri.

Tapi kalau kita ikuti pemberitaan, kita akan baca bahwa Anies memang secara aktif berusaha mendekati Oxford.

Pada 17 Mei tahun lalu, di instagramnya, tertulis kisahnya datang untuk menjajaki kerjasama dengan Oxford.

Menurut Anies, Pemprov DKI tengah menjajaki kerjasama dengan Blavatnik School of Government di Universitas Oxford, khususnya mengenai pengembangan kebijakan publik di Jakarta.

Bahkan dikatakan pula, PT Transportasi Jakarta alias Transjakarta baru saja menandatangani MoU dengan Unit Kajian Transportasi, Universitas Oxford, untuk pengembangan riset dan capacity building pemerintah dan BUMD Jakarta.

Di situ juga dikatakan Anies bersama pihak Oxford mendiskusikan potensi kerjasama pengembangan Pusat Kajian Asia Tenggara.

Jadi pada Mei, Anies dan tim mengunjungi Oxford.

Pada Agustus giliran utusan Oxford yang datang ke Indonesia.

Yang berkunjung adalah Profesor Timothy Power yang adalah Ketua Divisi Ilmu-ilmu Sosial di Oxford.

Diberitakan Power berkunjung ke Jakarta dalam proses mendirikan sebuah Pusat Kajian Asia Tenggara yang permanen yang akan berdiri di Oxford School of Global and Area Studies.

Power menyatakan bahwa Pusat Kajian itu akan memfasilitasi pertukaran mahasiswa dan dosen serta melakukan penelitian-penelitian tentang negara-negara anggota ASEAN.

Di Jakarta, Power juga bertemu dengan Ketua Alumni Oxford di Indonesia atau OXSI.

Menurut Teddy Tjandra, ketua OXSI, Indonesia akan menempati posisi semakin penting di dunia.

Karena itu diharapkan akan lebih banyak mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Oxford, dengan didirikannya Pusat Kajian ASEAN ini.

Diharapkan pula akan lebih banyak kerjasama dan kolaborasi dilakukan untuk mendukung program-program lingkungan hidup, teknologi, ilmu sosial dan ekonomi.

Sampai di sini, mudah-mudahan Anda bisa memahami konteks terpilihnya Anies sebagai anggota Dewan Penasihat di Pusat Studi ASEAN di universitas bergengsi ini.

Saya tidak ingin mengatakan posisi itu tidak pantas diberikan kepada Anies.

Tapi kita harus paham duduk perkaranya.

Apa yang dilakukan ini adalah khas Anies.

Saya jadi teringat ketika Anies akhir tahun lalu digembar-gemborkan menjadi pembicara di G-20.

Dia benar menjadi pembicara di salah satu acara yang terkait G 20.

Tapi itu adalah sesi yang dibuka buat para pembicara yang harus mendaftar terlebih dulu untuk mengungkapkan pikirannya.

Bukan di main event G20.

Soal Oxford ini agak mirip-miriplah.

Sejak lama Oxford memang hendak mengembangkan sebuah Pusat Kajian Asia Tenggara.

Sekitar 3 tahun lalu, beredar kabar bahwa Pusat Kajian ini akan dikembangkan bersama Malaysia.

Pada Maret 2019, tim Oxford sudah berkunjung ke Malaysia untuk bertemu Yang Mulia Sultan Nazrin Shah yang adalah Wakil Raja Malaysia.

Dalam pertemuan itu, Sultan Nazrin digambarkan sebagai tokoh yang akan mensponsori pendirian Pusat Kajian ASEAN.

Ia juga sudah membeberkan visinya mengenai Pusat Kajian tersebut.

Dia sendiri adalah ahli ekonomi politik yang juga menjadi Penasihat Universitas Malaysia.

Di Oxford, dia bahkan membiayai pembangunan gedung Sultan Nazrin Shah Center

Saya tidak memiliki informasi apakah rencana kerjasama dengan Malaysia ini memang dilanjutkan Oxford atau tidak.

Tapi yang penting adalah sejak lama Oxford ingin mengembangkan dan mencari sponsor yang mendanai Pusat Kajian tersebut.

Dan tim Anies rupanya jeli melihat peluang itu.

Dengan menjadi pendiri Pusat Kajian ASEAN itu, nama Anies jelas terangkat.

Saya yakin, ada dana dari Pemprov DKI yang mengalir untuk mendukung pengembangan Pusat Kajian tersebut.

Paling tidak, seperti saya sampaikan tadi, sudah ada MOU antara Transjakarta dengan Unit Kajian Transportasi, Universitas Oxford, untuk pengembangan riset dan capacity building pemerintah dan BUMD Jakarta.

Jadi kalau sekerang Anies menjadi anggota Dewan Penasihat karena dia adalah pendiri, itu tentu sangat wajar.

Dengan mengatakan itu, saya tidak hendak mengatakan Anies itu tidak pintar.

Dia pasti pintar, karena buktinya dia bisa lulus menjadi doctor di Amerika Serikat.

Tapi ya tidak usah berlebihanlah mengagumi dia.

Apalagi kalau menganggap bahwa karena Anies adalah anggota Dewan Penasihat sebuah lembaga di Oxford, maka Anies layak jadi presiden.

Tim Anies memang sangat piawai membangun brand Anies sebagai pemimpin.

Karena itu kita harus selalu berhati-hati setiap kali mendapat kabar tentang apa yang disebut sebagai keberhasilan Anies.

Ayo terus gunakan akal sehat

Karena hanya dengan akal sehat, bangsa ini akan selamat.