KUNGFU CAK IMIN

Sepertinya saya sudah agak lama gak ngisi acara TimeLine ini. Kalian kangen ya? Maaf ya, soalnya sekarang ini lagi sibuk syuting film Kupu Kupu Kertas, tentang kejadian kerusuhan NU dan PKI di Banyuwangi tahun 1965. Nanti kalau sudah tayang ke bioskop ya nonton.

Apa yang rame beritanya kemarin? Oh iya, mendadak PKB kemarin pindah dari dukung Prabowo sekarang ke Anies Baswedan. Ini agak mengagetkan saya sih sebenarnya, karena PKB itu ideologinya NU kok bisa ya bersanding dengan PKS dalam mendukung Anies, padahal jejak ideologi kedua partai itu berbeda.

Saya gak yakin kalau kedua partai ini akan bertahan di wadah yang sama, kemungkinan sih PKS yang akan pindah merapat ke Prabowo, apalagi Prabowo dan PKS punya rekam jejak pertemanan sejak Pilpres 2014 mereka selalu bersama. Dan ini dikuatkan dengan bukti bahwa PKS sendiri tidak hadir dalam acara deklarasi Anies – Cak Imin di Surabaya kemarin, ini berarti memang ada masalah di dalam koalisi mereka.

Cak Imin sendiri dalam beberapa waktu ini memang keliatan gerah, apalagi sejak Golkar dan PAN masuk dalam barisan pendukung Prabowo. Cak Imin yang biasanya menjadi pemegang kunci siapa calon wakil presidennya Prabowo, sesudah Golkar dan PAN masuk akhirnya tersingkir pelan-pelan.

Saya kaget juga ketika cak Imin akhirnya masuk menjadi Cawapres Anies, karena saya pikir gak mungkin karena di sana ada PKS. Tapi apa sih yang gak mungkin buat seorang cak Imin? Semuanya mungkin, apalagi ini berkaitan dengan mimpinya cak Imin sejak lama untuk menjadi Cawapres. Inget kan dulu Pilpres 2019, cak Imim punya nafsu besar jadi Cawapresnya Jokowi, sehingga ketika pundaknya ditepuk Jokowi aja dia sudah senang banget dikira Jokowi akan menjadikannya calon wakil presiden.

Tapi saya pribadi memaklumi kenapa cak Imin keluar dari koalisi pendukung Prabowo? Kalau saya jadi cak Imin sudah pasti saya juga keluar koalisi. Enak aja, saya yang mengawali, saya yang ikut berdarah-darah, eh sesudah tinggal menikmati tiba-tiba datang Golkar dan PAN minta jatah yang lebih besar dari saya. Prabowonya oke lagi. Ya sudah, gak ada jalan lain kecuali keluar.

Cuma saya kira dulu PKB akan dibawa cak Imin merapat ke PDI Perjuangan, karena mereka berdua punya platform ideologi yang sama. Tapi ternyata prediksi saya salah, cak Imin malah melakukan langkah yang tidak terduga menjadi Cawapres Anies.

Surya Paloh sebagai pemegang boneka, tentu senang karena dengan gabungnya PKB ini bisa mencuci wajah Anies Baswedan yang selama ini kotor akibat politik identitas. Kalau ada PKB kan, Anies bisa mendadak NU, dan massanya NU banyak banget ada sekitar 40 juta orang, terbanyak di Jawa Timur, daerah kekuasaan PKB.

Dengan Anies yang sekarang menguasai Jawa Barat, dan PKB kuasai Jawa Timur, maka potensi kemenangan dihitung semakin besar oleh Surya Paloh. Jawa Tengah lewatin aja, karena disana sudah pasti gak bisa ngalahin seorang Ganjar Pranowo.

Nah, ketika ditinggal cak Imin ini, Prabowo yang gantian resah, karena dia juga menganut strategi yang sama dengan Surya Paloh, untuk kuasai Jawa Timur. Prabowo hitung-hitungannya kuat di Jawa Barat, makanya dulu dia gandeng PKB untuk bisa kuasai Jawa Timur. Tapi dengan keluarnya cak Imin dari koalisi, maka situasi langsung berubah dan membuat Prabowo sekarang jadi lemah. Prabowo harus mulai mencari tokoh Jawa Timur supaya namanya bisa naik di sana.

Jawa Timur memang sekarang jadi ajang pertarungan, karena secara faktanya Jawa Timur adalah provinsi nomer 2 terbanyak penduduknya sesudah Jawa Barat, atau kalau dihitung sekitar 40 juta penduduk. Dan Jawa Timur adalah basisnya NU, maka pertarungan pendekatan kepada kyai-kyai NU di Jawa Timir jadi modal untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2024.

Dengan gabungnya cak Imin di Anies Baswedan, maka kemungkinan besar orang-orang NU lain yang tidak tergabung dalam PKB akan mulai mendukung Ganjar sebagai calon mereka, bukan Prabowo karena Prabowo tidak punya akar ke NU-an. Beda sama Ganjar yang punya istri cucu dari kyai besar NU. Cak Imin juga NU, jadi tinggal Prabowo yang gak punyabasis atau pondasi ke-NU-an.

Dengan masuknya cak Imin jadi Cawapres Anies, maka otomatis partai Demokrat akan minggir. Dan seperti prediksi saya sebelum-sebelumnya, Demokrat kemungkinan besar akan gabung dengan PDI Perjuangan mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.

Politik kita masih sangat cair sekarang ini, sampai nanti pendaftaran calon di awal bulan November selesai. Dan catat! Cak Imin bisa jadi pindah lagi dan meninggalkan Anies sendirian, apalagi kalau Gerindra atau PDI Perjuangan kasih tawaran yang sangat menarik yang gak bisa ditolak cak Imin. Saya kira, dalam Pilpres kali ini cak Imin lah yang paling banyak menarik keuntungan karena dia akhirnya punya posisi tawar yang sangat tinggi dari sebelumnya.

Tetapi yang menarik buat saya tetap Ganjar Pranowo dan PDI Perjuangan. Meski sejak awal PDI Perjuangan terus menerus dipropagandakan sombong, angkuh dan segala macam, tapi harus diakui bahwa PDI Perjuangan adalah partai yang paling stabil. Ya gimana gak stabil, gak usah berkoalisi dengan partai apapun, PDI Perjuangan tidak masalah karena dia punya privilege untuk mencalonkan Presiden sendirian. Meski begitu, PDI Perjuangan dibawah komandan Puan Maharani sekarang, tetap berusaha humble dan mendekati partai-partai lain untuk bisa gabung.

Perhatikan saja, di saat partai lain sibuk berantem, sibuk berkhianat, sibuk rebutan posisi dan kursi, Ganjar Pranowo dengan santainya nyanyi-nyanyi di acara perpisahannya sebagai Gubernur Jawa Tengah. Ganjar dan PDI Perjuangan lebih sibuk memetakan program dan visi misi karena mereka sudah tidak khawatir lagi dengan kursi.

Jadi, makin asyik kan Pilpres sekarang? Kita seruput kopinya dulu biar tenang..

Komentar