AHYUDIN ACT BUKAN USTAD TAPI KAPAL KERUK SUMBANGAN

Oleh: Guntur Romli

Tak ada rasa bersalah, tak ada rasa malu yang ditampakkan oleh Ahyudin bekas presiden ACT saat diperiksa polisi. Malah bergaya mengacungkan jempol di foto-foto yang beredar. Padahal kasusnya sangat berat dan sangat memalukan, penggelapan dana sumbangan. Eh dia kok masih bela-bela diri mengaku sebagai ustad. Beginilah kalau agama terus dijadikan sebagai kedok. Saat menjalankan modus penggelapan dan saat membela diri pun masih pakai kedok agama.

Ahyudin mantan presiden ACT yang diperiksa kasus penggelapan dana sumbangan tidak menampakkan rasa bersalah dan rasa malu. Malah semakin petakilan.

Padahal kasusnya sangat memalukan. Dugaan penggelapan dana sumbangan untuk memperkaya dirinya sendiri.

Apalagi modus yang selama ini dia lakukan selalu mengatasnamakan penderitaan dan kesusahan orang lain. Tapi sumbangan-sumbangan itu justru tidak sampai seluruhnya kepada mereka yang berhak, tapi dipotong habis-habisan.

Menurut polisi, ACT memotong 20 persen dari total dana sumbangan. Misalnya ACT mendapatkan 60 Miliar dalam satu bulan, maka 12 Miliar akan masuk ke kantong pengurus ACT.

Tentu saja yang paling banyak dapat ya elit-elitnya lah. Dengan gaji yang besar dan fasilitas mewah.

Bagaimana mungkin Ahyudin mengaku sebagak ustad tapi melakukan potongan sampai 20 persen?

Dalam aturan yang jamak yang dikenal dalam agama Islam diketahui pihak amil, atau pengelola zakat, infak, sedekah tidak boleh mengambil lebih dari 1/8 dari total dana yang terkumpul.

1/8 artinya 12.5 persen. Tidak boleh lebih dari angka itu untuk kebutuhan operasional.

Ini ACT malah mengambil 20 persen. Jadi Ahyudin, ustad dari mana?

Kemudian dari aturan yang dikeluarkan Pemerintah melalui PP No 29 tahun 1980 dana sumbangan hanya bisa dipotong sebanyak-banyaknya 10 persen.

Sementara pengumpulan dana untuk bencana tidak boleh dipotong sama sekali.

Karena itu Kementerian Sosial sudah mencabut izin Penyelenggaraan Pengumpulan Uang dan Barang (PUB) yang telah diberikan kepada Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tahun 2022, terkait adanya dugaan pelanggaran peraturan tersebut.

Pertama, ACT melanggar peraturan dengan melakukan pemotongan dana di atas 10 persen.

Kedua, pemotongan yang sewenang-wenang dilakukan oleh pihak ACT untuk penggalangan dana bencana.

Jadi bagaimana mungkin Ahyudin masih bisa membela diri sebagai ustad.

Ustad apa?

Ustad adalah sebutan terhormat untuk mereka yang melakukan tugas sebagai pendidik, sebagai guru.

Ustad sebenarnya artinya sama dengan guru, dengan pendidik. Kemudian mengalami penyempitan makna menjadi guru agama saja. Padahal asal dari bahasa Persia kemudian diserap ke dalam bahasa Arab yang artinya guru dalam lingkup yang umum.

Ustad sebagai pendidik dan guru terkait dengan tugas mulianya dalam lingkup pendidikan. Karena mengalami penyempitan makna, maka saat ini panggilan tersebut hanya kepada mereka yang melakukan pendidikan di lingkungan pendidikan agama Islam saja.

Ustad adalah guru di lingkungan pendidikan Islam.

Tapi kemudian ustad mengalami penggeseran pada penceramah saja, apalagi fenomena televisi yang seenaknya memberikan gelar pada seseorang dengan ustad, hanya karena berceramah di stasiun televisi itu.

Apalagi televisi itu yang bikin audisi dai yang setelah selesai jebolannya dipanggil ustad untuk mengisi ceramah di televisi itu.

Inilah fenomena ustad-ustad made in televisi.

Ustad dalam dunia akademik di negara Arab saat ini tingkatannya adalah profesor. Kalau ada gelar al-ustadz untuk pengajar atau dosen di sebuah universitas, artinya orang itu sudah profesor.

Al-ustadz ad-Duktur. Artinya Profesor, Doktor.

Tapi di Indonesia malah mudah sekali mengumbar panggilan dan sebutan ustad.

Sehingga ada fenomena, ada ustad dadakan yang tidak lebih dari tahu-tahu bulat yang digoreng dadakan.

Ustad yang tidak mencerminkan perjuangannya dalam mendidik generasi dan akhlaknya sebagai seorang ustad.

Apakah Ahyudin seorang pendidik, seorang dosen, sehingga bisa mengaku sebagai ustad?

Bagi saya Ahyudin bukan ustad, tapi kapal keruk dana sumbangan.

Komentar