TENDA FORMULA E RATUSAN MILIAR AMBRUK, KALAH DENGAN PECEL LELE

Oleh: Guntur Romli

Formula E tak henti-hentinya bikin hehoh. Setelah ada sponsor bir dan wine, karena acara ini ngotot diadakan oleh pihak yang gemar politisasi agama. Yang terbaru: tribun penonton dengan budget total acara ratusan miliar itu, ambruk. Katanya event internasional, kok tribunnya kalah kuat dengan tenda pecel lele?

Ambruknya tribun penonton Formula E merupakan kejadian yang memalukan sekaligus membahayakan.

Saya sebut memalukan karena acara ini konon dikoar-koar sebagai acara kelas internasional, tapi struktur bangunannya kok sekelas abal-abal.

Menurut panitia katanya ambruk karena ada badai. Meski tak ada laporan dari BMKG soal badai itu. Kata pihak Kontraktor beda pula karena pembangunan belum selesai. Tenggat waktu pelaksanaan makin mepet, masa belum selesai.

Tapi kata polisi, karena tiang penyangga atap tidak kuat. Berarti ada masalah di struktur. Netizen pun ribut. Membandingkan tribun penonton Formula E dengan bangunan semi permanen yang hampir sama di sekitar lokasi acara. Ada restoran seafood yang punya jenis atap yang sama, tapi tidak ada yang pernah ambruk.

Sampai-sampai juga dibandingkan dengan tenda-tenda pecel lele yang ada di sekitaran lokasi, juga tak ada yang ambruk.

Kalau benar ada badai, pastilah akan ikut ambruk tenda-tenda tidak permanen itu.

Artinya memang tidak ada badai seperti ngelesnya panitia. Berarti bukan karena sebab luar tenda Formola E itu ambruk, melainkan ada sebab struktur bangunan yang sangat bermasalah sehingga runtuh.

Makanya tidak salah kalau ada yang komentar, hajatan Formula E yang kelas dunia kalah dengan tenda sekelas pecel lele.

Disebut membahayakan karena tentu saja karena mengabaikan faktor keselamatan. Bagaimana dengan penontonnya kalau saat acara berlangsung tiba-tiba ambruk. Na’udzubillah. Semoga hal itu tidak terjadi.

Apalagi tribun penonton yang lain juga sejenis dengan yang ambruk itu, maka, faktor keselamatan penonton dan manusia yang akan terlibat di dalamnya harus dipikirkan matang-matang. Jangan sampai membawa korban, bukan kebanggaan yang akan didapat, tapi malapetaka.

Panitia memang rada sombong menyatakan pembangunan sirkuit Formula E ini tercepat di dunia. Dengan kejadian ini, komentar sinis pun muncul, iya tercepat ambruknya.

Pembangunan sirkuit bukan soal kecepatan yang menjadi ukuran tapi faktor keselamatan yang harusnya diutamakan. Bukan cepat-cepat tapi malah membawa resiko kecelakaan.

Apalagi cepat-cepatnya karena faktor Anies yang sebentar lagi akan turun dari jabatan gubernur DKI, Alhamdulillah!

Sehingga balapan Formula E pun dengan cara apapun harus terlaksana, hingga sampai-sampai menguras duit rakyat DKI.

Formula E memang tidak lebih sebagai pencitraan Anies. Sayangnya pencitraan itu tidak menggunakan duit pribadinya, tapi duit rakyat, yang harusnya duit itu dipakai untuk program prioritas rakyat Jakarta.

Jangankan soal balapan, soal WC saja banyak warga DKI yang tidak punya. Sampai-sampai buang hajat di sungai, WC ambruk dan menjadi korban, meninggal. Innalillah!

Apalagi anggaran Formula E ini masih bermasalah. Sehingga KPK pun mulai turun tangan. Meski kerjanya sangat lambat. Pembangunan sirkuit pun anggarannya berubah dengan cepat. Saat tender katanya, harganya 50 Miliar. Tiba-tiba ada berita naik jadi 60 Miliar. Eh terus naik menjadi 130 miliar. Kemudian ada berita terlahir sampai 190 miliar. Ini hampir 300 persen naiknya!

Menandakan perencanaan acara ini abal-abal. Belum lagi kata panitia mau bikin pawai di Monas, mengikuti kesuksesan pawai MotoGP ternyata tidak bisa dan gagal.

Kemudian kasus tribun yang ambruk menjelang 1 minggu hari-H.

Soal commitment fee Formula E yang menuruti Ketua DPRD DKI Bung Pras, sudah dibayarkan Rp560 miliar.

Duit 560 miliar ini yang mengeruk duit rakyat DKI.

Dan semua berita dan petunjuk itu berseliweran setiap hari di mata kita. Anehnya KPK dan BPK entah kemana. Anggaran dari 50 Miliar mejadi 190 miliar saja sudah aneh. Ingat, ini acara Pemerintah DKI Jakarta, bukan acara pribadi Anies Baswedan. Kalau ini acara pribadi dia, mau hambur-hamburin duit, ya kita masa bodo aja, tapi ini acara pemerintah yang dijadikan sebagai panggung pribadi dengan duit yang terus dihambur-hamburkan.

Sebegitu ambisiusnya mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala macam cara.

الغاية تبرر الوسيلة

Tujuan yang menghalalkan segala cara.

Tujuannya adalah ambisi kekuasaan, cara apapun dipakai. Politisasi agama. Acara pemerintahan dibuat untuk panggung pribadi. Hambur-hamburin duit rakyat. Hingga menyepelekan faktor keselamatan.

Semoga kita dan negeri kita dilindungi oleh Tuhan YME, Allah Swt dari politik menghalalkan cara seperti itu.

Amin, Amin

Komentar