FORMULA E DI JAKARTA TERBESAR DAN TERSUKSES?

Oleh: Ade Armando

Pertarungan Formula E di Jakarta tinggal dua hari lagi. Banyak pihak pasti merasa was-was dengan apa yang akan terjadi. Termasuk Gubernur DKI dan timnya.

Ini adalah pertaruhan terakhir sebelum dia harus meletakkan jabatan di bulan Oktober nanti. Dan rasanya tidak ada sebuah turnamen olahraga yang sedemikian kontroversial seperti Formula E.

Dari soal proses pengesahannya yang dianggap melangkahi DPR, soal kejanggalan pembiayaan, soal kejanggalan Commitment Fee, interpelasi, lokasi, tender yang dibatalkan, pembangunan yang dikebut terburu-buru, kesulitan memperoleh sponsor, penolakan BUMN menjadi sponsor, dan beragam persoalan laiinnya. Sangat menghebohkan.

Karena itu, pelaksanaan ajang Formula E pada 4 Juni ini akan menjadi ajang pembuktian pamungkas dari keseluruhan proses yang melelahkan ini.

Apakah Jakarta kita siap? Tak ada jawaban yang pasti.

Memang terdengar di sana-sini pernyataan bombastis mengenai Formula E
Co-Founder Formula E, Alberto Longo misalnya menyatakan event Formula E di Jakarta bakal menjadi pagelaran terbesar dan tersukses sepanjang sejarah Formula E.

Bayangkan, ‘terbesar’ dan ‘tersukses’.

Longo mengatakan itu saat bersama Anies mendatangi lokasi sirkuit. Longo juga menyatakan bahwa balap Formula E kali ini berbeda dengan ajang sejenis di negara lain karena akan berlangsung di sirkuit ynag khusus dibangun untuk ajang balap mobil listrik ini.

Sementara di negara lain, balapan dilakukan di jalan-jalan yang sudah terbangun sebelumnya. Salah seorang pebalap, Oliver Askew juga memuji keindahan Sirkuit Jakarta Formula E ini. Hal itu diposting dalam Instagram pribadinya.

Lewat Instatory, pembalap asal Amerika Serikat itu memperlihatkan lanskap Sirkuit Jakarta Formula E dari ketinggian. “It’s beautiful,” katanya.

CEO Formula E, Jamie Reigle juga menunjukkan antusiasme tentang Formula E di Jakarta.
Dia ingin Jakarta masuk kalender balap tetap tiap tahunnya. “Kami ingin Jakarta bergabung dengan kalender kami untuk jangka panjang. Kami merasa bangga bisa menjadi bagian dari ini,” ujar Jamie.

Anies sendiri menambahkan bahwa, sirkuit Formula E cukup aman untuk digunakan. Tapi bisakah kita percaya denga pernyataan-pernyataan itu. Misalnya soal terbesar dan tersukses.

Apa ada tanda-tanda ke arah sana?

Kita mungkin menjadi bertanya-tanya kalau, yang di Jakarta ini dinilai sebagai terbesar dan tersukses, bagaimana dengan ajang Formula E di negara-negara lain ya. Atau ini barangkali cuma kalimat indah yang harus dikeluarkan untuk menenteramkan semua pihak.

Saya mungkin salah tapi saya merasa tak ada keramaian, kemeriahan, hura-hura, spanduk, umbul-umbul, yang lazim terjadi sebelum dilangsungkannya sebuah gelar berskala dunia.

Tidak ada promosi besar-besaran. Tidak ada yang berseliweran di media sosial. Orang tidak membicarakannya. Tidak ada parade para pembalap.

Kalau memang ini acara berskala global, kita mestinya sudah menyaksikan kedatangan para calon penonton. Kita seharusnya sudah mendengar bannyaknya kamar hotel terisi. Saya mungkin salah, tapi kok itu semua tak terlihat. Semua senyap.

Begitu juga dengan soal keamanan sirkuit. Anies menyatakan ini aman. Mudah-mudahan memang aman. Tapi kita sebetulnya memerlukan jaminan lebih.

Para pembalap sendiri tidak melakukan uji coba di sirkuit yang baru beberapa hari yang lalu rampung dibangun. Satu-satunya orang yang menjajal sirkuit adalah Anies Baswedan sendiri.

Dalam kunjungannya ke sirkuit, dia mencoba salah satu mobil listrik yang akan dipacu dalam turnamen. Tentu saja tidak dengan kecepatan tinggi. Dan tidak menjelajah ke seluruh sirkuit.

Jadi marilah kita bersama-sama berdoa saja agar memang tidak terjadi sesuatu yang serius dalam penyelenggaraan balap Formula E di Jakarta ini. Namun setelah itu semua, kita tentu tak bisa mengabaikan begitu saja soal asepek bisnis dan ekonomi
Ada pernyataan seorang ekonom bahwa penyelenggaraan Formula akan membawa keuntungan Rp1,2 triliun.

Bahkan seorang pengamat lain mengatakan bahwa potensi keuntungan yang didapat dari ajang tersebut bisa mencapai Rp2,5 triliun.

Tapi itu hitung hitungan dari mana?

Yang kita tahu sih mustinya panitia tekor. Berapa sih biaya penyelenggaraan?

Biaya pembangunan sirkuitnya saja Rp180 M. Dan ini merupakan perubahan drastis dari apa yang diumumkan sebelumnya. Ketika tender pembangunan sirkuit diselenggarakan, biayanya mula-mula cuma Rp50 M.

Kemudian perusahaan pemenang tender bilang, setelah jalan beberapa minggu, biaya itu kurang. Ditambah jadi Rp60 M. Lantas tidak terdengar kabar berita. Tapi tiba-tiba saja, dinyatakan dana yang dihabiskan mencapai Rp190 M.

Yang mengatakan ini adalah Project Management Office Formula E, Farid Subkhan.

Jadi bukan sekadar ‘kata seseorang’. Ini valid. Ini cuma biaya sirkuit ya.

Di pihak lain yang kita dengar jumlah tiket mencapai 50 ribu buah. Tapi kemudian Anies mengoreksinya menjadi 22 ribu orang. Tapi kita gunakan saja estimasi 50 ribu. Kita misalkan saja harga tiket rata-rata adalah Rp1 juta. Artinya pemasukan dari tiket barulah Rp50 miliar

Lalu pemasukan dari mana lagi? Tentu saja sponsor.
Ada 20 sponsor lokal. Ada bank, perusahaan kecantikan, perusahaan, teknologi, hingga perhotelan. Memang kabarnya ada sebuah perusahaan entertainment yang menggelontorkan dana sampai Rp100 miliar.

Perusahaan entertainment mana?Tidak jelas.

Tapi rasanya sih, kalau dilihat nama-nama perusahaannya, saya tidak yakin mereka akan mengeluarkan dana lebih dari Rp5 miliar di acara yang tidak terlalu menggelegar ini.

Jadi kalau ditanya, apakah biaya sirkuit itu bisa tertutup oleh pemasukan karcis dan sponsor, saya sih meragukan itu.

Tapi lagi-lagi setelah itu semua, marilah kita ingat sudah ada biaya commitment fee yang dikeluarkan Pemprov DKI. Jumlahnya mencapai Rp983,31 miliar. Kabarnya sudah ada renegosiasi sehingga bank garansi senilai Rp423 miliar dapat ditarik kembali, sehingga Pemprov DKI hanya mengeluarkan dana sekitar Rp560 miliar.

Apalagi kalau benar kabar yang mengatakan Pemprov DKI pasca Anies masih wajib menyelenggarakan balap Formula E selama 3 tahun ke depan. Dan bila tidak, kabarnya, Pemprov harus membayar denda yang bernilai triliunan rupiah.

Tapi terlepas dari soal denda tersebut, yang pasti rakyat Indonesia sudah mengeluarkan Rp560 miliar.

Jadi kalau sekarang, Longo mengatakan balap Formula E sebagai yang terbesar dan tersukses, pertanyaannya sederhana: terbesar dan tersukses di mana?

Komentar