NABI MUHAMMAD BOLEHKAN UMAT KRISTEN BERIBADAH DI MASJIDNYA

Oleh: Guntur Romli

Sejumlah warga di Desa Bringkang, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur melakukan aksi menolak pendirian gereja.

Alasannya lagi-lagi soal izin. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Kalau memang belum ada izin, harusnya dibantu izinnya. Bukan malah didemo.

Kalau tidak ada bangunan gereja, mestinya juga difasilitasi diberi tempat umat Kristen beribadah. Bukan malah didemo, dihentikan dan dilarang.

Karena Nabi Muhammad Saw memberikan contoh, saat ada rombongan umat Kristen dari Najran, mendatangi beliau di Madinah, kemudian di sana tidak ada gereja, umat Kristen itu mau beribadah, malah dipersilahkan kebaktian di Masjid Nabawi.

Lagi-lagi soal klasik. Perizinan rumah ibadah untuk sebuah gereja di Bringkang Menganti Gresik Jawa Timur, menjadi sebab aksi penolakan beberapa warga.

Soal ini sebenarnya masalah sepele. Kalau hanya soal izin, kenapa tidak dibantu izinnya?

Bukanlah kita punya tradisi musyawarah, tinggal rembug saja, kemudian saling tolong menolong, gotong royong yang menjadi kelebihan masyarakat kita yang sering kita banggakan?

Bukankah pula izin itu untuk rumah ibadah, tempat kebaikan dan keluhuran, bukan buat tempat diskotik, hura-hura atau prostitusi. Kenapa dilarang?

Saya kira kalau masalah itu hanya soal izin, maka itu masalah sepele. Tinggal dibantu persyaratan izinnya. Musyawarah, bertemu dan bercakap-cakap dari hati ke hati. Tanda tangan selesai.

Tapi kalau aksi itu sebagai wujud intoleransi, nah ini bukan masalah sepele lagi. Karena ini terkait dengan praduga dan asumsi serta ketakutan yang sering dibuat-buat.

Pendirian gereja sering dituduh sebagai “proyek kristenisasi” sehingga ada golongan masyarakat yang non-Kristiani merasa terancam.

Padahal rumah ibadah adalah fasilitas atau bangunan untuk ibadah bagi umat seagama yang mengunakannya bukan untuk umat agama yang lain.

Di Tanjung Priok Jakarta Utara ada gereja yang berdempetan dengan masjid. Dua bangunan itu hanya dipisahkan dengan tembok setinggi 1 meter saja yang artinya bisa saling menengok satu sama lain.

Namanya Masjid Al-Muqarrabin dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud (GMIST) Mahanaim yang sama-sama berdiri sejak tahun 1960. Meskipun berdempetan, umat Kristen dan Islam saling rukun.

Hingga saat ini, dua rumah ibadah itu tidak kehilangan umatnya. Jadi kekhawatiran kalau gereja melakukan kristenisasi atau masjid akan melakukan Islamisasi sehingga umat beragama yang lain bisa punah, ketakutan itu tidak terbukti sama sekali.

Gereja Mahanaim tetap ada umat dan didatangi jemaat Kristen. Demikian pula Masjid Al-Muqarrabin tetap menjadi tempat salat jemaah 5 waktu dan hari-hari besar Islam lainnya.

Jadi ketakutan apa lagi pada sebuah bangunan gereja, atau mungkin pada sebuah bangunan masjid?

Intinya pada masyarakatnya, mau rukun, damai, saling toleran dan menghargai. Membantu umat lain untuk beribadah juga dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Saat ada rombongan umat Kristen sejumlah 60 orang dari Najran dan mendatangi Nabi di Madinah, mereka mau melaksanakan ibadah kebaktian, sementara di Madinah zaman Nabi Muhammad Saw tidak ada gereja, umat Kristen itu diperbolehkan beribadah di dalam masjid Nabawi.

Mungkin dari umat Islam juga tidak banyak mendengar kisah ini. Tapi ini benar-benar kisah yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dan sumbernya.

Saya nukilkan kisah ini dari Tafsir Ibn Katsir, kitab tafsir yang sangat terkenal di dunia Islam, khususnya di Indonesia dan termasuk kitab tafsir yang otoritatif.

Ibnu Katsir adalah seorang ulama ahli tafsir (mufassir), hadits (muhaddits), sejarah (mu’arrikh) dan fiqih (faqih) dalam madzhab Syafii.

Beliau hidup dan berkarya di Damaskus Suriah pada paroh pertama abad ke-14 Masehi.

Selain karya tafsirnya yang terkenal, juga melahirkan karya dalam sejarah Al-Bidayah Wan Nihayah, Sirah Nabawiyah, Thabaqat Syafiiyyah, dalam hadits, ilmu Jarh wa Ta’dil, Ikhtishar Muqaddimah Ibn Shalah, Jami’ Sunan wal Masanid.

Intinya soal riwayat hadits, Ibn Katsir ini tidak diragukan.

Dalam Tafsir Ibn Katsir terbitan Dar Thibah Mesir, yang ditahqiq oleh Sami bin Muhammad As-Salamah Juz 2 halaman 50 yang membahas tafsir ayat 59-63 surat Ali Imran.

Ibn Katsir mengutip dari riwayat Ibnu Ishaq yang mengatakan di dalam kitab Sirah-nya yang terkenal dan mengatakan pula yang lainnya bahwa delegasi orang-orang Nasrani Najran datang kepada Rasulullah Saw terdiri atas enam puluh orang, mereka datang berkendaraan.

Di antara mereka ada empat belas orang laki-laki dari kalangan orang-orang yang terhormat di kalangan mereka yang merupakan dewan penasihat mereka dalam segala urusan.

Mereka adalah Al-Aqib yang nama julukannya adalah Abdul Masih (Hamba Mesias), As-Sayyid Al-Aiham, Abu Haritsah ibn Alqamah (saudara Bakr ibn Wail), Uwais ibnul Haris, Zaid, Qais, Yazid dan kedua anaknya, Khuwalid, Amr, Khalid dan Abdullah, serta Muhsin.

Dewan tertinggi di antara mereka ada tiga orang, yaitu Al-Aqib yang menjabat sebagai amir mereka dan pemutus perkara serta ahli musyawarah; tiada suatu pendapat pun yang timbul melainkan dari dia.

Orang yang kedua adalah Sayyid. Dia orang yang paling alim di antara mereka, pemilik kendaraan mereka, dan yang juga mempersatukan mereka.

Sedangkan orang yang ketiga ialah Abu Haritsah ibn Alqamah; dia adalah uskup mereka dan pemimpin yang mengajari mereka kitab Injil.

Pada asalnya dia adalah orang Arab, yaitu dari kalangan Bani Bakr ibnu Wail. Tetapi ia masuk agama Nasrani (Kristen), lalu orang-orang Romawi dan raja-rajanya menghormatinya serta memuliakannya.

Bahkan mereka membangun banyak gereja, lalu mengangkatnya sebagai pengurus gereja tersebut karena mereka mengetahui keteguhan agamanya di kalangan mereka.

قَدِمُوا عَلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة فَدَخَلُوا عَلَيْهِ مَسْجِده حِين صَلَّى الْعَصْر عَلَيْهِمْ ثِيَاب الْحِبَرَات جُبَب وَأَرْدِيَة مِنْ جَمَال رِجَال بَنِي الْحَارِث بْن كَعْب يَقُول مَنْ رَآهُمْ مِنْ أَصْحَاب النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْنَا بَعْدهمْ وَفْدًا مِثْلهمْ وَقَدْ حَانَتْ صَلَاتهمْ فَقَامُوا فِي مَسْجِد رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” دَعُوهُمْ ” فَصَلَّوْا إلَى الْمَشْرِق

“Mereka datang pada Rasulullah di Madinah dan masuk Masjid saat shalat Ashar, mereka memakai pakaian kependetaan: jubah yang sangat indah, mereka adalah orang-orang dari Bani al-Harits bin Ka’ab, di antara sahabat Nabi ada yang berkata kami tidak pernah melihat ada delegasi seperti mereka setelahnya, dan saat tiba shalat mereka, mereka melaksanakannya di masjid Nabi, Rasulullah bersabda “Biarkan mereka.” Dan mereka pun shalat menghadap ke Timur”.

Kita bisa membayangkan ada 60 orang pemeluk Kristen melakukan ibadah kebaktian di masjid Nabi Muhammad Saw zaman itu!

Dan sebenarnya pertemuan delegasi orang Kristen dan Nabi Muhammad Saw juga membicarakan polemik tentang jati diri Isa alaihissalam, apabila dalam Islam diyakini sebagai salah seorang nabi dan rasul, tapi kalau dalam Kristen diyakini sebagai manusia dan tuhan.

Pertemuan itu pun sampai ada perintah dari Allah Swt agar Nabi Muhammad Saw mengajak delegasi Kristen Najran itu melakukan mubahalah (sumpah memohon kutukan dan laknat dari Allah Swt apabila di antara mereka ada yang salah), namun delegasi Kristen Najran tidak menerima ajakan itu.

Artinya pertemuan itu bukan hanya pertemuan basa-basi tapi ada ketegangan dan polemik, tapi Nabi Muhammad Saw tetap menerima mereka dengan sangat baik dan mempersilakan delegasi itu melakukan ibadah kebaktian di dalam masjidnya

Karena itu kalau saat ini ada yang mengaku-mengaku orang Islam tapi melarang dan menghalang-halangi umat Kristen beribadah, apalagi sampai menutup gereja, sudah dipastikan tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw.

Kisah tadi juga menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad Saw dan kebesaran jiwanya sebagai pemimpin di zamannya yang menjadi rahmat dan menjadi berkah bagi semuanya, tidak hanya bagi orang Islam saja juga bagi komunitas keagamaan yang lain.

Komentar