KARNA WIJAYA DOSEN UGM PSIKOPAT & RADIKAL?

Oleh: Guntur Romli

Saya laporkan dosen dan guru besar UGM, Prof Karna Wijaya- selanjutnya saya sebut Prof KW- ke Polda Metro Jaya.

Ini alasan saya melaporkan…

Pada Senin 18 April 2022 saya melaporkan Prof Karna Wijaya (Prof KW) Dosen dan Guru Besar UGM itu ke Polda Metro Jaya Jakarta.

Laporan saya diterima dengan Nomor STTLP/B/1983/IV/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA

Saya melaporkan Prof KW karena saya merasa terancam akibat postingan dia di facebook yang memasang foto saya bersama foto Bang Ade Armando yang disilang dengan warna merah (X) dengan foto istri saya Nong Darol Mahmada, Eko Kuntadhi, Denny Siregar, Teddy Gusnaidy, Permadi Arya, Dewi Tanjung dan Husin Shihab dengan tulisan “SATU PERSATU DICICIL MASSA”.

Kemudian ada komen-komen Prof KW itu menyebut kata “disembelih” dan “dibedil saja”.

Pengeroyokan, penganiayaan dan perendahan martabat manusia pada Bang Ade Armando sungguh brutal dan sadis, saya merasa dengan postingan Prof KW itu–yang kemudian dia sudah mengakuinya—kalau memposting dengan memasang foto-foto kami, akan menjadikan kami jadi target selanjutnya.

Sebenarnya saya tidak ingin melaporkan Prof KW kalau dia terlihat seperti dosen kebanyakan yang fokus mendidik mahasiswa, tapi setelah saya baca ulasan sepak terjang Prof KW yang diduga terlibat dengan kelompok intoleran dan radikal sebagaimana ditulis oleh Kajitow Elkayanie dengan judul “Karna Wijaya Profesor Radikalis dari UGM” yang viral di facebook.

Kemudian di facebooknya, Prof KW memposting beberapa materi dari Felix Siauw tokoh Hizbut Tahrir Indonesia yang getol ingin menegakkan Khilafah.

Kemudian juga tersebar di media sosial lokasi Markas HTI Sleman di google map yang muncul malah logo Joglo Engking, restoran yang konon dimiliki pasangan Prof KW dan istrinya Titik Nurchasanah.

Adakah kaitan Prof KW itu gerakan dengan gerakan Hizbut Tahrir di Indonesia?

Dan saya merasa makin terancam setelah melihat facebook Prof KW yang berisi foto-foto dia dengan pelbagai senjata api. Saya tidak tahu apa itu senjata api yang asli atau jenis apa.

Tapi saya telah menjadikan foto-foto itu sebagai bukti tambahan pada pihak kepolisian: foto-foto Prof KW dengan senjata api tersebut agar bisa diperiksa lebih lanjut.

Kemudian saya menduga Prof KW itu seorang psikopat. Karena dia mengatakan bahwa postingan-postingan dia yang melecehkan Bang Ade Armando di saat dianiaya, dikeroyok dan diperlakukan dengan sadis dan biadab katanya untuk bahan gurauan.

Kemudian postingan dia yang bernada ancaman, dia sudah mengakuinya. Namun lagi-lagi dia menganggap hal itu sebagai candaan dan gurauan.

“Sembelih” “dibedil” sebagai bahan gurauan dengan memasang foto-foto “target”?

Ini sih candaan khas seorang psikopat.

Saya cek ciri-ciri psikopat dimulai dari hal-hal, alih-alih berempati dengan penderitaan orang lain, dia malah menjadikannya sebagai bahan tertawaan.

Jangan tertipu dengan pendidikan tinggi dan gaya bicara, karena orang psikopat juga bisa datang dari golongan ini.

Psikopat juga bisa mempesona dan pandai bicara. Penuh percaya diri yang tinggi dan arogan. Dan memiliki hobi yang sering membahayakan.

Saat menyimak wawancara Prof KW ini dengan media saat dipanggil pihak rektorat UGM pada Senin 18 April, sebelum saya melaporkan dia ke polisi, terlihat dari gaya bicara dan bahasa tubuhnya tidak mencerminkan dia merasa bersalah.

Terlihat dia memang sosok yang arogan dan dingin.

Dugaan tindak pidana yang dilaporkan kepada Prof KW itu adalah penghasutan dan atau pengancaman melalui media elektronik dan atau ujaran kebencian melalui media elektronik dengan Pasal 160 KUHP dan atau Pasal 29 Jo Pasal 45 Ayat (3) dan atau Pasal 28 Ayat (2) Jo Pasal 45 Ayat (2) UU ITE.

Sebagai pelapor, saya berharap dan saya percaya pihak Kepolisian menindaklanjuti laporan saya.

Kepada pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) yang saat ini masih melakukan penelitian dan pertimbangan, saya mohon dipertimbangkan status dosen dan guru besar Prof KW itu.
Apakah dia masih layak mendidik mahasiswa dengan dugaan-dugaan tindak pidana tadi dan menciderai keluhuran etis lembaga pendidikan?

Semoga menjadi bahan pertimbangan.

Komentar