BANDAR TEKOR, DEMO MAHASISWA DUKUNG JOKOWI, GELANDANGAN POLITIK GIGIT JARI

Oleh: Guntur Romli

Menurut kabar dari langit: Bandar-bandar demo berupaya menunggangi demo mahasiswa. Isunya bukan lagi soal isu penolakan pengunduran Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden, tapi ingin menjatuhkan Jokowi dan terus mendiskreditkan pemerintahan Jokowi.

Kini, Jokowi kembali menegaskan penolakan penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Artinya demo mahasiswa mendukung pernyataan Jokowi itu. Dan bandar-bandar demo pun tekor!

Dalam situasi yang normal, kalau ada demo-demo kita tak yakin itu merupakan gerakan yang murni.

Karena demo seperti jalan terakhir di tengah kondisi yang darurat. Di mana kran-kran demokrasi disumbat, maka demo pun gerakan menusuk untuk saluran-saluran yang mampat.

Reformasi 98 contohnya. Dimulai dari demo-demo mahasiswa terhadap rezim Orde Baru yang menyumbat demokrasi.

Demo yang murni berasal dari desakan hati nurani. Gerakan mahasiswa yang bersumber dari kehendak rakyat.

Namun kalau demo berdasarkan sas-sus, atau gosip politik elit, maka kita pun bisa menebak, ini demo pesanan saja.

Seperti halnya demo 11 April ini, yang lebih berdasarkan desas-desus dan gosip politik belaka.

Konon, demo ini untuk menolak isu penundaan Pemilu 2024 dan isu perpanjangan masa jabatan presiden.

Isu itu, jauh-jauh hari sudah ditolak oleh Presiden Jokowi. Bahkan Jokowi menegaskan, isu itu seperti menampar wajahnya, dan untuk menjerumuskannya.

Siapa yang berkepentingan Pemilu ditunda dan perpanjangan masa jabatan presiden?

Ya tentu saja lingkaran kleptokrasi yang menjadi benalu dalam pemerintahan Jokowi.

Siapa yang tidak mau jabatannya diperpanjang tanpa capek-capek menggelar Pemilu?

Misalnya diperpanjang 3 tahun, tanpa pemilu, tinggal ongkang-ongkang kaki, setoran lancar saja.

Tapi bahayanya kekuasaan seperti ini tidak punya legitimasi. Kalau mencari-cari alasan, bisa saja Pemilu ditunda, tapi alasan yang paling kuat, kemungkinan besar akan terjadi protes besar-besaran dan bisa muncul kerusuhan.

Pemilu kan disebut pesta rakyat, yang hanya terjadi 5 tahun sekali. Kok bisa-bisanya mau menunda pesta rakyat?

Pak Jokowi sangat sadar dengan tuntutan itu. Makanya sejak awal merespon perpanjangan masa jabatan presiden yang waktu itu muncul istilah Jokowi 3 Periode.

Pak Jokowi langsung menolak, bahkan mengingatkan yang mengusulkannya seperti menampar wajahnya, ingin cari muka dan menjerumuskannya.

Hal itu ditegaskan Presiden Jokowi pada 2 Desember 2019.

“Ada yang ngomong presiden dipilih 3 periode, itu ada 3. Ingin menampar muka saya, ingin cari muka, padahal saya punya muka. Ketiga ingin menjerumuskan. Itu saja, sudah saya sampaikan,” kata Jokowi waktu itu.

Yang melemparkan isu itu menurut Wakil Ketua MPR Arsul Sani dari salah seorang anggota DPR Fraksi NasDem.

Penegasan itu kembali disampaikan Jokowi kemarin, hari Minggu 10 April 2022, soal penolakan penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

Namun isu penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden terlanjur menjadi isu liar yang memang disuarakan oleh “orang-orang yang mencari muka” di lingkaran Presiden Jokowi, yang terus digoreng oleh mereka yang ingin menampar Presiden Jokowi dan ingin menjerumuskan Presiden Jokowi.

Puncaknya adalah demo hari ini, yang digerakkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Indonesia. Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dari demo mahasiswa.

Yang perlu diwaspadai adalah yang berusaha menungganginya.

Seperti halnya demo Mahasiswa tahun 98 yang merupakan murni gerakan Reformasi. Tapi kerusuhan yang terjadi waktu itu, khususnya Kerusuhan Mei ’98 karena ada kelompok yang menunggangi dan mengambil manfaat dari demo mahasiswa.

Bandar-bandar demo yang sejak dulu membenci Jokowi, ingin menunggangi kembali demo hari ini.

Dari kabar langit, mereka sudah melakukan persiapan jauh-jauh hari. Menyiapkan dana, settingan, dan orang-orang.

Tentu Presiden Jokowi tahu hal itu. Namun seperti dibiarkan. Karena ingin melihat peta dan jaringan yang bermain.

Seperti biasa, Presiden Jokowi sebelum ini sibuk dengan urusan kerja. Merespon naiknya harga minyak goreng dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan subsidi untuk BBM karena harga minyak dunia sedang tinggi karena konflik militer Rusia dan Ukraina.

Mereka yang bermain pelan-pelan masuk jebakan yang dipasang Jokowi.

Ketika semua sudah jelas, siapa yang beriman, jaringan siapa, bandarnya siapa.

Kurang dari 24 jam dari hari H demo, Jokowi kembali menegaskan penolakan terhadap penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

Kelompok yang ingin memukul Jokowi dengan isu penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan tersentak! Padahal dana untuk demo sudah digelontorkan, persiapan lapangan, pengerahan massa sudah dilakukan.

Tapi isu utama malah diambil oleh Presiden Jokowi. Ambyaaaaar…

Demo yang tujuannya untuk menjerat Jokowi ternyata seperti sarang laba-laba yang kena terkaman burung garuda. Hancur lebur.

Gelandangan politik gigit jari. Bandar demo merasa tekor. Konspirasinya layu sebelum berkembang. Padahal dana sudah digelontorkan.

Demo pun ambyar.

Apa yang mau jadi teriakan demo?

Harga BBM naik? Itu memang untuk produk non subsidi, produk subsidi seperti biosolar dan petralite tidak naik. Yang non subsidi naik karena minyak dunia naik.

Harga minyak goreng naik? Pemerintah Jokowi sudah membagikan BLT (bantuan langsung tunai).

Isu penundaan Pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden? Presiden Jokowi sudah dengan tegas menolaknya.

Artinya demo hari ini, alih-alih menyerang Jokowi, malah merupakan dukungan yang nyata terhadap Jokowi.

Komentar