VIDEO INI AGAK KONTROVERSIAL

Oleh: Denny Siregar

Bentar lagi umat muslim di Indonesia dan juga di seluruh dunia akan memasuki bulan Ramadan. Bulan Ramadan ini bisa dibilang adalah bulan fasilitas dari Tuhan. Bulan pengampunan. Segala dosa sebelumnya punya potensi untuk dibersihkan atau disucikan. Tapi ada syaratnya untuk bisa disucikan, yaitu manusianya dulu yang harus berusaha untuk menahan nafsu mereka supaya proses penyuciannya menjadi mudah.

Salah satu cara untuk menahan nafsu adalah dengan puasa makan dan minum. Puasa makan dan minum itu adalah proses paling rendah dan paling mudah di dalam penyucian. Yang tertinggi dan tersulit adalah penyucian hati yang sudah lama berkarat karena rasa sombong, iri, juga dengki.

Karena itu saya ketawa aja ketika membaca berita kalau Majelis Ulama Indonesia di Bekasi dan Lebak melarang warung makan buka di siang hari untuk menghormati orang puasa. Lah, puasa itu adalah fasilitas dari Tuhan, kenapa mesti minta dihormati? Fasilitas itu harusnya dinikmati, bukannya minta dihormati. Semakin banyak godaan yang muncul di depan mata, semakin teruji keimanannya dan semakin mudah proses penyuciannya. Kalau kita harus menyingkirkan godaan-godaan di depan mata supaya kita tidak tergoda, ya sama ajalah gak berarti apa-apa.

Heran saya, kok sekelas ulama di Majelis ulama gak paham hal sederhana beginian? Harusnya karena mereka itu ulama, mereka yang ngajarin saya beginian. Tapi karena mereka, para ulama di Bekasi dan Lebak itu, hanya fokus pada makan dan minum aja, ya saya akhirnya bisa menilai kualitas keulamaan mereka yang hanya sibuk di hal-hal syariat-syariat aja, tidak paham hakikat di dalam beragama.

Coba bayangkan, bayangkan nih ya, seorang muslim yang harus berpuasa di negara yang mayoritas bukan muslim. Apa mereka harus menyuruh semua orang di negara itu untuk menutup warung makannya hanya supaya menghormati dia yang sedang berpuasa? Kan, gila?

Mereka yang sedang berpuasa di negara orang, di negara yang mayoritas nonmuslim, bukan saja digoda oleh pameran makanan di sekitarnya, tapi juga banyak godaan nafsu lainnya. Tapi mereka oke-oke aja kok, puasa ya puasa aja, gak perlu meributkan orang lain karena puasa itu untuk diri sendiri dan tidak terikat dengan orang lain.

Coba bayangkan lagi, ketika ada seorang muslim yang tinggal di sekitar kutub utara, yang hampir 24 jam mataharinya kelihatan. Malamnya cuman 50 menit saja. Bagaimana mereka bisa buka puasa? Jelas puasa mereka panjang dan butuh petunjuk untuk bisa menjalankan bulan Ramadan di sana. Belum lagi kalau mereka mau buka puasa, mereka harus mencari makanan yang halal karena di negara yang mayoritas nonmuslim, makanan halal itu gak gampang untuk didapatkan.

Jadi sebenarnya enak banget berpuasa di negara mayoritas muslim seperti di Indonesia ini. Godaannya gak banyak, karena mayoritas juga sedang berpuasa dan tidak banyak kegiatan. Dan seharusnya ketika godaan tidak banyak ini, umat muslim di negara yang mayoritas muslim harusnya gelisah. Kok puasa gak ada godaan sih? Ini puasa apaan, ujiannya gak ada?

Kalau begitu, ayo buka warung makanan saat Ramadan. Layani orang-orang yang Sedang tidak berpuasa. Dengan melihat begitu enaknya orang makan dan minum, maka ujian keimanan akan semakin kuat. Itu baru namanya puasa, membangun ujian di tengah orang yang Sedang tidak berpuasa.

Contohlah orang Kristen di Indonesia. Mereka bisa dibilang orang Kristen yang imannya jauh lebih kuat daripada orang Kristen yang tinggalnya di Vatikan, di Amerika, dan di negara-negara mayoritas Kristen lainnya. Gimana gak kuat? Tiap hari, sehari lima kali, mereka harus mendengarkan azan dari toa yang kerasnya kayak konser Metallica. Tapi mereka tetap Kristen dan tidak terpengaruh untuk pindah agama.

Belum lagi ketika mereka bangun rumah ibadah dan dilarang-larang, bahkan dipersekusi. Tapi mereka juga tetap Kristen dan godaan itu mereka terima dengan tujuan memperkuat keyakinan mereka. Mana berani mereka menyuruh masjid-masjid disekitar supaya toanya dikecilkan? Wah, bisa kayak kasus Meliana di Tanjungbalai yang akhirnya jadi kerusuhan.

Jadi, gak usah bangga deh jadi orang Islam di Indonesia. Karena ternyata kita ini cuma pengen fasilitasnya doang, tapi gak mau ujiannya. Apalagi kayak FPI dulu, ketika mereka berkuasa pakai obrak-abrik warteg segala. Puasa apaan tuh? Puasa kok malah nyakitin hati orang.

Sebentar lagi masuk bulan Ramadan, wah saya gak bisa seruput kopi lagi kalo gitu karena juga ikutan puasa. Karena itu sekarang, mumpung belum masuk bulan Ramadan saya seruput dulu kopinya.

Komentar