TIKUS DALAM ANGGARAN GORDEN DPR

Oleh: Ade Armando

Apa yang dilakukan DPR keterlaluan. Kini tersiar kabar bahwa para wakil rakyat itu menetapkan anggaran hampir 49 miliar rupiah untuk mengganti gorden rumah dinas para anggota.

Tepatnya 48,7 miliar rupiah untuk 550 unit rumah di perumahan DPR Kali Bata. Artinya sekitar 88 juta rupiah per rumah. Cuma untuk gorden!

Para anggota DPR itu seperti sama sekali tidak punya kepekaan. Mereka bilang, gorden itu sudah tidak diganti selama tujuh tahun terakhir.

Ya memang kenapa? Kalian malu bahwa gorden kalian sudah usang? Memang sudah kelihatan seperti rombeng busuk? Kalian pikir gorden di rumah rakyat yang kalian wakili diganti berapa lama sekali?

Kalian tidak bisa ya menunda hal-hal tidak penting seperti ini nanti ketika kondisi ekonomi Indonesia sudah membaik. Ini sih memang memalukan.

Selain itu dianggarkan pula 11 miliar rupiah untuk pengaspalan jalan di kompleks parlemen. Apa pula ini? Memang jalan di kompleks parlemen bolong-bolong sehingga membahayakan kendaraan para anggota DPR?

Memalukannya lagi, DPR mengatakan perbaikan jalan ini perlu dilakukan karena DPR kita yang terhormat akan menerima kunjungan parlemen dai 40 negara di Juli mendatang. DPR tidak ingin citra DPR Indonesia buruk hanya karena kualitas jalannya.

Maap, map ya, kualitas jalan di parlemen jauh dari buruk. Baik-baik saja, kok. Yang buruk ya kelakuan para anggotanya.

Tapi di luar urgensi beli gorden, yang lebih menarik lagi adalah menghitung-hitung ketidakmasukakalan biaya yang dianggarkan. DPR menjelaskan, gorden digunakan untuk 11 titik ruangan.

Rumah anggota DPR itu terdiri dari dua lantai. Di lantai satu, gorden baru akan digunakan untuk ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja, ruang tidur utama, dapur, tangga, dua ruang tidur anak, ruang keluarga, dan, ruang asisten rumah tangga

Kalau biaya gorden per rumah adalah 88 juta rupiah, artinya harga per gorden adalah 88 juta rupiah dibagi 11 titik. Jumlahnya delapan juta rupiah per gorden.

Masuk di akal?

Saya sebenarnya sih tidak paham harga. Tapi kalau saya search di marketplace online, harga gorden sih hampir tidak ada yang lebih dari 1 juta rupiah. Itu pun sudah kualitas impor.

Atau saya gunakan saja estimasi Indonesia Corruption Watch. Menurut ICW harga gorden paling tinggi adalah dua juta rupiah. Lagi-lagi, itu pasti impor.

Kalau anggaran biaya yang diajukan DPR per gorden diperkirakan 8 juta rupiah, sementara harga gorden di pasar, paling mahal adalah 2 juta rupiah, maka selisih biaya per gorden adalah 6 juta rupiah!

Coba perhatikan, anggaran yang diajukan DPR adalah empat kali lipat dari harga pasar. Jadi kalau ini jadi dibelanjakan, uang yang menguap bisa mencapai 36,5 miliar rupiah.

Kalau hitung-hitungan ini benar, yang dibelanjakan membeli gorden hanyalah 12 miliar rupiah, sementara yang 36 miliar mengalir entah ke mana. Proyek tersebut saat ini masih dalam proses evaluasi, administrasi, kualifikasi, teknis dan harga.

Ada 49 peserta tender pengadaan gorden baru. Keputusan baru akan diambil 11 April nanti. Kita tentu berharap usulan anggaran ini akan ditolak pemerintah.

Tapi terlepas dari diterima atau tidak, yang sekarang harus menjadi pusat kepedulian kita adalah, kok bisa ya DPR merancang anggaran sedahsyat ini kecurangannya?

Dan ini kembali mengingatkan kita kembali pada tuduhan tentang kebusukan DPR. Tidak berlebihan rasanya untuk menduga anggaran gorden absurd semacam itu dirancang untuk dikorupsi.

Bahkan dalam skala yang luar biasa. Kalau hitung-hitungan tadi benar, akan ada 36 miliar rupiah kelebihan bayar. Uang menguap sampai 36 miliar itu dilakukan agar jatah bisa dibagi ke mana-mana.

Artinya uang tidak hanya akan dinikmati oknum-oknum tertentu. Yang dapat jatah, berjamaah. Ini tidak berarti semua anggota DPR tahu dan sadar dengan upaya tindak korupsi ini.

Ada banyak juga anggota DPR yang kerja lurus-lurus saja. Mungkin prinsip hidup mereka adalah: yang penting saya kerja baik, tidak perlu peduli dengan kelakuan yang lain.

Tapi ketidakpedulian mereka menyebabkan praktik ini terus tumbuh subur.

Apalagi aliran uang ini mungkin sekali mengalir ke partai. Akibatnya, kalaupun ada anggota DPR yang sebenarnya terusik nuraninya, dia akhirnya memilih diam karena tidak berani melawan partai.

Yang memblowup skandal gorden ini bukanlah anggota DPR. Yang mengangkatnya adalah media yang mungkin mendapat bocoran tentang anggaran yang termuat di website lpse.dpr.go.id

Untungnya ada tukang bisik sehingga rakyat Indonesia tahu kebobrokan DPRnya. Dan hal semacam ini yang membuat kita harus ingat, pilihlah anggota DPR berkualitas dan berintegaritas dari parpol yang berkualitas dan berintegritas.

Kita, rakyat Indonesia, punya andil dalam skandal memalukan ini. Ketika kita memilih dalam pileg, kita sering tak berpikir secara rasional. Kita lebih sibuk memikirkan ideologi partai, atau kedekatan kita dan keluarga dengan partai, atau karena kandidat yang terkenal.

Kita lalai memikirkan hal-hal yang lebih substantive. Kita harus memilih wakil rakyat yang berkualitas dan berintegritas dari partai yang berkualitas dan berintegritas.

Memang stock orang baik di daftar calon anggota parlemen tidak banyak. Tapi ada.

Kita harus lawan kejahatan di dalam DPR. Karena itu, kita harus awasi mereka terus. Dan kita harus pilih nanti orang-orang terbaik untuk mewakili kita.

Komentar