ORANG KRISTEN SEKARANG SAMA DENGAN KRISTEN ZAMAN NABI MUHAMMAD, KATA GUS DUR

Oleh: Guntur Romli

Orang Kristen mendapat pujian dalam Al-Quran, dengan sebutan Ahlul Kitab. Apakah orang Kristen sekarang sama dengan orang Kristen zaman Nabi Muhammad Saw yang disebut dengan Ahlul Kitab?

Kalau menurut Gus Dur: sama saja. Begini penjelasannya.

Sahabat saya Gus Nanang Priyo Utomo, keponakan Prof Mahfud MD menyampaikan pertanyaan dari kawan-kawannya, apakah Kristen zaman sekarang itu termasuk Ahlul Kitab, atau orang Kristen zaman sekarang itu sama dengan orang Kristen zaman Nabi Muhammad Saw yang termasuk Ahlul Kitab?

Sore kemaren kami berdiskusi asyik. Saya singgung juga jawaban Gus Dur, almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid, saat ditanya soalan yang sama.

Dan Gus Dur mengaku sering ditanya seperti itu: Apa orang Kristen sekarang itu sama dengan Nasrani, yang termasuk Ahlul Kitab dalam Al-Quran, atau di zaman Nabi?

Jawaban Gus Dur selalu konsisten “sama saja”.

Jawaban Gus Dur itu berdasarkan fakta sejarah Kekristenan dan juga pendapat-pendapat ulama khususnya ahli-ahli tafsir Al-Quran yang menegaskan persamaan orang Kristen zaman sekarang dengan Ahlul Kitab yang dimaktubkan dalam Al-Quran dan orang-orang Kristen yang disebut sebagai Nasrani pada era Nabi Muhammad Saw.

Istilah Kristen berasal dari bahasa Latin “Christos” dan terjemahan kata kerja bahasa Yunani “Хριστός” (kharistus) yang berasal dari Ibrani “מָשִׁיחַ” (maasyiih) yang bahasa Arabnya juga المسيح yang artinya orang yang diurapi dengan minyak suci.

Al-Masih juga dipakai dalam Al-Quran sebagai al-Masih Isa Ibnu Maryam المسيح عيسى ابن مريم dan Al-Masih Ibn Maryam المسيح ابن مريم yang merupakan gelar bagi Isa Ibnu Maryam atau Yesus Putra Maria, atau Isa al-Masih atau Yesus Kristus. Yesus yang Diurapi.

Masyaha yang diurapi dalam bahasa Ibrani sama dengan masaha-yamsahu dalam bahasa Arab yang artinya membasuh. Misalnya salah satu rukun wudhu’ dalam ayat disebutkan ‘wamsahuu biruusikum..’ basuhlah bagian kepalamu dengan air…

Orang Kristen artinya pengikut Kristus, Yang Diurapi, al-Masih kalau dalam bahasa Arab. Karena itu orang Kristen di negara Arab saat ini disebut sebagai al-masihi المسيحي yang artinya orang Kristen. Pengikut Kristus.

Sedangkan kata Nashara yang dipakai dalam Al-Quran merujuk pada Nazaret dalam bahasa Arab disebut an-nashirah. Karena itu selain sebagai gelar al-Masih, alias Kristus, Yesus juga dijuluki an-Nashiri artinya orang dari Nazaret. Yasu’ an-Nashiri.

Nashara adalah bentuk jamak dari Nasrani, yang artinya Pengikut Yesus dari Nazaret. Sementara an-Nashraniyyah النصرانية adalah ajaran yang dinisbatkan kepada Yesus dari Nazaret.

Bagi umat Kristen di Arab saat ini sangat enggan disebut sebagai Nasrani. Mereka lebih suka disebut Masihi atau pengikut al-Masih, Pengikut Kristus.

Istilah Nasrani bagi orang Kristen Arab sebenarnya lebih pada sebutan peyoratif, karena lebih menisbatkan Yesus sebagai orang Nazaret, atau an-Nashiri bukan sebagai Yesus sebagai al-Masihi, Sang Kristus, Mesias yang Diurapi.

Ketegangan orang Kristen Arab pada istilah Nasrani tidak kita temukan pada orang Kristen yang ada di Indonesia.

Sahabat-sahabat saya para pemuka agama Kristen, menyebut istilah Nasrani yang merujuk pada “Yesus dari Nazaret” merupakan istilah yang tidak masalah, dipakai juga dalam Alkitab serta dianggap sebagai penggenapan terhadap nubuat bahwa Yesus adalah Sang Mesias.

Dalam Matius 2 ayat 23 disebutkan:

“Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret”.

Nazaret dalam bahasa Ibrani berarti “tunas” atau “taruk yang tumbuh”.

Netzeri dalam bahasa Ibrani atau an-Nashiri dalam bahasa Arab, artinya bisa orang dari Nazaret atau Sang Tunas.

Yesus adalah “Tunas yang keluar dari tunggul Isai”: ayah Raja Daud, “dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam kitabnya pasal 11 ayat 1.

Namun apapun sebutannya, baik Kristen dan Nasrani maksudnya adalah sama, Pengikut Yesus al-Masih (Kristus) atau Yesus An-Nashiri (Orang Nazaret) atau Yesus Sang Tunas.

Orang Kristen dalam Al-Quran disebut dengan bentuk jamak nya an-Nashara النصارى orang-orang Nasrani yang dijanjikan keselamatan selama Beriman kepada Allah, Hari Akhir dan Berbuat Baik bersama orang Yahudi dan Shabi’in.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sungguh, mereka yang beriman (Islam), mereka yang menganut agama Yahudi, orang Kristen dan Shabiin, siapa saja yang beriman pada Allah dam Hari Akhir, serta melakukan kebaikan, bagi mereka ada pahala pada Allah, tiada mereka perlu dikuatirkan dan tiada mereka berduka-cita. (QS. Al-Baqarah: 62)”.

Janji ini tegaskan kembali dengan redaksi yang hampir sama dalam surat Al-Ma’idah ayat 69.

Orang Kristen disebut dalam Al-Quran dengan “Ahlul Injil” yang dinisbatkan pada kitab suci mereka Injil.

Al-Quran juga menegaskan Injil sebagai “petunjuk” dan “cahaya” (hudan wa nûr) dan “penguat” (mushaddiq) terhadap ajaran Taurat serta “suatu petunjuk dan peringatan bagi orang yang bertakwa”.

وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

… dan Kami berikan kepadanya (Isa Ibnu Maryam) Injil yang mengandung petunjuk dan cahaya dan untuk menguatkan Taurat yang datang sebelumnya, suatu petunjuk dan peringatan bagi orang yang bertakwa. (QS. Al-Mâ’idah: 46).

Kemudian kaum Kristen yang disebut dengan istilah Ahlul Injil diperintahkan untuk mempraktekkan hukum Injil, bukan hukum Al-Quran!

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ

Hendaklah orang yang berpegang kepada Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. (QS. Al-Mâ’idah: 47).

Orang Kristen disebut sebagai Ahlul Kitab yang diakui dalam bidang sosial, politik, dari soal makanan dan pernikahan dari Ahlul Kitab termasuk sembelihannya halal bagi orang muslim, dan diperbolehkan menikahi perempuan Ahlul Kitab yang disamakan dengan perempuan muslim (muslimah) yang menjaga kehormatannya. Dalam surat Al-Ma’idah ayat 5.

Sebagai Ahlul Kitab, maka Islam mengakui kesuciaan rumah-rumah ibadah dengan memberikan bukti yang tegas bahwa perjuangan senjata yang sering disebut dengan jihad, disyariatkan untuk memelihara kesucian rumah-rumah ibadah ini.

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا

“Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) antara manusia, pastilah telah diruntuhkan biara-biara-biara Nasrani, gereja-gereja, dan sinagog-sinagog orang Yahudi, serta masjid-masjid di mana nama Allah banyak disebut di dalamnya (QS. Al-Hajj: 40)”.

Secara khusus, dan spesial orang Kristen dibedakan dengan orang Yahudi dan orang musyrik Mekkah di zamannya yang sangat memusuhi orang Islam, sementara orang Kristen disebutkan lebih mencintai orang Islam.

وَلَتَجِدَنَّ اَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّا نَصٰرٰىۗ

“Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat cintanya dengan orang-orang yang beriman (Orang Islam) ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.”

QS Al-Ma’idah: 82.

Fakta sejarah juga, tidak ada permusuhan apalagi peperangan zaman Nabi Muhamad Saw dengan orang-orang Kristen.

Sewaktu Nabi Muhammad Saw bersama pengikutnya dimusuhi oleh orang-orangnya sendiri, kaum musyrik di Mekkah, ada dua kali rombongan umat Islam Mekkah yang hijrah (pindah) dan minta suaka politik kepada Raja Negus (Najasyi) yang memeluk Kristen di Negeri Habsyah (Abyssinia) atau Ethiopia saat ini.

Rombongan pertama dipimpin oleh menantu Nabi, Sayyidina Utsman bin Affan dan istrinya, putri Nabi Sayyidah Ruqayyah Rahuma. Rombongan kedua dipimpin oleh sepupu Nabi, Sayyidina Ja’far bin Abi Thalib Ra.

Ketika orang-orang musyrik Mekkah mengejar untuk mengambil mereka, Raja Negus yang Kristen menolak dan mengusir orang-orang musyrik Mekkah serta memberikan perlindungan kepada umat Islam karena tersentuh ajaran Islam karena memiliki surat khusus terkait Bunda Yesus, yaitu Surat Maryam (Maria).

Kemudian ada utusan orang-orang Kristen dari Najran yang mendatangi Nabi Muhammad Saw di Madinah, saat mereka akan kebaktian dipersilakan kebaktian di dalam masjid Nabawi di Madinah.

Apakah orang Nasrani, orang Kristen yang disebutkan oleh ayat-ayat Al-Quran tadi sama dengan orang-orang Kristen sekarang?

Sama saja.

Kalau kita membaca sejarah Kekristenan dan Islam, bahwa Islam turun pada pertengahan abad ke-7 Masehi.

Yesus lahir sebagai asal muasal tahun Masehi. Artinya Islam turun setelah tujuh abad lebih kelahiran Yesus sebagai pembawa ajaran Kekristenan.

Meskipun saat ini Kristen banyak denominasi, seperti halnya di Islam, yang memiliki banyak firqah, madzhab dan thariqah, namun keyakinan pengikut Kristen, atau bisa disebut dengan Syahadat Kekristenan, atau Kredo, atau pengakuan iman dalam sejarah Kekristenan, merujuk pada rumusan-rumusan ungkapan iman yang terjadi pada abad ke-4 dan abad ke-5 baik melalui Konsili Nikea, Konsili Kostantinopel, Konsili Efesus, dan Konsili Kalsedon yang artinya perumusan keyakinan Kekristenan bisa disebut sudah “selesai” dua abad setengah sebelum Islam datang pada pertengahan abad ke-7 Masehi.

Artinya Kekristenan yang menyebar saat itu, yang kalau kita baca sejarahnya juga, bersama kekuatan politik, sosial dan senjata, apalagi setelah Kaisar Romawi Kostantinus Agung pada paroh pertama abad ke-4 Masehi menjadikan agama Kristen menjadi dominan di wilayah Romawi bahkan bisa disebut menjadi “agama resmi negara”.

Kesimpulannya, Kekristenan saat ini sama saja dengan Kekristenan yang dikenal oleh Nabi Muhammad Saw yang kemudian diwahyukan dalam Al-Quran.

Mereka disebut sebagai Nashrani, Ahlul Kitab dan Ahlul Injil.

Komentar