GAK USAH PAMER LAH, MALU AMA TETANGGA…

Oleh: Denny Siregar

Saya ketawa sendiri ketika melihat sebuah survey internasional yang dikeluarkan tahun 2019. Dari hasil survey mereka, mereka menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk paling relijius dari 34 negara di dunia, diatas Timur Tengah, Afrika dan Eropa. Ini sepertinya prestasi yang paling membanggakan Indonesia, dibalik banyak kalahnya kita dalam hal prestasi lain semisal olahraga misalnya. Dalam dunia olahraga, kita masih lah bisa sedikit membanggakan lewat bulutangkis meski tidak seperti jaman tahun 1980an dulu waktu ada Rudi Hartono dan Liem Swie King. Tapi kalau sudah sepakbola, kita gak bisa bicara apa-apa, hanya harapan yang melambung tinggi dan jatuh terhempas ketika gawang dibobol lawan berkali-kali.

Tapi ada kontradiksi disini. Meski disebut sebagai negara paling relijius di dunia, kalau dalam masalah penduduk yang paling banyak baca, nama Indonesia hilang tenggelam ditengah deretan negara seperti Finlandia, Swedia, Belanda dan banyak negara lain. Seharusnya, kalau dibilang relijius, orang Indonesia itu harus banyak membaca terutama bacaan tentang agama yang meningkatkan pengetahuan sehingga menambah keyakinan mereka. Lalu, apa yang dimaksud relijius jika tanpa pemahaman agama ?

Relijius yang dimaksud disini sebenarnya hanyalah berupa syariat-syariat saja. Ibadah dalam bentuk ritual, tanpa didasari keilmuan pemahaman tentang kenapa ritual itu harus dilakukan.

Bahkan survey internasional itu juga menyebut, “Orang-orang di negara dengan EKONOMI BERKEMBANG dalam survei ini cenderung lebih religius dan cenderung mempertimbangkan agama sebagai hal yang penting dalam hidup mereka.” Ini yang sebenarnya menyakitkan kalau kita melihatnya sebagai sebuah sindirian. Kenapa konsep relijius hanya banyak terjadi di negara berkembang ? Kenapa kok tidak ada di negara maju, yang ekonominya mapan ? Apakah selalu relijius itu sejajar dengan kemampuan ekonomi yang cuman berkembang ?

Kenapa negara yang bahkan pemerintahnya tidak begitu penting dengan agama, seperti Singapura, malah menjadi negara maju ? Bahkan sebuah lembaga survey internasional dari Amerika, negara paling Islami di dunia bukanlah Indonesia, padahal Indonesia adalah negara paling relijius. Negara paling Islami di dunia adalah Selandia Baru. Padahal di Selandia baru, penduduk muslimnya cuman 1 persen dari total jumlah penduduknya.

Kontradiktif kan, kita adalah negara relijius tapi ternyata tidak islami?

Pertanyaan kenapanya bisa saya jawab disini. Relijius, sekali lagi, hanya bersifat ritual saja, syariat saja. Bahwa ritual itu berdampak pada perilaku sehari-hari, owww belum tentu. Coba tanya di negara relejius ini, berapa banyak korupsi yang terjadi ? Bagaimana cara buang sampah disini ? Apakah penduduknya sudah pake budaya antri ??

Selandia baru disebut negara islami, karena mereka tidak mengandalkan ritual sebagai kehidupan sosial mereka. Tapi nilai-nilai dalam Islam lah yang mereka praktekkan, meski mereka tidak beragama Islam. Korupsi disana nol persen, tingkat kebersihannya gila bahkan Selandia baru termasuk negara pengekspor daging halal ke seluruh dunia, juga nilai kehormatannya kepada orang tua termasuk yang tinggi. Itulah yang disebut Islami, nilai-nilai ke Islaman yang menguat, yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, yang kita sebut adab dan ahlak.

Lalu apa yang terjadi di negara relijius ini ??

Bayangkan, masuk bulan Ramadhan aja, ulamanya masih sibuk melarang warung makan buka siang hari. Puasa bagi mereka masih hanya sebatas ritual, syariat, cuman di ranah lapar dan haus saja, ga ada nilainya. Ada juga yang pamer shalat di tengah jalan, entah dengan alasan apa. Ada lagi yang pamer baca Quran di pusat perbelanjaan di Yogyakarta.

Mana nilai Islaminya ?? Ga ada. Apa yang mereka lakukna itu cuman ingin menunjukkan bahwa mereka relijius, tanpa nilai sama sekali. Kalau disuruh shalat, cepat. Tapi kalau korupsi, jauh lebih cepat. Bahkan pembangunan masjid dan pengadaan Al quran pun di korupsi juga. Belum lagi banyak kasus ustad selangkangan yang senang memperkosa santriwatinya di pondok pesantren. Entah, kenapa di Indonesia konsep relijiulitas tidak sejajar dengan nilainya, malah jauh sekali.

Itulah mungkin kenapa kita sulit maju, hanya bangga dengan gelar negara berkembang saja. Karena untuk maju, kita harus bisa memahami nilai dari agama dan dipraktekkan dalam bentuk teknologi, science dan segala macam keahlian di dunia. Banyak dari kita yang lebih suka bicara akhirat, serahkan pada Tuhan segalanya, meski Tuhan sudah memberikan akal, kaki dan tangan supaya kita usaha.

Di kita ini lebih banyak pemimpi surga daripada pekerja. Meski lucunya, disuruh berangkat duluan kesana, ga ada satupun yang mau..

Ah, seruput kopi dulu biar gak gila..

 

Komentar