KHALID BASALAMAH, ABU JANDA DAN ARAB

Oleh: Ade Armando

Kali ini saya hendak bicara soal Khalid Basalamah dan Abu Janda. Mungkin Anda tahu ya Khalid Basalamah kembali bikin perkara karena pandangannya soal wayang.

Apa yang dia katakan memang bermasalah. Tapi saya rasa respons Abu Janda pun bermasalah.

Abu Janda adalah kawan saya. Saya selalu melihat dia sebagai pejuang keberagaman. Namun kali ini, saya rasa dia agak offside. Terutama soal Arab.

Saya jelaskan duduk perkaranya ya. Saya mulai dari Khalid. Khalid ini sebenarnya adalah ustad yang populer. Dia dikagumi terutama oleh kalangan perempuan kelas menengah yang sedang hijrah. Dia memang tampan, bersuara dalam, dan tampilannya kharismatik. Dia juga tampak seolah sangat paham Islam.

Tapi sejak lama, apa yang dia dakwahkan sering terasa bermasalah. Dia pernah bilang agar murid tak perlu menyanyikan lagu kebangsaan di saat upacara bendera. Dia bahkan pernah berkata dalam ceramahnya bahwa dalam Islam, berhubungan seks dengan budak adalah tindakan halal.

Jadi sebetulnya tidak terlalu mengejutkan juga sekarang ketika ternyata dia menyatakan wayang bukanlah tradisi Islam dan karena itu sebaiknya dimusnahkan saja. Ucapannya itu sebetulnya dia lontarkan beberapa tahun lalu. Tapi ternyata saat ini ada yang memviralkan videonya kembali.

Dalam video itu dia menjawab pertanyaan seorang jamaah yang bertanya apakah wayang dilarang dan bagaimana dengan profesi dalang.

Khalid memang tidak pernah eksplisit bilang wayang itu haram. Tapi seluruh jawabannya mengarahkan khalayak ke arah kesimpulan itu. Dia bilang sebagai muslim, umat Islam harus dipandu agama. Jadi seharusnya Islam yang dijadikan tradisi dan budaya. Bukan tradisi dan budaya yang diislamkan.

Kemudian dia bilang, Allah sudah menetapkan standarisasi. Karena itu kalaupun ada peninggalan nenek moyang yang sudah jadi tradisi sementara dalam Islam itu dilarang, harusnya ditinggalkan.

Kata Khalid lagi, kalau memang ada tradisi yang dilarang Islam, maka lebih baik di dimusnahkan dalam arti kata ini dihilangkan. Menurutnya, ini tidak berarti umat Islam harus menghapus 100 persen masalah kebiasaan dan tradisi, tapi kalau itu tidak cocok dengan agama sebaiknya ditinggalkan.

Setelah itu baru kembali dia menyebut wayang. Kata Khalid, wayang saat ini sebenarnya sudah bisa digantikan dengan manusia yang sudah jelas nyata.

Penggalan ceramah itu langsung menimbulkan reaksi keras. Khalid sendiri kemudian sudah minta maaf dan memberikan klarifikasi. Dalam keterangannya, Khalid menyatakan bahwa dia sama sekali tidak menyatakan mengharamkan wayang.

Kata Khalid, dia sama sekali tidak berniat untuk menghapuskan wayang dari sejarah nenek moyang Indonesia. Khalid juga menyatakan dia tidak meminta wayang dimusnahkan.

Tapi kalau ada orang yang mau melakukan pemusnahan wayang, ya silahkan saja. Menurutnya, dia sedang mengajak umat agar menjadikan Islam sebagai tradisi dan bukan tradisi sebagai Islam.

Kalau ada tradisi yang sejalan dengan Islam, tidak ada masalah. Tapi kalau bentrok sama Islam, ada baiknya ditinggalkan.

Kemudian kata Khalid, umat Islam yang mengetahui tradisi yang dia jalankan bertentangan dengan islam, sebaiknya segera bertaubat. Dan salah satu bentuk taubat adalah memusnahkan tradisi tersebut.

Jadi, kata Khalid, kalau ada seorang Jemaah mendatanginya dan mengatakan sudah taubat dan enggak mau lagi memainkan wayang, maka Khalid akan menyarankan agar wayang itu dimusnahkan saja.

Itulah penjelasannya. Memang tidak impresif dan terkesan-kesan cari selamat. Dan itu jadinya tidak mencegah kecaman dan kritik terhadapnya.

Salah satu kecaman yang sangat keras datang dari Abu janda. Dia membuat video yang mengecam keras Khalid Basalamah. Tapi, dengan segenap maaf, saya harus katakan respons Abu Janda juga offside.

Yang paling bermasalah menurut saya, kok Abu jadinya menyerang ras Arab. Yang bermasalah Khalid, kok semua orang Arab jadi disalahkan.

Saya paparkan isi video Abu Janda secara ringkas ya.

Di awal, dengan gayanya yang khas, Abu bilang begini: “Buat ustad bermuka imigran”
Kemudian Abu menyentil pernyataan Khalid bahwa kalau punya wayang, lebih baik dimusnahkan.

Abu mengecam Khalid yang disebutnya ‘minim literasi sejarah’. Kata Abu, kalau saja tidak ada wayang, mayoritas rakyat Indonesia tidak akan beragama Islam. Menurutnya, Islam di Jawa disebarkan oleh para wali yang menggunakan wayang.

Karena itu, kata Abu, janganlah si ustad bermuka imigran ini hendak memusnahkan wayang dengan dalih syariat Islam.

Di bagian ujung video, Abu janda mengatakan dengan keras:

“Kalian itu pendatang dari Arab. Stop injak-injak marwah leluhur bangsa. Enak sekali bilang wayang dimusnahkan. Lama-lama bangsa kau yang dimusnahkan.”

Argumen Abu tentang wayang sebagai alat penyebaran Islam di Indonesia tentulah tepat. Jadi kalimatnya bahwa Khalid miskin pengetahuan sejarah benar belaka.

Tapi yang mengganggu saya adalah pernyataan-pernyataan Abu janda tentang Arab.

Saya percaya dia tidak bermaksud buruk. Namun argumennya jadi terdengar rasis karena yang disalahkan adalah ras Arab.

Buat apa coba, Abu bilang ‘ustad berwajah imigran’. Buat apa coba dia bilang ‘kalian itu pendatang dari Arab’. Buat apa dia bilang, ‘lama-lama kalian dimusnahkan’.

Ini kan bukan persoalan Arab. Cara beragama yang serba melarang, serba mengharamkan bukanlah sesuatu yang layak dipersalahkan pada Arab.

Bantahan paling gampangnya adalah Nabi Muhammad sendiri adalah Arab. Para pemikir, para filsuf, para sarjana muslim yang menyebarkan ajaran Islam yang pluralis juga banyak dari ras Arab.

Di Indonesia, Quraish Shihab, Haidar Bagir, Haidar Alwi, Ben Shohib, Hamid Basyaib, Nadiem Makarim yang sangat pluralis adalah Arab.

Jadi menyebut Arab dan kesempitan beragama dalam satu tarikan napas adalah sebuah kesalahan serius.

Dan penyudutan Arab semacam itu sama tidak menguntungkan buat perjuangan keberagaman di Indonesia.

Salah satu persoalan besar Indonesia adalah bagaimana menjadikan bangsa ini menerima keberagaman sebagai berkah yang harus disyukuri

Salah satu wujud syukur itu adalah dengan saling menghormati, menyayangi dan bekerjasama.

Karena itu variabel ras, etnik, agama seharusnya bukan menjadi faktor yang menentukan persaudaraan sebagai bangsa Indonesia.

Orang seperti Khalid Basalamah menjadi sepicik itu bukan karena dia Arab. Kepicikan beragama itu, kalau mau dilacak, baru berkembang di Indonesia sejak 1980an.

Dan itu bisa diduga berlangsung karena pengaruh kampanye Wahabi dari Arab Saudi. Saya ulang, Arab Saudi ya! Bukan Arab.

Yang menarik untuk dicatat, pemerintah Saudi menyebarkan paham Wahabi itu bukan karena terutama alasan agama.

Pada 1980an itu, Saudi sedang panik karena kebangkitan Revolusi Iran. Saudi takut dunia Islam akan berkiblat kepada Iran, sebuah negara yang dianggap sebagai musuh besar mereka.

Karena itulah Saudi mengucurkan dana berlimpah untuk menanamkan paham keagamaan Islam yang berorientasi pada ajaran Wahabi ke seluruh dunia. Ini memang terlihat sebagai arabisasi, padahal sesungguhnya ini adalah wahabisasi.

Dan kampanye Saudi ini pun didukung negara-negara Barat yang juga takut pada kebangkitan Iran. Kini sekitar 40 tahun kemudian, kita melihat dampaknya secara nyata di Indonesia.

Ironisnya, pada saat Saudi sekarang mulai menjelma menjadi lebih liberal, efek dari kampanye Wahabi masih kuat terasa di Indonesia. Jadi orang seperti Khalid Basalamah ini jangan dilihat sebagai perwakilan Islam, bukan perwakilan Arab dan bukan perwakilan Arab Islam.

Karena itu, saya menyarankan kita semua jangan terus menyudutkan Arab. Sikap itu bukan saja rasis.

Tapi juga menunjukkan kegagalan kita memahami sumber masalah kesempitan berpikir dalam umat Islam. Kita jangan mudah dipecah belah.

Komentar