SERIUS, COVID CUMA DATANG JELANG RAMADHAN?

Oleh: Ade Armando

Ternyata saat ini masih ada orang-orang yang percaya bahwa Covid, Vaksin, dan PPKM adalah hasil rekayasa.

Dan yang percaya itu bukan cuma orang bodoh dan terbelakang. Yang menyebarkannya pun bukan cuma kaum tak berpendidikan

Ini terus menyebar dan dipercaya oleh mereka yang tinggal di kota, cerdas dan bisa berpikir rasional.

Misalnya saja saya baru saja memperoleh sebuah video yang mempertanyakan kenapa wabah Covid baru muncul di saat menjelang Hari Raya Islam.

Jadi di video itu dikatakan, Covid itu cuma datang menjelang hari raya Islam.

Menjelang Natal, aman. Menjelang Imlek, aman. Menjelang Waisak, aman. Menjelang Nyepi, juga aman. Tapi tiba-tiba menjelang puasa meningkat merah. Idul Fitri meningkat hitam. Idul Adha meningkat lagi.

Itu maksud si pembuat video apa ya?

Teman-teman saya di Pergerakan Indonesia untuk Semua sudah membantahnya.

Mereka bikin video yang bilang: “Woooi, memang pemerintah bisa mengatur jadwal Covid???”

Memang absurd sih.

Tapi yang bikin video jelas bukan orang bodoh.

Mereka pasti menguasai teknologi pembuatan video.

Jadi jelas bukan abal-abal kan.

Lantas ada lagi video pendek ceramah Ustad Abdul Somad.

Judul videonya: PEMERINTAH EVALUASI PPKM LAGI, KOMEDI BERAKHIR TRAGEDI

Isinya kurang lebih mirip dengan video pertama.

Dalam ceramahnya itu, Abdul Somad bilang dia bingung.

Dia menerima keluhan bahwa umatnya tidak bisa bikin keramaian, kalau menjelang hari raya Islam.

Kalau menjelang akhir tahun bisa, kata mereka.

Kalau menjelang tahun baru juga bisa, kata mereka.

Kalau di bulan Ramadhan, tiba-tiba saja Covid datang. Menjelang maulid, Covid datang.

Umat Islam terpaksa sudah dua tahun Idul Fitri di rumah.

Tapi kalau menjelang akhir tahun, Covid tidak datang.

Wah, kata Abdul Somad, jangan-jangan Covid ini muallaf.

Kalau ada masjid, dia akan datang.

Kalau ada habib, dia akan datang ke habib.

Tapi begitu ada pejabat buat keramaian, Covid tidak nampak.

Memang banyak kelucuan di negara ini, kata Abdul Somad.

Lantas dia menutup ceramahnya dengan mengatakan: Komedi Berakhir Tragedi.

Lantas ada pula sebuah video yang menampilkan Ustad Alfian Tanjung.

Ini sebenarnya video lama.

Tapi kini kembali diedarkan ketika Covid kembali ramai dibicarakan.

Alfian Tanjung ini menakut-nakuti masyarakat soal Vaksin.

Menurut Alfian, vaksin adalah zat yang diambil dari saripati darah para narapidana dan pelacur.

Menurutnya, darah para narapidana dan pelacur itu digabungkan dengan penyakit yang telah dijinakkan sehingga menjadi vaksin.

Ia juga menyatakan bahwa vaksin tidak dikenal di Fakultas Kedokteran Umum melainkan hanya dikenal di Fakultas Kedokteran Hewan.

Karena itu yang sebenarnya paham soal vaksin hanyalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan.

Karena itu, menurut dia, para dokter tidak usah belagu, karena yang mengerti vaksin hanyalah lulusan Fakultas Kedokteran Hewan.

Lebih jauh lagi, Alfian menyatakan bahwa vaksinasi dan imunisasi adalah operasi depopulasi untuk membuat orang tak punya kemampuan berpikir.

Dia lantas dengan meyakinkan menyinggung soal penyakit-penyakit aneh yang dialami orang miskin.

Menurutnya hal itu terjadi karena mereka disuntik vaksin berisi saripati anjing, monyet dan babi

Orang-orang miskin itu banyak punya penyakit aneh, kata Alfian, karena mereka sudah dirusak lewat injeksi vaksin berisi tripsin, berisi saripati anjing, monyet dan babi.

Kalau Anda mendengar apa yang saya sampaikan di atas, kira-kira apa yang melintas di kepala Anda?

Gila kan? Nggak masuk akal kan?

Tapi itu terus disebarkan.

Seharusnya sih setiap orang yang memiliki akal sehat bisa membuka mata lebar-lebar dan mempelajari informasi yang tersedia luas di internet untuk tahu bahwa tidak ada korelasi antara hari raya agama dan jumlah korban Covid.

Tapi kok mereka bisa membayangkan bahwa memang ada konspirasi pemerintah untuk mengatur data sehingga setiap kali ada hari raya Islam, angka korban Covid dinaikkan.

Segitunya ya?

Mereka tidak bisa melihat ya bahwa di dunia memang ada gelombang Covid baru gara-gara Omicron?

Itu bukan cuma di Indonesia, tapi juga di banyak negara.

Kalau mereka sebenarnya cuma ingin pemerintah lebih rileks, mereka sebenarnya bisa berargumen bahwa Omicron itu tidak terlalu berbahaya dibandingkan varian Delta, jadi tidak usahlah kehidupan bermasyarakat diatur lebih ketat.

Atau mereka bisa bilang, di sejumlah negara sudah ada pelonggaran kebijakan.

Di Inggris, kewajiban masker saja sudah dihapus.

Jadi kenapa Indonesia juga tidak begitu saja?

Sebetulnya mereka bisa saja bilang begitu.

Tapi masalahnya, barangkali, ya mereka memang ingin sekali menyalahkan pemerintah.

Karena itu yang harus jadi pangkal persoalan ya pemerintah.

Nggak penting apakah itu masuk akal atau tidak.

Yang penting mereka berhasil memframe bahwa pemerintah menghambat hari raya Islam.

Apalagi yang soal vaksin.

Bagaimana mungkin Alfian seenaknya bilang vaksin itu hasil saripati darah narapidana, pelacur, monyet, anjing dan babi.

Dan apa pula itu depopulasi?

Dan betapa kejinya dia bilang vaksin itu diberikan agar orang miskin punya penyakit aneh-aneh.

Itu kan luar biasa tidak masuk akal.

Celakanya tapi, ada saja yang mau mempercayainya.

Di lingkungan terdekat Anda mungkin tidak.

Tapi di Indonesia ini, masih banyak yang menolak vaksin.

Saya baru saja mendengar cerita dari teman saya. Salah seorang kerabatnya menikah dan mengundang keluarga dari Sumatra Barat.

Ternyata keluarganya yang tinggal di sebuah kota relatif besar di sana tidak ada yang bisa datang.

Kenapa?

Karena tidak satupun dari mereka yang sudah menjalani vaksinasi.

Mereka bilang, mereka tidak percaya dengan vaksin. Vaksin itu berbahaya.

Mereka bukan orang bodoh lho.

Mereka orang berpendidikan dan berada di kotanya.

Jadi begitulah, keterbelakangan semacam itu masih ada.

Dan keterbelakangan masyarakat inilah yang terus dimanfaatkan oleh para petualang politik untuk menghacurkan bangsa ini.

Komentar