LASKAR SURGA AKHIRNYA DIKIRIM KE AKHIRAT

Saya sampai sekarang terus memantau sidang KM 50 di pengadilan. Sidang ini menarik karena di sinilah perang melawan radikalisme berlangsung di depan hukum. Hakim dan Jaksa dituntut untuk secara penuh mengambil keputusan yang menjadi perhatian publik ini.

Okay, saya ingin mengingatkan lagi peristiwa KM 50. Peristiwa KM 50 ini terjadi di bulan Desember tahun 2020. Waktu itu Rizieq Shihab pulang dari Saudi dan disambut oleh pendukungnya dengan meriah di mana-mana dan pada saat itu penularan Covid-19 varian Delta yang ganas sedang tinggi-tingginya. Pemerintah yang saat itu sedang fokus menghadang klaster-klaster baru itu menghukum Rizieq karena menyebabkan penyebaran virus. Dan Rizieq seperti biasa ketika dianggap bersalah, kabur dan sembunyi.

Petugas polisi kemudian diarahkan untuk memantau pergerakan Rizieq. Nah, saat itu mereka melihat ada beberapa mobil keluar dari tempat persembunyian dan memperkirakan di salah satu mobil ada Rizieq Shihab. Pada saat polisi membuntuti rombongan mobil Rizieq, tiba-tiba mobil polisi ditabrak oleh beberapa mobil lain yang ternyata di dalamnya adalah pasukannya Rizieq. Ketika mobil mereka semua berhenti, mendadak beberapa orang pasukan Rizieq keluar dari mobil dan menyerang polisi dengan senjata tajam mau membunuh mereka. Tentu saja polisi membela dirilah dan terjadilah tembak menembak dalam peristiwa itu.

Dan akhirnya pengawal Rizieq kabur dan dikejar oleh polisi. Sampai akhirnya di KM 50 di tol Cikampek, ketika semua mobil berhenti dan polisi menyuruh semua pengawal Rizieq yang masih hidup untuk turun dari mobil dan menyerahkan semua senjata tajam mereka.

Akhirnya 4 orang pengawal Rizieq yang masih hidup dibawa oleh polisi menuju ke kantornya. Karena para polisi tidak dalam perintah menangkap, maka mereka juga tidak membawa borgol sehingga tangan ke 4 orang pengawal itu bebas. Nah, di sinilah terjadi lagi perkelahian. Empat orang pengawal Rizieq di dalam mobil kemudian berusaha merebut senjata polisi di dalam mobil. Seorang anggota polisi dicekik dan dijambak dan pistolnya berusaha dirampas. Karena terdesak dan nyawa mereka terancam, seorang anggota polisi lain kemudian melepaskan tembakan-tembakan yang menewaskan 4 orang laskar FPI itu.

Adegan ini sudah direkonstruksi dan disaksikan juga oleh Komnas HAM. Pada intinya, polisi berpegangan bahwa ketika peristiwa itu terjadi, mereka itu sedang membela diri. Ini masalah hidup dan mati sehingga mereka terpaksa melepaskan tembakan supaya mereka semua bisa bertahan.

Tapi menariknya, Jaksa Penuntut Umum melihatnya dari sisi yang berbeda. Mereka melihat bahwa di kasus ini terjadi pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh anggota polisi. Bahkan dalam persidangan, Jaksa sempat mengarahkan tembakan polisi kenapa kok mengarah ke alat vital? Ini yang kemudian dibantah oleh polisi, bahwa pada saat kejadian, situasi ruangan yang sempit di dalam mobil, dalam kondisi panik, tembakan tidak bisa diarahkan. Hakim juga sudah menegur Jaksa supaya tidak mengambil kesimpulan sendiri di dalam persidangan itu.

Dari persidangan ini, terlihat Jaksa ingin membela Laskar FPI yang sudah mati itu. Mereka ingin mengarahkan dan menyalahkan anggota polisi yang terlibat tembak menembak dengan alasan Hak Asasi Manusia. Ini yang – jujur – membuat saya heran. Dalam kondisi hidup dan mati, seharusnya polisi berhak membela diri. Seandainya senjata polisi berhasil direbut oleh para Laskar FPI itu, korban yang mati bukan mereka, malah para anggota polisi. Tapi kenapa kok Jaksa malah membela penjahat yang berusaha membunuh polisi yang sedang bertugas?

Tidak gampang memang melawan radikalisme di negeri ini, ketika bahkan seorang Jaksa tidak bisa melihat kasus ini dengan perspektif yang luas. Kalau misalnya, anggota polisi yang membela diri itu dihukum berat dengan alasan Hak Asasi Manusia, saya bisa membayangkan psikologis institusi kepolisian dalam melawan radikalisme di negeri ini.

Institusi kepolisian yang sedang semangat melawan kelompok radikal seperti FPI ini, akan mundur teratur karena ternyata mereka dianggap salah dalam bertindak. Dan ini bahaya, karena benteng kuat kita dalam melawan kelompok ini hanya kepolisian. Tanpa polisi bertindak, bisa dibayangkan laskar-laskar seperti ini akan berkembang pesat di Indonesia.

Masyarakat sendiri sebenarnya senang dengan tindakan tegas dari kepolisian. Senangnya mereka sama dengan rasa senang ketika Pangdam Jaya waktu itu dengan berani menurunkan baliho-baliho Rizieq Shihab. Baru kali ini ada rasa tenang dan aman ketika melihat aparat kita tidak berpihak dengan kelompok-kelompok radikal itu.

Sayangnya ya, pihak Jaksa Penuntut Umum masih belum begitu. Mereka masih condong ke kelompok FPI dan membela mereka. Dan ini juga bahaya, karena FPI dan ormas-ormas radikal lainnya bisa beranggapan kalau mereka bisa melakukan apa saja karena ada perangkat hukum yang kelak akan membela mereka.

Propaganda FPI yang selalu menggaungkan para kriminal yang mati itu sebagai syuhada, memang berpengaruh pada sebagian orang. Narasi-narasi agama masih efektif untuk menekan sebuah keputusan. Padahal yang dibela itu jelas-jelas kriminal. Lha wong mereka membawa senjata dan mengancam nyawa polisi, masa begituan yang disebut sebagai syuhada? Jelas, itu kriminal. Dan kejaksaan harus bisa melihat gambar besarnya, bukan dari perspektif yang sempit saja.

Sekali lagi, jalan perlawanan melawan radikalisme di negeri ini masih sangat panjang karena aparatnya ternyata masih ada yang tidak sejalan. Ketika aparat berpihak pada radikalisme, maka keutuhan negara ini bisa terancam. Karena radikalisme itu seperti virus jahat yang mematikan, yang jika terus dipelihara dan dibela. Mereka akan tumbuh subur dan kelak akan memakan orang-orang yang membela mereka.

Saya harus hormat pada anggota polisi yang bertugas saat itu dan menembak mati laskar-laskar FPI di KM50. Mereka bertindak atas nama negara dan berada pada posisi membela negara. Sudah seharusnya mereka dibebaskan dari dakwaan atas nama Hak Asasi Manusia. Karena buat kriminal seperti para Laskar FPI itu, konsep Hak Asasi Manusia tidak berfungsi lagi. Bahkan kalau nanti mereka berkuasa, konsep HAM itu lah yang mereka kencingi pertama kali.

Semoga anggota polisi yang dijadikan tersangka, segera dibebaskan dari dakwaan dan bisa bertugas kembali untuk menjaga negeri. Untuk mereka, saya harus beri hormat dengan seruput kopi.

Komentar