THE TINDER SWINDLER, TIPU-TIPU DI MEDIA SOSIAL

Oleh: Denny Siregar

Saya tadi malam nonton film dokumenter berjudul The Tinder Swindler di Netflix. Film ini seru banget, mengisahkan tentang kisah realitas seorang penipu bernama Simon Leviev lewat aplikasi Tinder.

Aplikasi Tinder ini adalah media sosial mirip Instagram, tapi fungsinya untuk menemukan pasangan yang tepat buat mereka yang sedang cari jodoh. Nah, si Simon ini dalam foto-fotonya di aplikasi Tinder sering banget pamer gaya mewah dengan foto di pesawat jet pribadi, mobil mewah, jam tangan mahal, sampai liburan ke luar negeri. Miriplah dengan influencer-influencer kita yang kalau gaya pamer-pamer kemewahannya, bikin silau mata.

Apa tujuannya si Simon pamer kemewahan di Tinder? Untuk cari wanita yang bisa dia bohongi. Simon tahu kalau banyak wanita yang mencari pangeran kaya supaya mereka bisa hidup mewah. Maka banyaklah wanita yang terjerat ke pelukan Simon. Dan pada waktu bersama Simon itulah, si wanita dikuras habis-habisan hartanya sampai mereka harus berutang segala untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup mewah si Simon. Simon adalah parasit masa kini yang diuntungkan dengan adanya media sosial sehingga ia banyak mendapatkan korban.

Menurut laporan, Simon sudah menguras uang korban-korban wanitanya sampai berjumlah total 140 miliar rupiah. Dan dia sulit banget dijerat hukum karena apa yang dia lakukan tidak dianggap sebagai kejahatan. Yang kasihan adalah korban wanita-wanitanya. Sudah terjerat utang, ketika dia melaporkan penipuan Simon dan diupload di media sosial, mereka malah dimaki-maki sebagai wanita matre yang gampang terpikat oleh kekayaan.

Model yang sama di Indonesia juga ada, meski bentuknya berbeda-beda. Pada intinya gini, banyak orang terjebak dengan pameran kemewahan yang dilakukan oleh seseorang di media sosial, sehingga mereka berpikir bahwa mereka akan sekaya orang itu ketika dekat dan mengikuti jejaknya.

Pada akhirnya, banyak orang tertipu ketika ada beberapa influencer yang bergaya hidup mewah mengajak mereka main judi online yang berbalut trading itu. Dan ketika akhirnya mereka kalah, mereka meluapkan kekesalan kepada si influencer karena sudah mempromosikan judi online kepada mereka sehingga mereka terjebak. Para korban akhirnya melapor ke polisi dan polisi sekarang sedang menyelidiki apakah para influencer itu bagian dari kejahatan yang dilakukan aplikasi atau memang mereka cuma dibayar sebagai brand ambassador saja.

Salah seorang influencer bernama Indra Kenz dari Medan, adalah termasuk orang yang sedang diincar untuk diperkarakan. Indra kenz ini sering pamer kemewahan di media sosialnya dan membuat orang berpikir bahwa dia adalah seorang trader jagoan. Padahal waktu yang membuktikan bahwa Indra Kenz ini sebenarnya sedang mengajak orang untuk main di sebuah aplikasi yang ternyata model permainannya mirip dengan judi online. Maka banyaklah orang yang awalnya silau dengan gaya mewah Indra Kenz, mengikuti dia dan terjebak sampai miliaran rupiah di aplikasi itu.

Dan menurut kabar, para influencer di aplikasi judi online itu mendapatkan fee 70 persen dari kekalahan orang yang diajaknya. Jadi semakin banyak orang yang kalah, maka semakin kayalah si influencer. Dia hidup bersenang-senang di atas bangkai penderitaan orang lain dan masih upload kemewahan di media sosialnya.

Pertanyaannya, bisakah influencer yang mengajak orang main judi online dan mendapat fee 70 persen dari kekalahan orang lain itu, dikenakan pasal hukuman?

Saya gak tahu ya. Apalagi ini di Indonesia. Karena di luar negeri saja, seperti pengalaman si Simon Leviev, dia tidak bisa dipenjara karena kasus penipuan. Hukum negara-negara maju itu juga belum mengatur ke arah sana. Simon ditangkap polisi dan masuk penjara karena kasus pemalsuan paspor, bukan penipuan atau pemerasan. Dia hanya dipenjara 5 bulan saja dan menjalaninya selama 2 bulan, untuk kemudia bebas dan kembali bersenang-senang dan bergaya hidup mewah. Masih update lagi media sosialnya. Bahkan si Simon Leviev ingin memfilmkan kisah hidupnya dari versinya dia, dan sudah pasti dia akan dapat duit lagi lebih banyak dari sana. Sedangkan korban-korbannya harus berhadapan dengan bank dan debt collector kartu kredit karena utang-utang mereka tidak bisa mereka bayar.

Poin yang menarik dari sini adalah jangan pernah tergiur kemewahan. Kalau Anda mau bisnis dengan seseorang yang baru dikenal, jangan lihat mobil mewahnya, jangan lihat pakaian bagusnya, jam mahalnya. Karena bisa saja itu dipakai untuk menyilaukan mata kita dan menarik kita ke dalam lingkarannya supaya bisa ditipu habis-habisan. Berbisnislah dengan orang dengan melihat track recordnya, karena track record itu gak bisa bohong. Itu seperti jejak digital yang tidak akan bisa terhapus oleh apapun juga.

Banyak peristiwa yang dihadirkan Tuhan dalam hidup ini. Pertanyannya, maukah kita belajar dari banyaknya peristiwa itu? Atau kita selalu terjebak dalam masalah karena kebodohan-kebodohan kita yang gak pernah hilang?

Komentar