INDONESIA HARUS UNTUK SEMUA

Saya ingin mengajak Anda semua untuk terlibat dalam sebuah gerakan yang sedang kami rancang. Gerakan ini masih dalam tahap pematangan. Tapi begitu itu meluncur, saya mengajak Anda untuk terlibat di dalamnya.

Keterlibatan dalam bentuk me’like’ kegiatan kami pun sudah cukup. Yang penting kami tahu bahwa ada banyak orang yang berada dengan komitmen yang sama. Namanya Indonesia untuk Semua.

Ini adalah sebuah gerakan bagi warga yang ingin bersatu menyelamatkan Indonesia. Kita saat ini mungkin optimistis melihat masa depan Indonesia. Kita melihat bagaimana Indonesia, terutama dibawah pimpinan Jokowi, menjadi sebuah kekuatan utama di dunia.

Ekonomi kita terus melaju. Kesejahteraan rakyat meningkat. Ketimpangan menyempit. Dan yang juga sama pentingnya adalah Jokowi berhasil mengembalikan jati diri bangsa Indonesia kepada sifat asalnya: yang menghargai keberagaman, yang saling menghormat, yang bekerja sama.

Karena itulah kita memandang masa depan Indonesia dengan bahagia dan percaya diri.
Tapi, nanti dulu.

Indonesia hanya akan tetap besar kalau bangsa ini bersatu. Jokowi berhasil memimpin Indonesia dengan semangat itu.

Tapi masa kepemimpinan Jokowi akan berakhir, dalam dua tahun lagi. Dan itu adalah waktu yang singkat. Kita belum tahu siapa yang akan menjadi penggantinya.

Tentu saja ada tokoh-tokoh yang kita bisa bayangkan akan melanjutkan jalan Jokowi. Dan untuk itu, kita harus bersedia berjuang untuk mengupayakan agar tokoh-tokoh itulah yang akan memimpin Indonesia pada 2024 dan seterusnya.

Namun tentu tak ada jaminan bahwa itu yang akan terjadi.

Kita mungkin sekali akan memperoleh pemimpin yang bertolakbelakang dengan Jokowi. Ini yang akan terajdi kalau kita terlalu terlena, seolah-olah dunia berjalan dengan konstan.
Kita mungkin akan memiliki pemimpin yang justru memiliki karakter anti-keberagaman, anti demokrasi atau mungkin sekadar memberi ruang bagi kaum anti-keberagaman dan anti-demokrasi.

Itu bisa saja terjadi.

Pertanyaannya: kalau skenario buruk itu terjadi, Bagaimana nasib Indonesia? Bagaimana nasib kita, keluarga kita, anak-anak kita, nasib bangsa Indonesia?

Karena itu jawabannya sederhana: rakyat Indonesia yang mencintai Indonesia harus bersatu.

Kita tidak dapat mempercayakan masa depan Indonesia hanya kepada mereka yang memimpin Indonesia, kepada pemerintah. Masyarakat sipil harus bersatu memperjuangkan sebuah Indonesia yang damai, bahagia, dan sejahtera.

Dan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan itu tidak boleh hanya dimiliki oleh satu bagian saja dari Indonesia, melainkan oleh seluruh bangsa Indonesia. Satu Indonesia untuk semua.

Saya percaya pada kekuatan ide. Peradaban besar di dunia selalu diawali oleh ide. Karena itu bila kita ingin membangun Indonesia yang sejahtera, damai, dan maju, itu kita harus perjuangkan dengan melandaskan diri pada ide.

Kalau kita belajar dari sejarah peradaban dunia, kita akan melihat bagaimana ketika pikiran dibuka, segenap perubahan revolusioner terjadi.

Ambilah contoh ERopa. Mereka pernah mengalami abad kegelapan. Mereka pernah tertinggal dari timur. Tapi ketika mesin cetak ditemukan, dan budaya buku berkembang, sehingga pengetahuan bsia dipertukarkan, perubahan –perubahan terus terjadi.

Ketika pikiran terbuka, masyarakat menolak pemuka agama dan kaum bangsawan sebagai penentu kebenaran. Masyarakat mengembangkan pengetahuan sendiri. Doktrin-doktrin agama yang usang ditinggalkan

Setiap warga dibiarkan mencari sendiri kebenaran. Dan yang terjadi ternyata bukanlah kekacauan, melainkan kemajuan. Ilmu pengetahuan tumbuh. Karya-karya kesenian menjadi sangat kaya. Demokrasi berkembang. Teknologi tumbuh pesat.

Begitu juga dengan Indonesia. Ini semua harus dimulai dengan ide yang ada di kepala.
Di kepala bangsa Indonesia, tidak boleh lagi ada ide bahwa kebenaran ditentukan hanya oleh segelintir orang yang dianggap sebagai pemuka agama, pemuka politik, pemuka pendapat.

Di kepala bangsa Indonesia, tidak boleh lagi ada ide bahwa ada kelompok agama, ras, etnik, gender yang lebih istimewa dari yang lain. Di kepala bangsa Indonesia, tidak boleh lagi ada ide bahwa kita adalah bangsa yang kalah, bangsa kelas dua.

Kita harus percaya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang unggul, terbuka, bebas, bersaudara, saling menghormati dan mencintai. Penyebaran ide-ide inilah yang akan menjadi inti dari gerakan.

Saat ini kita diuntungkan oleh kehadiran media digital yang berinteraksi dalam jaringan online. Penyebaran ide dapat dengan mudah dilakukan melalui beragam platform media online dan media sosial.

Informasi tak perlu lagi terpusat di Jakarta. Setiap warga bisa mendengar dan didengar.
Karena itulah, penyebaran gagasan pencerahan ini harus dilakukan. Dulu sebuah gerakan, sebuah organisasi massa harus mempertemukan manusia secara fisik.

Kini persyaratan tersebut tak lagi dibutuhkan. Kita bisa terus mengumandangkan ide melalui platform digital dengan melibatkan partisipasi warga di seluruh Indonesia.
Yang terpenting adalah ide.

Kita yang berpikiran terbuka harus bersatu untuk melawan ancaman ketertutupan. Pengalaman Cokro TV sangat menarik. Ketika Cokro TV dimulai sekitar 2 sampai 2,5 tahun yang lalu, kami tak pernah membayangkan Cokro TV akan berkembang sebesar ini.

Cokro TV sekarang memiliki 1,75 juta subscriber. Dan itu organik semua. Subscriber Cokro tidak dibayar atau dimobilisasi. Para pelanggan dan penonton Cokro adalah mereka yang memang dengan sukarela, atas dasar ketertarikan atau kesamaan ide, mengkonsumsi konten Cokro.

Dulu, banyak pihak membayangkan bahwa Cokro akan menjadi projek gagal. Semula ada asumsi bahwa para penonton Youtube bukanlah penonton serius. Seperti yang terjadi pada Tiktok atau Instagram sekarang. Youtube itu dulu dianggap hanya akan ditonton oleh orang yang mencari hiburan.

Penonton dianggap hanya akan mencari music, komedi, video-video sensasional, olahraga, gosip, dan semacamnya. Ada juga anggapan bahwa orang tidak akan suka menyaksikan seseorang bicara isu serius selama bermenit-menit

Ada anggapan bahwa orang seperti Denny Siregar atau Eko Kuntadhi bisa saja memiliki followers jutaan di FB atau twitter, tapi itu akan lain ceritanya kalau dipindahkan ke Youtube.

Dulu orang menganggap Cokro TV akan gagal. Sekarang dengan bahagia saya melihat bahwa prediksi itu salah total. Dan kuncinya adalah pada para penonton, pada warganet, netizen.

Saya menemukan bahwa netizen Indonesia tidaklah sereceh seperti yang semula dibayangkan. Ternyata ada cukup banyak warga yang bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan argumen serius para host di Cokro TV.

Dan lebih dari itu, mereka bersedia berpartisipasi dalam memperkaya diskusi dan menyebarkan konten Cokro. Lihat saja kolom komentar di video Cokro TV. Bukan saja cukup banyak melike dan meninggalkan komentar, tapi sebagian mereka juga lazim mensharenya.

Komentar-komentarnya pun pintar-pintar. Beda sekalilah dengan para komentator di akun-akun kaum seberang yang menunjukkan keterbelakangan berpikir. Dan data dari Youtube sendiri menunjukkan bahwa mayoritas dari penonton Cokro TV adalah mereka yang berusia muda.

Apa yang saya ingin katakan dari cerita Cokro TV ini adalah di Indonesia ada basis masyarakat kritis yang cukup kuat di kalangan muda. Mereka serius memikirkan masa depan Indonesia. Mereka adalah kalangan yang tercerahkan.

Kalangan inilah yang kami bayangkan dapat terlibat dalam gerakan. Namun tentu saja pergerakan ini tidak akan banyak berarti bagi masyarakat kalau kita tidak melakukan advokasi

Kita tidak boleh berhenti menyebarkan gagasan mencerahkan namun juga berusaha mewujudkannya sehingga gagasan-gagasan tersebut diimplementasikan dalam penataan masyarakat. Gerakan ini juga harus aktif dalam mempengaruhi peraturan perundangan, regulasi, hukum.

Gerakan ini juga harus secara tegas membela ketika ada ancaman terhadap keberagaman, ketika ada gereja diancam, ketika rumah ibadat Ahmadiyah diserang, ketika kaum Tionghoa difitnah, ketika kaum penghayat kepercayaan lokal disudutkan, ketika ada gelombang kekerasan seksual, ketika berlangsung pelecehan terhadap kaum LGBT, ketika ada pengabaian hak-hak asasi masyarakat.

Bila itu terjadi. Kita semua tidak boleh diam. Saya mengajak Anda untuk nanti terlibat. Nasib Indonesia ada di tangan kita semua.

Komentar