EDI MULYADI, KARMA AHOK?

Oleh: Denny Siregar

Saya sering sekali mendengar komentar seseorang ketika melihat ada kelompok 212 yang kena masalah, dengan bahasa yang sama, yaitu karma Ahok. Karma itu adalah perbuatan yang kembali pada diri orang itu sendiri, entah itu perbuatan baik ataupun perbuatan buruk. Dan kalau melihat apa yang terjadi pada kelompok 212 sehingga mereka banyak yang masuk penjara, bisa dibilang itu adalah karma yang buruk.

Peristiwa masuk penjaranya Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama di tahun 2017, adalah peristiwa yang menyakitkan hati banyak orang Indonesia. Proses itu menyadarkan kita betapa tidak adilnya hukum di Indonesia yang tunduk pada tekanan massa. Ribuan orang, pada waktu itu, berkumpul di Jakarta, dimobilisasi oleh kelompok yang mereka namakan 212, didatangkan dari daerah-daerah yang kebanyakan di Jawa Barat, dengan satu tujuan membuat kerusuhan kalau tujuan mereka tidak tercapai, yaitu Ahok masuk penjara.

Ahok sendiri sebenarnya juga bukan sasaran utama, dia hanyalah simbol untuk mempersatukan kelompok fundamentalis Islam itu dalam satu ikatan. Narasi yang mereka pakai itu sangat rasis, yaitu Cina dan Kristen. Dan Cina juga Kristen, tidak boleh sedikitpun menyinggung ras pribumi dan Islam, yang kata mereka mayoritas. Agama ditunggangi oleh politik, karena tujuan sebenarnya bukan masalah penghinaan ataupun penistaan, tetapi justru menjegal Ahok untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sakit memang, tapi mungkin masuk penjaranya Ahok pada waktu itu adalah keputusan yang terbaik. Kelompok 212 itu berhasil mengorganisir sekian banyak massa untuk menekan pemerintah, menekan pengadilan, dengan ancaman kerusuhan massal jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Ayat-ayat Tuhan dipelintir habis-habisan sesuai nafsu politik mereka. Kalau saat itu Ahok tidak segera diputuskan bersalah, maka terbakarlah Jakarta dan mungkin saja itu bisa menjadi picu untuk kebakaran lebih luas seperti kejadian di tahun 1998.

Antara realitas yang terjadi di lapangan dengan emosi yang terjadi di ruangan, itu berbenturan. Ahok jelas tidak salah, tapi dia divonis hukuman penjara. Yang memfitnahnya juga dengan memelintir kalimatnya, yaitu Buni Yani juga diputus bersalah. Yang menang hanyalah 212, kelompok yang dibentuk khusus untuk menjegal Ahok menjadi Gubernur DKI dengan memanfaatkan massa dan agama.

Siapa saja tokoh 212 yang akhirnya masuk penjara? Banyak. Mulai Rizieq, Bahar dan banyak kelompok 212 yang sekarang terpencar dan dihajar habis-habisan. Ada jugasih beberapa politisi dan kepala daerah yang dulu ikut berdemo dengan tujuan mencari simpati pendukungnya, sekarang pada ketangkap KPK.

Si Eddy Mulyadi yang viral karena penghinaannya kepada warga Kalimantan dengan menyebut daerah mereka sebagai “tempat jin buang anak” dan penduduk yang tinggal di sana sebagai “genderuwo dan kuntilanak” adalah salah seorang kader 212. Dia mendapat pangkat sebagai Sekjen GNPF untuk aksi-aksi demo selanjutnya, meski tidak sebesar yang pertama.

Nah, buat saya yang menarik di sini adalah, apa yang didapatkan Eddy Mulyadi sekarang ini, adalah senjata makan tuan dari apa yang dilakukannya selama ini. Selama ini, Eddy dan kawan-kawannya itu selalu menggunakan tekanan massa untuk mencapai tujuan mereka. Keberhasilan gerakan besar mereka di tahun 2017 dengan akibat Ahok masuk penjara, menjadi inspirasi mereka untuk terus melakukan hal yang sama. Demo-demo adalah pekerjaan Eddy Mulyadi sehari-hari dengan berlindung di balik baju wartawannya. Pokoknya, kejadian apa aja, demo adalah solusinya.

Eddy Mulyadi tentu gak nyangka kalau dia sekarang yang didemo oleh banyak warga Kalimantan. Dulu pekerjaannya si Eddy mengorganisir pendemo, sekarang dia yang didemo. Dan demo terhadap Eddy Mulyadi ini begitu kerasnya, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan keonaran. Makanya laporan-laporan terhadap Eddy Mulyadi sekarang langsung dipimpin oleh Bareskrim, supaya kasusnya tidak melebar ke mana-mana.

Eddy Mulyadi sekarang terancam. Dia kemungkinan besar akan masuk penjara karena tidak mampu menjaga lisannya. Lidah yang selama ini dia pakai untuk mencaci maki waktu demo, bahkan mungkin dia pakai untuk memprovokasi pendemo saat ingin penjarakan Ahok, sekarang berbalik menelan dirinya.

Apakah ini karmanya Ahok? Entahlah, buat saya karma itu biar urusannya alam, urusannya Tuhan. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Tidak akan salah, dan tidak akan berkurang, atau bertambah. Hanya bagaimana caranya, itu urusan yang Maha Kuasa. Tapi yang jelas buat saya, semua karma itu adalah akibat dari sebab yang kita ciptakan sendiri.

Seperti kasus si Eddy Mulyadi ini, lidahnya mungkin sudah biasa merendahkan orang, lidahnya mungkin sudah biasa memfitnah orang, lidahnya dia mungkin sudah biasa menzalimi orang. Dan sekarang lidah yang dia pakai untuk banyak keburukan itulah, yang menjadikan dirinya sebagai korban. Eddy Mulyadi menempati kuburan yang dia gali sendiri.

Dan saya rasa, kasus atau situasi seperti ini tidak akan berhenti di seorang Eddy Mulyadi. Akan menimpa juga di pentolan 212 yang lainnya dengan peristiwa yang berbeda-beda. Dan seperti biasa, saya akan mendengar lagu yang sama di setiap peristiwa, “Itu adalah karmanya Ahok.”

Seruput dulu Eddy Mulyadi. Nikmati hari-harimu dengan baik sekarang ini sebelum kamu harus masuk sel nanti.

Komentar