SEMUA INGIN JADI PRESIDEN

Oleh: Denny Siregar

Pilpres tahun 2024 ini adalah Pilpres yang menarik, karena ini adalah ruang kosong yang bisa diisi. Jokowi sudah tidak mungkin menjabat lagi karena sudah dua periode dia lalui. Dan Pilpres tahun 2024 ini adalah Pilpres yang seimbang, kemenangannnya 50:50, tidak ada lagi incumbent.

Dan yang menarik buat saya, ruang media sosial sudah penuh dengan kampanye terselubung para kontestan yang merasa mereka mampu memimpin negeri ini. Buzzer-buzzer yang terus menshare kegiatan sang kontestan semakin ramai. Saya sampai malas buka Twitter karena isinya banyak kegiatan promosi yang dishare orang-orang, sehingga sulit sekali mencari berita. Akhirnya saya unfollow banyak orang hanya supaya pikiran saya jernih dan mata saya gak capek mengikuti berita promosi pujaan masing-masing orang.

Sementara ini, berita tentang kontestan yang paling banyak di-share adalah tentang Erick Thohir. Sering banget bahkan saya merasa itu terlalu berlebihan untuk sekarang ini. Erick memang punya kendaraan untuk itu. Dia pegang BUMN. Dia bisa menggerakkan komisaris-komisaris yang dia pilih. Bahkan dia bisa memanfaatkan infrastruktur di BUMN untuk menampilkan wajahnya. Contohnya di atm bank-bank BUMN. Erick ingin membangun keterkenalan dulu dirinya di mata publik.

Bahkan yang agak menggelikan ada foto Erick Thohir sedang panen padi di sawah. Ini sih yang kurang pas, karena Erick Thohir sendiri gak punya perawakan sebagai petani. Lagian ini konsep jadul zaman Soeharto yang memakai propaganda dekat dengan petani, tapi ya dia tidak pernah mensejahterakan mereka.

Ada juga Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata, yang setiap jalan kemanapun selalu update tentang dirinya. Gaya promonya Sandi ya persis seperti waktu dia jadi Cawapresnya Prabowo dulu. Berusaha dekat dengan masyarakat. Berusaha tampil sebagai wajah anak muda. Sandi benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai Menteri Pariwisata dengan jalan ke mana-mana dan membuat vlog tentang dirinya.

Ada juga Airlangga Hartarto Menko Ekonomi yang juga sebagai Ketua Partai Golkar. Cuma gaya Airlangga ini agak jadul ya, mirip dengan gaya Puan Maharani yang Ketua DPR. Mereka mengandalkan billboard untuk mengenalkan wajah mereka ke publik. Billboard dan spanduk mereka ada di mana-mana, tapi kenapa tetap saja peringkat nama mereka di survei tidak naik-naik.

Kenapa? Ini pertanyaan, karena iklan di billboard dan spanduk itu fungsinya memang hanya mengenalkan wajah saja, tidak membangun keterikatan emosional. Orang juga udah kenal kok sama wajah Airlangga dan Mbak Puan. Masalahnya, apakah ada hubungan emosional antara mereka dengan calon pemilihnya? Ini yang tidak dilakukan oleh timsesnya yang saya rasa juga bukan dari generasi milenial, tapi orang jadul yang tidak sadar adanya perubahan dalam model kampanye sekarang.

Ada pertanyaan dari seorang teman yang menarik buat saya, kenapa Jokowi sebagai presiden tidak melarang menteri-menterinya melakukan kampanye terselubung?

Kalau saya lihat sih, Jokowi memang sengaja membiarkan situasi seperti itu, dengan catatan semua kerjaan yang dia perintahkan beres semua. Jangan kerjaan gak beres tapi pengen tampil di muka publik. Lagian, kalau sekadar memposting keberhasilan kegiatan sih oke-oke aja. Tapi kalau terus menerus jumpa pers meski kerjaan gak beres-beres, ya dipecat sama dia. Ini yang pernah terjadi pada Rizal Ramli, yang diberikan kesempatan jadi Menteri, bukannya bekerja eh malah sibuk main citra dengan terus menerus tampil di media dengan segala kontroversinya.

Jokowi memang sengaja ingin menampilkan wajah-wajah baru, terutama dari sisi profesional, supaya rakyat punya banyak pilihan. Dia ingin rakyat melihat seorang pemimpin itu dari hasil kerjanya, bukan cuma ganteng atau cantik doang. Rakyat nanti yang memilih berdasarkan “apa”nya, bukan “siapa”nya. Biar nanti gak milih kucing di dalam karung. Lagian iseng banget tuh kucing dalam karung, ngapain juga dia di sana?

Yang saya agak kasihan tuh Anies Baswedan. Meski namanya tinggi di survei-survei, tapi sayangnya bentar lagi panggungnya juga hilang. Oktober di tahun ini Anies sudah tidak lagi menjabat jadi Gubernur DKI, dan otomatis dia kehilangan kendaraan untuk memamerkan prestasi.

Biar bagaimanapun, jabatan di pemerintahan itu penting banget buat menaikkan nama, karena jabatan itu seperti baju yang dipakai untuk dikenal publik. Ketika menjabat, banyak fasilitas yang bisa digunakan untuk pencitraan. Tetapi ketika sudah turun, rakyat juga sudah tidak melihatnya lagi sebagai sosok yang seksi, tapi sebagai warga biasa yang sama seperti saya. Coba lihat aja Gatot Nurmantyo yang waktu jadi Panglima TNI terlihat gagahnya bukan main sehingga banyak yang puja-puja. Dan sesudah dia turun dan berubah jadi warga biasa, bahkan orangpun sudah lupa namanya meski dia terus menerus mencari cara supaya media bisa memberitakan kegiatannya.

Semua ingin jadi presiden. Semua bernafsu pada kekuasaan. Semua berambisi untuk mendapatkan jabatan. Menjadi presiden itu punya gengsi tersendiri. Tapi juga tidak mudah, karena sekarang rakyat jelas lebih pintar dengan adanya media sosial.

Silakanlah semua kalau ingin jadi presiden. Asal bisa menerima tongkat estafet pembangunan dari Jokowi dan bukan merusakkan hasil karya yang sudah dan sedang dia bangun untuk kemajuan bangsa. Kita seruput dulu kopinya.

Komentar