KEBUSUKAN UBEDILAH, KEDUNGUAN ROCKY DAN KEHEBATAN KAESANG

Oleh: Ade Armando

Mungkin Anda sudah dengar nama Ubed ya? Iya, yang saya maksud adalah Ubedilah Badrun. Dia adalah dosen Universitas Negeri Jakarta yang melaporkan dua putra Presiden, Gibran dan Kaesang, ke KPK.

Gibran dan Kaesang dilaporkan Ubed atas dugaan Tindak Pidana Korupsi dan atau Tindak Pidana Pencucian Uang. Ubed menyatakan ia menduga ada praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dalam bisnis dua putra Jokowi itu.

Ubed seorang dosen dan tentu saja kita berharap seorang dosen universitas negeri terkemuka seperti UNJ seharusnya memiliki logika berpikir yang tidak sembarangan.

Tapi kalau kita dengar penjelasannya, saya sih ragu dia adalah dosen yang pintar. Ubed seharusnya paham bahwa Kaesang dan Gibran tidak layak diduga korupsi.

Jadi kalau dia tetap melaporkannya, saya duga tujuan utama Ubed bukanlah membongkar korupsi.

Ubed melakukan langkah sensasional itu karena dia tahu itu akan ramai diberitakan media dan melahirkan headline seperti, ‘Dua Anak Presiden Diduga Korupsi’. Ubed tahu dia tidak bisa dilaporkan balik karena dia menggunakan jalur konstitusional, yaitu datang ke KPK, dan yang dilaporkan cumalah ‘dugaan’.

Dan saya yakin Ubed tahu bahwa Kaesang dan Gibran tidak akan dinyatakan sebagai tersangka, karena memang tidak ada alasan untuk mentersangkakan mereka.

Namun begitu KPK kemudian tidak menindaklanjuti kasus Kaesang dan Gibran, Ubed atau kawan-kawannya akan mengatakan bahwa KPK takut pada Presiden, atau KPK pilih kasih, atau KPK alat pemerintah dan semacamnya.

Dan kalau benar begitu, Ubed jahat dan bahkan busuk. Sekarang pun misi Ubed sebenarnya sudah tercapai. Dia sudah berhasil membuat dirinya terkenal, sebagai dosen UNJ yang kritis dan berani melawan rezim.

Dia sudah menjadi tokoh yang mungkin sekali akan terus digunakan untuk kepentingan politik mereka yang anti-Jokowi. Dan dia sudah berhasil memperkaya wacana publik dengan gambaran bahwa keluarga Jokowi itu sebenarnya sama saja busuknya dengan penguasa masa lalu.

Dia dikomentari oleh orang seperti Rocky Gerung yang menyambut gembira pelaporan Kaesang dan Gibran.

Menurut Rocky, seharusnya dosen-dosen yang lebih senior dari Ubed melakukan hal yang sama, yaitu membuka mata publik, walaupun dengan risiko dipecat sebagai Aparatur Sipil Negara.

“Banyak betul dosen bodoh di universitas negeri yang ga mau banyak risiko,” singgungnya.

Buat saya sih yang bodoh ya Ubed dan tentu saja Rocky. Tuduhan Ubed sangat mengada-ada. Bagi yang tidak mengikuti kasus ini, saya jelaskan dulu ya duduk perkaranya.

Karena yang belakangan ini lebih sering dibicarakan adalah Kaesang, dalam penjelasan ini saya akan lebih sering menyebut nama Kaesang ya.

Jadi begini. Kaesang adalah pengusaha muda yang sukses. Sebagai pengusaha, Kaesang memiliki banyak mitra, rekan kerja, bahkan penyuntik modal. Publik mungkin terutama mengenalnya karena Sang Pisang.

Namun sebenarnya ragam usahanya jauh lebih luas dari itu. Dia misalnya adalah CEO dari grup usaha GK Hebat yang melahirkan selain Sang Pisang, juga Ternak Kopi, Yang Ayam, Lets Toast, Enigma Camp, dan Siap Mas.

GK Hebat yang berkonsentrasi pada kuliner ini berorientasi pada pengembangan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Kaesang tidak mendirikan GK Hebat sendirian.

Perusahaan Kaesang dan Gibran, bernama PT Siap Selalu Mas, berkongsi dengan PT Wadah Masa Depan yang terafiliasi dengan keluarga Gandi Sulistiyanto. Putra Gandi, Anthony Pradiptya, adalah salah seorang pemegang saham di GK Hebat.

Hubungan Kaesang dan Anthony inilah yang dijadikan alasan bagi Ubed untuk menuduh Kaesang KKN. Dia mempersoalkan relasi bisnis Kaesang dengan Anthony yang adalah putra Gandi.

Gandi adalah seorang professional yang bekerja selama puluhan tahun dan pernah menjadi Manager Director di grup raksasa Sinar Mas. Dia sangat sukses mengembangkan Sinar Mas.

Pada 2014, salah satu anak perusahaan Sinar Mas, PT Bumi Mekar Hijau (BMH) diajukan ke pengadilan oleh Kementerian dan Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena pembakaran hutan seluas 20 ribu hektar di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Tuntutan ganti rugi yang diajukan KLHK sangat besar, mencapai 7,8 triliun rupiah. Oleh pengadilan Negeri Palembang, BMH dinyatakan tidak bersalah.

Namun pada 2016, Pengadilan Tinggi membatalkan keputusan Pengadilan Negeri. Pengadilan Tinggi menyatakan BMH bersalah, hanya saja dengan nilai ganti rugi yang jauh lebih rendah, yakni hanya 78,5 miliar rupiah

Pada 2019, Mahkamah Agung memperkuat keputusan Pengadilan Tinggi. BMH diputuskan bersalah dan harus membayar ganti rugi 78,5 miliar rupiah. Lalu di mana letak tuduhan KKN tadi?

Mengikuti logika Ubed, rendahnya hukuman yang diberikan kepada BMH ada kaitannya dengan hubungan antara Kaesang dan Anthony yang adalah putra Gandi, yang adalah mantan Manager Director Sinar Mas.

Ini dungu keterlaluan.

Ubed nampaknya berimajinasi bahwa Gandi sengaja menanamkan anaknya, Anthony, ke dalam perusahaan Kaesang agar Kaesang mempengaruhi ayahnya, Jokowi, agar Jokowi kemudian memerintahkan Mahkamah Agung memberikan hukuman ganti yang ringan kepada BMH.

Ubed ini dosen atau apa ya?

Sebagai dosen dia seharusnya bisa berpikir berdasarkan bukti. Ya benar Kaesang memiliki hubungan bisnis dengan Antoni. Ya benar Antoni adalah anak Gandi yang adalah mantan petinggi Sinar Mas yang salah satunya anak perusahaannya adalah Bumi Mekar Hijau.

Ya benar BMH dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung dan harus membayar hanya 78,5 miliar rupiah yang sebenarnya jauh lebih rendah dari tuntutan pemerintah.

Tapi hubungan kausalitasnya, hubungan sebab-akibatnya di mana?

Pengadilan Tinggi mengeluarkan keputusannya pada 2016, jauh sebelum ada GK Hebat.

Lantas, kalau Presiden Jokowi memang mau melindungi Sinar Mas, ada satu cara yang lebih gampang, yaitu memerintahkan KLHK tidak naik banding ketika Pengadilan Tinggi menetapkan ganti rugi 78,5 miliar kepada BMH.

Dan sejak kapan juga, Jokowi mengintervensi keputusan MA?

Pemerintah berulangkali dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, dan pemerintah secara patuh mengikuti perintah tersebut tanpa berusaha mengintervensinya.

Lebih konyol lagi, Ubed menuduh adanya dugaan KKN ini karena ada suntikan modal lebih dari 90 miliar rupiah dari perusahaan yang terafiliasi dengan Sinar Mas kepada GK Hebat.

Berdasarkan fakta itu, dengan jumawa, Ubed mengatakan: “Patut diduga telah terjadi KKN antara Grup Sinar Mas dengan anak-anak Presiden yang dampaknya secara langsung telah merugikan keuangan negara dan secara tidak langsung di saat yang sama telah memperkaya anak-anak Presiden”.

“Menjadi tanda tanya besar,” kata Ubed, “apakah seorang anak muda yang baru mendirikan perusahaan dengan mudah mendapatkan penyertaan modal dengan angka yang cukup fantastis kalau dia bukan anak presiden,” kata dia.

Ini kan dungu luar biasa.

Kalau ada anak perusahaan Sinar Mas menyuntikkan dana pada GK Hebat, ya biasa-biasa sajalah, apalagi Anthoni memang pemegang saham di sana.

Dan kalau ada pihak lain yang bersedia menanamkan dana di perusahaan Kaesang, ya juga biasa-biasa saja. Ubed ini seharusnya tahu bahwa saat ini dikenal apa yang disebut sebagai perusahaan ventura.

Bisnis mereka adalah menanamkan modal di perusahaan-perusahaan yang dianggap punya prospek baik di masa depan. Dan angkanya memang bisa puluhan atau ratusan miliar. Dan pemiliki modal ventura tidak akan berpikir tentang usia para pendiri dan pengelola perusahaan.

Yang mereka lihat adalah potensi keberhasilan di masa depan. Bagi mereka yang penting adalah apakah pendiri, pengelola, CEO perusahaan di mana mereka akan menyuntikkan modal memang punya reputasi menjanjikan.

Ada banyak perusahaan start up saat ini yang dikelola anak muda yang memperoleh suntikan dana ventura. Contohnya saja Startup yang bergerak di bidang makanan dan minuman (F&B) Kopi Kenangan, yang baru berdiri beberapa tahun, tapi sekarang menyandang status Unicorn.

Kopi Kenangan mendapatkan suntikan dana 1,3 triliun rupiah dari Tybourne Capital Management, yang diikuti sejumlah investor lain, seperti Horizons Ventures, Kunlun dan B Capital, serta investor baru, yaitu Falcon Edge Capital.

Atau ada pula rumah produksi yang didirikan oleh Angga Dwimas Sasongko, Visinema, mendapat suntikan dana dari perusahaan modal ventura Indonesia, Intudo Ventures, sebesar Rp45,5 miliar, hanya untuk satu pengembangan film animasi anak, berjudul Nussa.

Begitu juga dengan GK Hebat.

Mereka beberapa waktu yang lalu dikabarkan memperoleh suntikan dana 92 miliar rupiah dari Walker Strategic Investment, dan dengan dana itu mereka membeli 8 persen saham perusahaan Frozen Food Pt Panca Mitra Multi Perdana Tbk (PMMP).

Salah satu perusahaan ventura yang mengalirkan dana pada perusahaan Kaesang dan Gibran juga adalah Alpha JWC. Mereka menginjeksi Rp70,5 miliar kepada bisnis Gibran bernama Goola pada 2019.

Kemudian baru-baru ini dikabarkan bisnis kuliner Kaesang dan Gibran bernama Mangkok Ku menerima suntikan dana tahap awal (seed funding) sebesar 2 juta dolar AS atau setara Rp28,3 miliar dari Alpha JWC.

Nama JWC diambil dari tiga nama pendirinya: Jefrey Joe, Will Ongkowidjaja, dan Chandra Tjan.

Jefrey Joe adalah lulusan dari tiga kampus top dunia: University of California, Monash University dan London Bussines School. Will Ongkowidjaja, yang merupakan keluarga Konglomerat Ongkowidjaja, menyabet master dari Harvard University, dan menjadi kolumnis tetap Forbes.

Sedangkan Chandra Tjan adalah lulusan The University of Sydney dalam bidang finance, economics dan manajemen.

Bloomberg menaksir total kekayaan Alpha JWC mencapai 433 juta dolar. Mereka adalah orang-orang super pintar. Mereka tidak akan menanamkan modal ventura karena alasan pemilik perusahaan adalah anak presiden.

Dan kalau sekarang mereka mengucurkan dana kepada usaha yang dikelola putra-putra Presiden, itu dilakukan karena kalkulasi bisnis saja.

Putra-putra Jokowi tidaklah korup. Mereka tidak melakukan Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Seperti saya katakan, Ubed jelas mengada-ada.

Tapi barangakali memang tujuannya bukanlah untuk membongkar korupsi, karena Ubed pun tahu Kaesang dan Gibran tidak korup. Ubed ingin membangun image negatif, dan apa yang dilakukannya jahat.

Komentar