KISAH PUTRA MAHKOTA BAHAR, ISTRI, DAN SOPIR ONLINE

Oleh: Ade Armando

Bahar bin Smith nampaknya sudah punya putra mahkota yang nanti akan melanjutkan kepemimpinannya. Nama putra mahkota itu adalah Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin Smith, putra dari istri pertama Bahar bin Smith.

Maulana baru berusia sekitar 10 tahun. Namun tekadnya untuk menjadi pejuang seperti Ayahnya sudah terlihat.

Saat ini beredar viral, video yang menampilkan Maulana membawa pernyataan berbunyi begini:

“Ayahanda… Jika harga kebenaran adalah kematian Maka kesudahan terbaik adalah kematian membela kebenaran.”

Luar biasa. Maulana ini betul-betul percaya bahwa Ayahnya masuk penjara karena sedang memperjuangkan kebenaran. Tapi ini bukan kali pertama nama Maulana mencuat.

Pada pertengahan 2020, ketika Bahar masuk penjara pertama kali, anak SD ini juga membuat video untuk sang Ayah. Dalam video itu, ia meminta muslim di Indonesia untuk mendoakan keselamatan Ayahnya yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batu Nusakambangan.

Ia mendoakan agar Ayahnya agar diberikan kesabaran dan ketabahan. Hebatnya, di ujung video, Maulana mengatakan, “Insya Allah, ana bisa memperjuangkan aba ana.”

Maulana adalah anak pertama dari pernikahan pertama Bahar. Dari istri pertama Bahar, Fadlun Faisal Balghoits, Bahar memiliki empat anak: Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin Smith, Syarifah Aliyah Zharah Hayat Smith, Syarifah Ghaziyatul Gaza Smith, dan Sayyid Muhammad Rizieq Ali bin Smith.

Bahar sendiri nampak memang ingin mengorbitkan Maulana. Bahar membawa Maulana ke berbagai acara yang diikutinya. Bahkan ada video yang menggambarkan bagaimana para pengikut Bahar menciumi tangan Maulana.

Juga ada sebuah video yang memperlihatkan bagaimana Maulana menyanyikan lagu Mars Prajurit Pembela Rasulullah, diikuti oleh ratusan para pecinta Bahar.

Nama organisasi yang dipimpin Bahar adalah Majelis Pembela Rasulullah. Yang dinyanyikan Maulana adalah mars organisasi tersebut. Tapi liriknya sangat menakutkan, terutama untuk dinyanyikan oleh anak sekecil Maulana.

Saya kutipkan saja liriknya:

“Prajurit pembela Rasulullah / Bangkitlah untuk agama / Satukan hati , satukan jiwa / Musuh di depan mata / Lawan dia sampai berdarah / Untuk agama dan negara tercinta / Kematian murah harganya / Habisi pengkhianat bangsa / Kami berjanji demi Allah / Rela binasa demi agama / Berjuanglah tanpa lelah / Walau harus merangkak dengan mata / Tak akan mundur walau satu langkah / Serahkan jiwa untuk agama / Mencari jihad di jalan Allah / Maju pantang menyerah / Walau bergelimang darah / Mati syahid adalah hari raya”

Bayangkan itu dinyanyikan dengan suara keras oleh seorang anak berusia 10 tahun. Dia bicara soal musuh di depan mata, mati syahid, bergelimang darah, serahkan jiwa, kematian murah harganya,

Itu menunjukkan betapa Maulana sudah dibesarkan dengan narasi kebencian, kekerasan, kemarahan, kematian.

Tapi itu nampaknya dengan sengaja dilakukan karena Bahar memang percaya bahwa pemimpin Islam seharusnya pemimpin yang menggunakan kekerasan untuk melawan apa yang dianggapnya sebagai kezaliman.

Bahar memang percaya bahwa di masa ini umat Islam harus bersedia berperang, bersedia mati untuk memperjuangkan Islam. Sekarang saja beredar kabar bahwa Bahar tanpa rasa takut ditahan. Dia bahkan membawa kain kafan ke rumah tahanan.

Salah seorang YouTuber yang fans berat Bahar mengatakan apa yang dilakukan oleh Bahar dengan membawa kain kafan adalah pelajaran bagi seluruh umat Islam untuk tidak takut menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan.

Karena itu tidak heran bila keluarga Bahar dibesarkan dengan bahasa kekerasan. Bahkan kekerasan yang tak terkait agama.

Salah satu kisah yang menggambarkan bagaimana Bahar menganggap kekerasan adalah tindakan yang normal atau bahkan wajib adalah apa yang terjadi dengan istri keduanya, Jihana Roqayah.

Jihana sendiri sudah meninggal dunia, kabarnya akibat kecelakaan di Jalan Tol Cipali, pada 2019. Namun sebelum meninggal, pernah ada cerita tentang Jihana dan seorang supir taksi.

Suatu malam, Jihana pulang ke rumah larut malam dari Jakarta, sekitar pukul 11 malam. Jihana tinggal di sebuah rumah kontrakan khusus di Bogor. Dia pulang dengan menggunakan taksi online.

Setibanya di kediaman Jihana, sang supir, bernama Andriansyah, didatangi Bahar. Walau sang supir sudah menjelaskan bahwa dia hanya mengantarkan pulang Jihana, Bahar tetap tidak terima.

Bahar menuduh Andriansyah menggoda Jihana. Andriansyah digebuki sampai babak belur. Bahkan ada saksi yang menyatakan, Andriansyah diinjak-injak Bahar.

Ini yang menyebabkan akhirnya Bahar mendapat tambahan hukuman penjara setelah pengadilan menemukan bahwa Bahar memang melakukan pelanggaran pidana karena menggebuki Andriansyah.

Jadi sebagai seorang Ayah, kepala keluarga, Bahar memang pemberi contoh yang baik tentang kekerasan.

Mungkin karena Jihana sudah meninggal pada 2019, saat ini yang lebih memperoleh perhatian adalah Fadlun Faisal, istri pertama Bahar.

Fadlun dikenal sebagai sosok perempuan cantik bersuara merdu. Ini gara-gara Fadlun memang pernah terekam bernyanyi di sebuah karaoke bersama Bahar.

Namun sebelumnya, Fadlun juga pernah muncul dalam aksi menggeruduk rumah Nikita Mirzani, November 2020.

Ketika itu, Nikita mengejek Rizieq Shihab yang baru saja pulang dari Saudi. Akibatnya rumah Nikita pun didatangi sekitar sekitar 10 pecinta Rizieq yang marah dengan pernyataan Nikita.

Aksi persekusi Nikita itu gagal karena rumah Nikita keburu dijaga polisi. Tapi, ya namanya Nikita, dia malah kembali membuat Instastory yang menyindir para pemrotes.

Di situlah, Nikita menyebut bahwa salah satu yang datang adalah istri Bahar. Walau Nikita tidak menyebut nama, kemungkinan besar itu adalah Fadlun.

Tapi kita tentu tidak perlu khawatir dengan Fadlun.

Dia mungkin cuma ikut-ikutan. Yang kita perlu prihatinkan adalah Maulana dan adik-adiknya. Mereka dibesarkan dengan ajaran penuh kebencian dan kekerasan dari sang Ayah.

Saat ini saja Bahar ditangkap karena menyebarkan kebohongan bahwa polisi telah menyiksa dan kemudian membunuh dengan keji para anggota Laskar FPI.

Itu adalah fitnah yang terang benderang. Bahkan Bahar pun pasti sadar bahwa itu kebohongan. Sebelumnya, di pidato pertamanya setelah ia bebas dari penjara ia menyatakan akan menghabisi ulama yang mengkhianati Rizieq Shihab satu per satu.

Dalam pidatonya itu ia menyatakan: “Karena itu saya sampaikan ente orang, para habaib, para kiai, para ulama, siapapun ente, mau ente anaknya wali, mau ente anaknya ulama, kalau ente mengkhianati Habib Rizieq, bakal ane habisi satu satu satu!”

Kata Bahar: “Ketika Rizieq dipenjara, kalian melempem, kalian jadi lembut kepada orang-orang yang zalim. Saya bakal cari kalian satu persatu. Bakal saya habisi, berapa pun kalian, bakal saya habisi dan saya musnahkan.”

Dengan orangtua semacam itu, Maulana bisa berkembang menjadi sosok yang menghancurkan.

Mudah-mudahan saja dia dan adik-adiknya bisa diselamatkan.

Komentar