RIZIEQ PEMAKI GUSDUR MAU DIBERI PENGHARGAAN?

Oleh: Syafiq Hasyim

Gerakan untuk menghidupkan Habib Rizieq di tengah-tengah masyarakat dicoba kembali oleh lima tokoh, Refly Harun, Rizal Ramli, Rocky Gerung, Natalius Pigai dan Lieus Sungkharisma. Tidak tanggung-tanggung, lima tokoh ini, menurut Refly Harun, ingin menyematkan pernghargaan atas Habib Rizieq sebagai tokoh yang menggalang persatuan umat demi NKRI.

Saya tidak tahu kriteria dan alasan khusus apa yang digunakan untuk penghargaan itu, tapi sekali lagi, namanya juga penghargaan, kriteria dan alasan apapun terserah mereka yang memberi penghargaan. Apalagi ini sifatnya individual masing-masing yang memberikan penghargaan.

Namun jika boleh saya memiliki penilaian lain atas penghargaan yang disematkan pada sosok Habib Rizieq Shihab ini, saya juga ingin melihat itu secara detail dan ingin membandingkannya dengan tokoh yang lain.

Dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara, Habib Rizieq Shihab muncul pada saat awal kejatuhan Suharto. Beliau muncul sebagai salah satu tokoh Pam Swakarsa pada saat itu. Kita tahu semua, bahwa Pam Swakarsa adalah kelompok sipil yang dikerahkan secara besar-besaran untuk membela Suharto melawan gerakan Reformasi pada saat itu.

Pasca-Pam Swakarsa, Habib Rizieq mendirikan Front Pembela Islam (FPI). Tujuan utama FPI adalah amar ma’ruf nahi munkar, memerintahkan yang baik dan mencegah yang buruk. Dalam menjalankan misinya ini, FPI kerap kali melakukan operasi, merazia tempat-tempat yang mereka anggap sebagai tempat maksiat.

Masalahnya definisi tempat maksiat itu didasarkan pada pemahaman mereka sepihak. Karenanya, dalam menjalankan operasinya, mereka tidak peduli apakah tempat yang dirazia itu berizin atau tidak berizin. Bagi mereka, yang penting itu tempat maksiat, maka mereka akan merazianya. Urusan mereka adalah membuang maksiat. Mereka tidak juga memikirkan orang-orang yang bekerja di tempat itu.

Bahkan tidak jarang operasi mereka menyebabkan bentrok, baik dengan aparat maupun dengan pekerja. Bagi aparat, jika tempat itu berizin, maka tempat itu menurut negara legal dan karena legal maka mereka harus mendapatkan perlindungan.

Namun bagi Habib Rizieq dan FPI, meskipun tempat itu legal, tapi kalau tempat itu dijadikan sebagai sarana maksiat, maka mereka akan tetap melakukan razia atas tempat itu. Pihak aparat berpegang pada hukum nasional, Habib Rizieq dan FPI berpegang pada moral agama. Di sini bagaimana Habib Rizieq bisa dinobatkan sebagai tokoh pemersatu umat jika historisnya seperti ini?

Perlindungan Rizieq Shihab pada operasi FPI yang seperti ini terus-menerus dan tahunan berlaku.

Tidak sekadar mendukung razia-razia ke tempat yang mereka anggap sebagai tempat maksiat, Habib Rizieq juga suka menebar permusuhan atas tokoh dan kelompok yang dianggapnya berbeda dan menentang aksi FPI yang didukungnya.

Dakwah-dakwahnya, bisa ditelusuri lewat jejak digital, kerap kali mengumpat dan berkoar-koar bahwa si ini dan si itu laknat, dlsb.

Pernah dalam sebuah acara TV, Rizieq Shihab membuta-butakan Kyai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bagi kalangan NU, hal ini yang tidak bisa dimaafkan dari warga NU atas tindakan Habib Rizieq Shihab. Bagaimana tokoh bangsa dan tokoh yang mereka banggakan diperlakukan seperti itu. Sekali lagi, apakah jejak demikian yang menyebabkan Habib Rizieq diberi penghargaan oleh lima tokoh di atas.

Pada sisi yang lain ada tokoh seperti Jenderal Dudung dan Yaqut Qoumas sebagai misal. Keduanya adalah pejabat publik. Jenderal Dudung ini adalah tipe pejabat yang berani menyatakan sikap dirinya tentang agama dan jabatan yang diembannya. Saya merasa senang, ada seorang pejabat publik yang dengan lugas menyatakan pandangan-pandangan keagamaan yang netral di ruang publik. Meskipun tidak ada kewajiban untuk menyatakannya, namun itu tetap merupakan hal yang berguna bagi kita semua.

Di mana gunanya? Dengan pernyataannya di ruang publik, itu menunjukkan pada kita bagaimana si pejabat publik memposisikan keyakinan mereka untuk urusan tugas publiknya. Sebagai misal, apakah dalam memutuskan dan menjalankan kebijakannya itu, seorang pejabat publik itu lebih banyak dipengaruhi oleh agama yang dianut ataukah oleh aturan-aturan negara.

Tapi, sikap Dudung dan Gus Yaqut ini banyak dikritik, terutama oleh kalangan FPI dan pendukungnya.

Dalam sejarah, nampaknya kita hanya merasa bangga dan senang jika pejabat publik yang menyatakan gairah keislamannya saja. Hal ini mengingatkan kita pada zaman Orde Baru, zaman berjayanya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, di mana banyak pejabat negara yang ramai-ramai mendeklarasikan diri mereka sebagai orang yang berislam di ruang publik.

Itu disebabkan karena Suharto mendirikan dan mendukung ICMI di akhir-akhir periode kekuasaannya. Karena begitu maraknya kecenderungan itu, sehingga muncullah istilah ijo royo-royo. Warna ijo atau hijau ini diidentikkan dengan warna Islam. Di kalangan militer juga tak terkecuali terjadi seperti itu. Sebutan jenderal yang menunjukkan pemihakannya ke organisasi Islam di ruang publik tadi disebut dengan istilah jenderal hijau.

Atas hal itu, Gus Dur protes besar-besaran dan menganggap sikap itu sebagai sikap sektarianisme. Mengapa Gus Dur anggap sebagai sikap sektarianisme, karena jabatan publik itu tidak dibolehkan memihak pada kelompok keagamaan, apalagi jika ada agenda politik di baliknya. Beragama yang baik bagi pejabat publik itu hal penting, namun jika sudah di publik, maka seorang presiden, jenderal, gubernur, menteri, dan lain sebagainya ya harus menjadi pejabat untuk semua orang.

Karena negeri kita memang negeri semua orang, agama, keyakinan, dlsb, maka pemosisian diri untuk bisa diterima di semua golongan dan kelompok itu mutlak adanya. Banyak dari pejabat yang kurang sadar akan keadaan ini, sehingga mereka melakukan pemihakan yang sangat kentara. Kata mereka, wajar saja seorang pejabat publik untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada kelompok mayoritas. Narasi ini sering disampaikan untuk menjustifikasi sikap ketidaknetralan mereka.

Kenapa kita tidak bangga dan senang jika ada pejabat kita yang mencoba menyuarakan sikap kenegaraan dan kebangsaannya atas keyakinannya di ruang publik. Ketika Dudung menyatakan pikiran dia tentang Tuhan kita bukan orang Arab, pada dasarnya dia ingin mengungkapkan kebangsaan dan keagamaan itu bisa bersatu. Namun orang ramai-ramai mencemooh dan mengritiknya padahal dia ingin menyatakan bahwa sebagai orang Indonesia dia bisa menjalankan agamanya dengan nilai-nilai kebangsaan yang terus melekat padanya.

Ketika Gus Menteri Yaqut menyatakan komitmennya untuk mengafirmasi kelompok minoritas, maka hal itu adalah hal yang perlu juga kita rayakan sebagai bangsa Indonesia. Bangsa ini akan hidup terus karena jika kita senantiasa memelihara dan merayakan keberagaman.

Sebagai catatan, memberikan pernghargaan pada tokoh-tokoh yang disenanginya itu hak sepenuhnya bagi pihak yang memberikan penghargaan. Tapi rekam jejak akan memberi tahu kita semua apakah penghargaan yang kita berikan benar-benar penghargaan atau masalah kesenangan politik saja.

Komentar