RIZEQ SUDAH DIPENJARA, TAPI ANCAMAN ADA DI MANA-MANA

Oleh: Ade Armando

Di awal tahun ini, mari kita berefleksi tentang tantangan yang akan dihadapi ke depan ini. Rizieq sudah dipenjara. Munarman mungkin akan segera menyusul. Yahya Waloni nampaknya mengalami hal serupa.

FPI sudah dibubarkan. HTI sudah dibubarkan. Tapi salah sekali bila Anda menyangka perjuangan sudah selesai.

Kita tahu segenap ketertiban ini tercapai kita saat ini memiliki pemerintah yang tegas. Kalau bukan Jokowi, saya ragu apakah organisasi seperti FPI dan HTI bisa dibubarkan. Ini tidak berarti polisi dan militer takut.

Tapi tanpa ada anggukan setuju dari orang nomor satu, mereka tetap akan ragu. Kelompok seperti FPI bisa berkembang sedemikian besar karena mereka tahu dulu pemerintah ragu.

Mantan Sekjen FPI Munarman pernah mengancam akan membubarkan pemerintah ketika ada kabar pemerintah – di era SBY – akan membubarkan mereka.

Jadi di era SBY, FPI besar kepala. Dan itu terjadi karena pemerintah memilih tidak mau cari masalah. Atau bahkan pemerintah ketika itu memanfaatkan FPI untuk tujuan-tujuan politik mereka.

Ini yang tidak dilakukan Jokowi. Jokowi tidak mau didikte preman-preman berjubah itu. Jokowi tidak mau berkompromi.

Dan Jokowi melihat langsung bagaimana kelompok-kelompok radikal menghancurkan kerekatan hubungan bangsa Indonesia. Jokowi sama sekali tidak anti Islam. Tapi dia melihat langsung bagaimana berbahayanya kelompok yang disebut sebagai Islamis radikal.

Kaum Islamis radikal adalah orang-orang Islam yang merasa wajib membangun sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang Islam yang akan menegakkan hukum Islam alias syariah Islam. Kaum Islamis radikal percaya menegakkan negara berbasis syariah itu kewajiban setiap muslim

Dan mereka akan memperjuangkannya dengan cara apapun. Cita-cita ini sudah hidup sejak awal kemerdekaan Indonesia. Ketika itu para kelompok Islamis berusaha memasukkan gagasan tentang kewajiban umat Islam menjalan syariat Islam ke dalam pembukaan UUD 1945.

Untung digagalkan para pendiri bangsa yang datang dari latar belakang nasionalis. Namun cita-cita itu tidak mati.

Di era Soeharto sampai tahun 1990an, para pengusung gagasan Negara Syariah Indonesia bersembunyi karena kebencian Soeharto dan TNI pada Islam politik. Namun sejak reformasi, gerakan Islamis radikal ini memperoleh momentum untuk terus berkembang.

Itulah yang dihadapi Jokowi. Ia melihat langsung bagaimana berbahayanya pemanfaatan agama untuk kepentingan politik di era Pilgub DKI 2017

Dia juga terus diserang kaum Islamis radikal di sepanjang masa kepresidenannya.Dan itulah yang mungkin menjadikannya sedemikian tegas menghadapi kaum Islamis.

Tapi seperti saya katakan, cerita masih panjang.

Kecuali dia berubah pikiran, Presiden Jokowi hanya akan menduduki jabatan sampai 2024.

Penggantinya belum tentu akan setegas Jokowi.

Lebih buruk lagi, mungkin saja penggantinya adalah kaum pragmatis yang akan memfasilitasi agenda kaum Islamis radikal.

Karena itu, dalam sisa dua-tiga tahu ini, kita harus memanfaatkan momen untuk melawan kampanye kaum Islamis radikal.

Tahun ini, perjuangan masih harus terus dilakukan, kalau perlu ditingkatkan.

Mereka yang mengusung gagasan Islamis radikal ada di mana-mana.

Perwujudannya bisa sangat beragam.

Salah satu yang paling nyata memang PKS.

Namun jangan salah, ada banyak kader Islamis radikal yang menyusup atau tumbuh di berbagai partai politik nasionalis.

Mereka itulah yang bertanggungjawab atas berbagai Perda Syariah di berbagai daerah di Indonesia.

Mereka tidak hanya berkonsentrasi di partai politik.

Bahkan salah satu pelajaran yang mereka peroleh selama ini dari perjalanan politik Indonesia, adalah jangan hanya menggunakan partai politik untuk mencapai cita-cita Islamisasi.

Partai partai politik yang membawa bendera Islam hampri pasti memperoleh hanya sedikit suara dalam Pemilu.

Karena itulah, mereka menyebar ke semua partai politik.

Tapi di sisi lain, mereka berusaha berpolitik melalui jaringan lembaga strategis lain.

Contoh lain yang paling baik adalah bagaimana mereka menguasai Badan Eksekutif Mahasiswa di berbagai perguruan tinggi negeri.

Mereka memilih melakukan kaderisasi di BEM Universitas Negeri karena mereka tahu posisi BEM di sana sangat strategis untuk membangun opini publik dan memberikan tekanan kepada pemerintah.

Suara BEM selama ini dipersepsikan sebagai netral, independent, objektif.

Padahal dalam kenyataannya mereka justru dijadikan perpanjangan tangan gerakan-gerakan Islamis.

Ada begitu banyak perguruan tinggi negeri yang sudah dikuasai Islamis radikal selama bertahun-tahun.

Tapi bukan cuma mahasiswa yang mereka jadikan objek.

Di kampus-kampus, mereka menyusup melalui jajaran pengajar, dosen, manajemen, birokrasi kampus sampai pimpinan Departemen, Fakultas dan Universitas.

Indoktrinasi Islamisme dilakukan di kelas-kelas kuliah, di ruang diskusi, di musholla, di seminar.

Di dunia Pendidikan, perguruan tinggi hanya salah satu wilayah pertarungan.

Mereka sudah mengembangkan pengaruh di lembaga Pendidikan lebih rendah, bahkan sampai ke SD.

Mereka mendirikan sekolah-sekolah Islam terpadu

Di banyak seolah terpadu itu, guru-gurunya bukan mengajarkan anak didik terutama menjadi pintar dan berbudi pekerti luhur namun untuk menjadi pejuang Islam di masa depan.

Kader-kader muda kaum Islamis bahkan turun mendekati adik-adiknya yang aktif di seksi kerohanian sekolah

Mereka memberikan bimbingan belajar

Bahkan sedemikian terorganisasinya mereka, sampai-sampai mereka bisa mengintervensi proses penerimaan mahasiswa baru sehingga mempermudah masuknya kader-kader Islamis radikal ke perguruan tinggi terkemuka.

Selain kampus, mereka juga mempenetrasi instansi pemerintahan, kementrian dan lembaga-lembaga negara.

Kuatnya kaum Islamis radikal di KPK hanyalah salah satu contoh.

Di lembaga-lembaga lainnya pun jaringan mereka kuat.

Sebagian ada di jajaran pimpinan, namun jauh lebih banyak berada di jajaran staf.

Di BUMN-BUMN juga begitu.

Ada yang dijajaran direksi, namun jauh lebih banyak di tingkat menengah ke bawah.

Dan mereka sangat pintar menguasai organisasi masjid dan musholla di kantor-kantor itu.

Itulah yang menjelaskan mengapa ada banyak kantor yang memberikan kesempatan bagi ulama-ulama radikal untuk berceramah di saat shalat jumat dan pengajian.

Mereka sekarang merambah ke dunia hiburan.

Dengan cerdik mereka mengembangkan webseries dan bahkan seri animasi untuk melakukan indoktrinasi di platform media baru.

Mereka juga melakukan pendekatan kepada para artis muda terkenal untuk menjadi agen-agen propaganda Islamis radikal.

Fenomena artis hijrah adalah bagian dari strategi yang sistematis tersebut.

Bahkan fenomena artis mualaf juga tak lepas dari upaya itu.

Saya tahu ada artis-artis mualaf yang didekati para penyandang dana agar bersedia menjadi pembawa kampanye syariah, dengan imbalan tidak kecil.

Jadi, ancaman bagi Indonesia belumlah selesai.

Karena itu masyarakat sipil yang cinta Indonesia harus melakukan konsolidasi dan tidak boleh bosan melawan gagasan-gagasan kaum Islamis radikal.

Kami di Cokro TV adalah bagian dari perjuangan itu.

Komentar