KOK, POLISI SOWAN KE BAHAR SMITH?

Oleh: Eko Kuntadhi

Sebuah video beredar di masyarakat. Isinya menggambarkan beberapa orang sedang duduk bersila. Di situ ada Bahar Smith dan pengikutnya. Ada juga beberapa anggota polisi, meski mereka tidak pakai pakaian dinas.

Yang merekam video itu, dipastikan orangnya Bahar. Buktinya potongan video yang beredar berisi seolah-olah Bahar sedang menceramahi beberapa tamu yang anggota kepolisian itu. Bahkan di akhir video, para polisi itu saling cipika-cipiki dengan Bahar. Mesra banget.

Kesan yang terbangun saat orang menonton video tersebut adalah ada beberapa anggota polisi sedang sowan ke kediaman Bahar. Duduk bersila, manggut-manggut diceramahi. Lalu mereka pamit pulang dengan berpelukan kayak Teletubies. Berpelukan…

Tentu saja sebagian netizen heran melihat video itu. Sebagian lagi geram karena melihat adegan yang kayaknya aneh itu.

Apalagi yang didatangi oleh polisi adalah seorang Bahar Smith, orang yang baru saja menghina kepala negara dengan sebutan bang-tiiittt (disensor).

Bukan hanya Presiden yang dihina oleh Bahar. Bahar juga terang-terangan menghina KASAD Jenderal Dudung Abdurahman.

Tidak cukup dengan menghina, Bahar menantang, katanya dia tidak takut dipenjara, dia pengin membusuk di penjara. Ia menantang polisi dan aparat keamanan. Bahar juga menantang institusi TNI dengan menghina petinggi-petingginya.

Pantas netizen geram, jika yang dilihat hanya cuplikan video itu saja. Tanpa ada keterangan lain. Video itu telah diframing oleh tim Bahar sedemikian rupa.

Netizen geram dan mereka tidak nyaman menyaksikan video ada polisi yang sowan ke tempat orang yang mulutnya kotor itu. Mereka, atau netizen inginnya orang seperti Bahar yang sok jagoan diseret ke tahanan. Bukan hanya didatangi dengan nada yang sangat ramah tersebut. Sebab memang, kalau mendengar ceramahnya di depan jemaah yang penuh caci maki dan kata-kata kotor, orang yang mendengar ceramah itu pasti muak dengan Bahar Smith dan kelakuannya.

Apalagi jika video itu dikaitkan dengan arahan Presiden Jokowi kepada kepolisian beberapa waktu lalu, kata Presiden, jangan pernah sowan ke ormas yang sering membuat onar dan melanggar hukum. Ke orang-orang yang petantang-petenteng melanggar hukum. Kata Pak Jokowi, jangan sowan kepada mereka yang selama ini petentang-petenteng dengan alasan demi menjaga suasana kondusif.

Jadi wajar jika kemudian netizen protes dengan video itu. Tapi saudara-sudara, ternyata faktanya bukan cuma video yang dipersepsikan bahwa petugas sedang sowan ke Bahar Smith.

Iya, para petugas itu memang datang ke kediaman Bahar di Bogor, tapi kedatangannya untuk menyampaikan surat bahwa kasusnya sudah masuk ke tahap penyidikan. Artinya apa? Artinya ujaran kebencian dan fitnah yang disemburkan Bahar dalam ceramahnya kini sedang serius diproses hukum.

Nah, video tersebut adalah cuplikan para penyidik yang menyerahkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) kepada Bahar Smith. Penyerahan itu dilakukan di kediaman Bahar di Bogor, Jawa Barat. Menyerahkan SPDP memang merupakan prosedur yang harus dijalani kepolisian untuk setiap kasus. Termasuk kasus Bahar Smith ini yang sekarang ditangani Polda Jawa Barat.

Artinya, video yang beredar itu dibuat framing sedemikian rupa seolah para polisi sedang sowan dan diceramahi oleh Bahar. Padahal kejadiannya bukan begitu. Polisi datang ke sana untuk memberitahukan kepada Bahar bahwa kasusnya sedang diproses.

Dan sebentar lagi Bahar harus mempertanggungjawabkan ocehannya yang penuh kebencian dan fitnah itu di depan sidang pengadilan. Jika terbukti, maka Bahar akan bertemu lagi dengan Ryan Jombang di penjara.

Dengan kata lain, polisi sedang bekerja untuk menyelesaikan kasus ini. Untuk menyeret Bahar Smith kembali masuk bui.

Mungkin aparat yang datang ke kediaman Bahar tidak menyangka video kedatangannya itu bisa tersebar cepat ke publik. Melalui cuplikan video itu, Bahar dan timnya seperti sengaja ingin menciptakan narasi bahwa polisi dan institusi kepolisian tunduk terhadap Bahar.

Tapi ini zaman media sosial. Seringkali kita lebih melihat kulit ketimbang memahami isinya. Iya, dalam video tersebut Bahar seperti berkoar-koar di depan polisi. Tapi kan petugas gak ada guna juga untuk berbantahan saat itu. Bagi petugas kepolisian, soal bantah-bantahan itu nanti saja di pengadilan.

Makanya kita melihat seolah pihak polisi santai saja ketika Bahar ngoceh. Mereka juga tetap menjaga sopan santun bertamu ke rumah orang.

Saya sih memandang, dengan tersebarnya video tersebut, polisi harus bekerja lebih cepat untuk menyeret Bahar ke pengadilan. Jangan sampai kasus ini dibiarkan berlarut-larut. Apalagi videonya sudah tersebar.

Dengan video tersebut bisa saja membangun persepsi publik bahwa aparat sangat ramah kepada sang pencaci ini. Bahkan bisa membentuk persepsi lebih jauh lagi, bahwa institusi negara seolah-olah tunduk kepada Bahar.

Pendekatan humanis dalam menjalankan hukum boleh saja dikedepankan. Sepanjang hal itu tidak menghilangkan kewibawaan institusi.

Sementara pendekatan terhadap Bahar ini, pada akhirnya kan terbukti digoreng oleh kelompok mereka untuk menciptakan kesan polisi “tunduk terhadap Bahar”. Padahal gak begitu.

Kalau saya sih, sudah gak sabar menunggu kerja kepolisian Jawa Barat. Sebab harga diri lembaga yang dihina Bahar harus dipulihkan oleh hukum. Hukum harus bertindak tegas terhadap para pengacau seperti ini.

Dan jangan lupa, Ryan Jombang juga sudah kangen. Mau berjumpa Bieb Bahar lagi di penjara.

 

Komentar