GERAKAN 212 GAGAL DIJADIKAN LOKOMOTIF POLITIK 2024

Oleh: Syafiq Hasyim

Nampaknya persiapan menuju 2024 sudah mulai dipukul genderangnya oleh kelompok 212. Reuni 212 yang bisa dikatakan tidak begitu sukses, kini dilanjutkan dengan gerakan lain. Gerakan ini mungkin dilatarbelakangi oleh kegagalan mereka, yakni hilangnya lokomotif dan semangat gerakan. Mereka perlu seorang pemimpin yang kharismatik untuk mengantisipasi peristiwa politik tahun-tahun mendatang.

Di tahun-tahun mendatang, paling tidak tahun 2023 ke atas, adalah tahun politik. Ada Pemilu Presiden dan juga ada Pilkada. Agenda yang besar ini jangan sampai tidak ada peran dan pengaruh mereka.

Hitungan-hitungan seperti ini yang menyebabkan kelompok 212 dan yang berkaitan dengan Habib Rizieq bergerak. Kemarin, Forum Ulama-Habaib datang ke Komisi III mengadukan kasus Rizieq-Munarman. Mereka minta Komisi III mengawal kasus yang dialami oleh HRS hingga Munarman. Forum ini nampaknya terdiri dari banyak kelompok di dalamnya yang memiliki “concern” yang sama dengan kepentingan gerakan yang selama ini dilakukan oleh HRS.

Sudah barang tentu, upaya seperti ini di dalam negeri demokrasi adalah hal yang sah dan wajar dilakukan, namun saya memiliki catatan tersendiri untuk masalah ini.

Saya memprediksi jika forum-forum atau front-front seperti ini akan bermunculan di kemudian hari. Mereka melakukan gerakan protes dan lainnya karena di dalam gerakan mereka sudah dirasakan kehilangan pesonanya bagi publik. Beberapa kali kegiatan untuk membangkitkan kesuksesan gerakan 212 seperti tahun 2016-2017 tidak menunjukkan hasil yang maksimal bahkan cenderung tidak berdampak apa-apa.

Dari pengamatan saya, hal itu terjadi karena gerakan ini kehilangan lokomotif atau kepala penggeraknya, man of ideas-nya. Memang, semenjak HRS mengungsi ke Saudi, lalu balik ke Indonesia, lalu dipenjarakan karena kasus di Rumah Sakit Omni, gerakan 212 dan sejenisnya terasa hambar, bahkan tidak dipertimbangkan lagi.

Ternyata, mereka baru sadar bahwa sebuah gerakan selain membutuhkan momen dan musuh bersama untuk dihadapinya, faktor penggerak utama seperti kehadiran “dirijen” atau “man of ideas” juga sangat penting bagi mereka.

Karenanya, mereka ingin agar mereka memiliki orang seperti HRS. Selama ini memang ada semacam pengganti HRS, seperti ketua FPI sendiri, namun tetap tidak nendang. Nampaknya, mereka yang selama ini bersuara keras, baik dari kalangan aktivis mereka maupun dari kalangan politisi, itu bisa dikatakan hanya bertindak sebagai catatan kaki dari HRS. Kemampuan mereka untuk menarik massa bisa dikatakan “mlempem.”

Saya melihat kenyataan seperti ini sebagai kelemahan terbesar bagi gerakan mobilisasi Islam politik di Indonesia. Kita tahu semua bahwa gerakan dan mobilisasi Islam politik 2016-2017 diharapkan sebagai awal dari kebangkitan Islam politik di Indonesia. Namun ternyata tidak bisa terwujud oleh situasi sekarang ini. Dan itu semua terjadi karena mereka memandang jika kesuksesan gerakan itu sangat tergantung pada kehadiran sosok figur.

Parahnya, mereka tidak bisa mengatasi krisis kepemimpinan di dalam “orkestra” gerakan pasca-kesuksesan mereka ini dengan cara yang lain. Misalnya, karena gerakan ini tidak memiliki pemimpin spiritual yang langsung memimpin mereka, kenapa mereka tidak mengalihkan gerakan ini pada penekanan masalah isu yang diperjuangkan, bukan pada masalah kepemimpinan seseorang. Kepemimpinan atau man of ideas, itu memang ada pentingnya, namun bukan satu-satunya faktor yang determinan. Dalam konteks ini maka saya melihat pencarian kembali lokomotif bagi revitalisasi gerakan ini, misalnya dengan cara memperjuangkan kembalinya HRS, itu hal yang juga tidak memastikan keberhasilan gerakan itu.

Saya tahu bahwa di Indonesia tidak banyak gerakan yang berhasil sebagaimana gerakan 212. Saya tahu karena gerakan 212 ini memang cukup sukses, makanya mereka yang ingin menjaga dan bahkan mengulangnya untuk yang lebih besar lagi di kemudian hari. Namun mereka tidak menyadari bahwa gerakan itu berhasil bukan semata-mata karena kepemimpinan kharismatik pada gerakan ini.

Dalam sebuah gerakan sosial, kepemimpinan kharismatik memang diperlukan, terutama jika itu terjadi di kalangan masyarakat tradisional. Dan itu tidak bisa terjadi dua kali atau tiga kali perulangan sukses yang sama. Kenapa demikian? Ini sifat manusia gerakan saja yang memang demikian halnya. Kepemimpinan kharismatik itu gampang diterpa zaman karena sifatnya yang individual. Artinya, karena individual, maka sifat kharismatik yang menempel pada seseorang itu tidak bersifat konstan, terus-menerus, tergantung pada perilaku sang individual.

Saya ingin kemukakan di sini bahwa mengharapkan kembalinya HRS dan juga Munarman atau tokoh-tokoh lain yang mereka anggap memberikan insentif pada gerakan-gerakan Islam politik ke depan tidaklah efektif.

Saya juga berpikir bahwa gerakan 212 ini akan sulit kembali untuk moncer. Ada beberapa hal yang menjadi alasan saya untuk pendapat ini.

Berdasarkan pengalaman gerakan-gerakan yang hampir mirip dengan gerakan 212 di dunia lain, setidaknya ada tiga hal yang berpengaruh pada sebuah gerakan itu akan sukses besar dan mencapai target yang diinginkan.

Pertama, adanya kesempatan atau peluang struktural atau politik yang bisa dijadikan sebagai ide pergerakan. Sekarang ini, hampir bisa dikatakan jika kesempatan politik atau struktural untuk memobilisasi massa tertutup. Pemerintah atau negara secara umum dianggap telah memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Jika gerakan 212 mau tampil kembali lebih baik mempertimbangkan masalah ini daripada masalah ingin mengembalikan HRS ke lapangan. Karenanya, jika masalah ini tidak berhasil, mereka susun dan konsepkan, hampir mustahil gerakan 212 ke depan akan muncul kembali.

Kedua, gerakan 212 butuh untuk mengkerangkakan masalah yang ingin mereka perjuangkan. Artinya, seolah-olah apa yang mau mereka perjuangkan oleh gerakan 212 itu adalah masalah genting dan semua masyarakat perlu untuk melakukan hal yang sama dengan mereka. Hal ini yang nampaknya sulit untuk mereka lakukan.

Ketiga, hal yang agak sulit lagi, menurut saya, untuk mewujudkan kembalinya gerakan 212 yang paling tidak pada masa sekarang dan juga pada masa hajatan politik nasional mendatang adalah persoalan sumber daya. Jika kita saksikan beberapa kali gerakan 212, maka terlihat mereka sudah tidak memiliki sumber daya yang mampu memobilisasi sebuah gerakan. Situasi ini sangat berbeda dengan situasi 2016-2017. Selain itu penyedia sumber daya semakin mengecil bahkan menghilang dari gerakan ini. Hampir mustahil gerakan 212 akan bangkit jika sumberdaya tidak ada.

Sebagai catatan, upaya untuk mengembalikan gerakan 212 menjadi penting hampir dikatakan akan sulit. Mengembalikan gerakan 212 hanya dengan upaya mengembalikan HRS ke lapangan bukan hal yang menentukan, karena sebuah gerakan itu sukses ternyata bukan semata-mata disebabkan oleh faktor figur, tapi juga disebabkan oleh faktor lain yang lebih kompleks dan banyak.

 

Komentar