BUYA SYAKUR, YESUS DI KA’BAH DAN ISLAM TIDAK SEMPURNA

Oleh: Ade Armando

Buya Syakur saat ini menjadi salah seorang ulama yang dibenci kaum Islamis di Indonesia. Dia dibenci karena menunjukkan bahwa Islam yang diturunkan di masa Nabi Muhammad sama sekali tidak sempurna.

Dia dibenci karena menunjukkan betapa kuat persaudaraan Islam dan Kristen dalam sejarah Nabi. Dia dibenci karena mendorong umat Islam berpikir rasional dalam beragama. Dia dibenci karena berani membongkar apa yang selama ini sudah diyakini berurat berakar dalam masyarakat muslim.

Tokoh Islam yang nama lengkapnya Prof. KH Abdul Syakur Yasin MA ini memang luar biasa mencerahkan.

Dia adalah pemilik pesantren, sejak kecil adalah santri pondok, bicara dengan bahasa masyarakat awam, menempuh pendidikan tinggi di Timur Tengah, dan pikiran-pikirannya sangat kritis dan terbuka.

Salah satu penampilannya yang menggegerkan adalah ketika dia bicara di Mabes Polri awal November lalu. Kita semua masih bisa menyaksikannya di Youtube.

Dia misalnya membantah keyakinan umat Islam selama ini bahwa ajaran Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah ajaran yang sempurna.

Umat Islam, termasuk saya, memang selama ini didoktrin bahwa ajaran Islam sebagaimana termuat dalam Al-Quran dan Hadits adalah ajaran sempurna.

Kata Buya Syakur, itu tidak masuk akal. Doktrin tentang kesempurnaan Islam itu merujuk pada surat Al-Maidah ayat 4.

Dalam ayat itu, Allah berkata:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.”

Menurut Buya, dalam ayat itu Allah sedang berkata pada Nabi Muhammad bahwa Nabi Muhammad sudah menyelesaikan tugasnya sebagai Rasul dengan sempurna.

Namun belakangan pemahaman itu digeser, sehingga seolah-olah Allah menyatakan Islam adalah agama yang sempurna.

Padahal, kata Buya, mana mungkin di dunia ini ada kesempurnaan. Dia lantas memberi contoh soal perbudakan dan jual-beli perempuan. Di dalam Al-Quran, perbudakan dan penjualan perempuan adalah hal yang tidak dilarang.

Jadi kalau Al-Quran itu sudah sempurna, apakah itu berarti kita harus tetap mengizinkan perbudakan dan menjual perempuan?

Karena itu, Islam tidak bisa dianggap sempurna karena memang tidak akan mungkin sempurna.

Buat saya ini argumen yang brilian. Dan implikasinya sangat serius. Selama ini umat Islam memang memiliki semacam kesombongan bahwa agama yang dianutnya adalah agama sempurna.

Karena itu banyak umat Islam merasa dirinya paling benar, sementara yang lain salah.

Tapi yang lebih penting adalah bahwa karena sudah merasa sempurna, banyak pemuka Islam tidak merasa perlu melengkapi ilmu dengan perkembangan terbaru.

Jadi ada semacam kebekuan berpikir dalam beragama. Seolah hanya dengan melakukan apa yang termuat dalam ayat Al-Quran, atau mencontoh dan mengikuti apa yang dilakukan Nabi Muhammad di abad ke-7 Masehi, persoalan selesai.

Ini yang jadinya terbantahkan oleh argumen Buya Syakur. Menurutnya, yang disebut sempurna adalah sempurna di masa Nabi Muhammad hidup.

Jadi sudah lengkap buat Nabi Muhammad beserta para pengikutnya di masa itu, tapi itu tidak berarti sempurna untuk menjadi panduan super lengkap untuk semua umat manusia selama-lamanya.

Selain soal ketidaksempurnaan Islam, yang juga penting adalah paparan Buya Syakur tentang hubungan Islam dan Kristen.

Selama ini banyak sekali pemuka Islam yang memprovokasi narasi bahwa umat Islam tidak boleh memandang umat Kristen sebagai saudara.

Seolah ada permusuhan abadi antara kedua agama ini. Buya Syakur membantah itu dengan mengungkapkan bukti-bukti sejarah yang nyata.

Dia menggunakan jalan hidup Nabi Muhammad sebagai rujukan. Buya misalnya menduga Khadijah, istri Nabi, beragama Kristen. Khadijah selama ini memang diketahui memiliki paman beragama Kristen, yaitu Pendeta Waraqah.

Buya berspekulasi, pilihan Nabi Muhammad untuk hidup monogami dengan Khadijah selama hidupnya adalah karena ajaran Kristen yang melarang poligami.

Menurut Buya, umumnya kepercayaan yang hidup di Mekah saat itu adalah ajaran yang percaya pada poligami. Yang anti-poligami ya hanya Kristen.

Buya memang tidak menyebut bahwa Khadijah itu beragama Kristen. Tapi kalau mengikuti fakta yang ia tampilkan, memang sangat mungkin Nabi Muhammad monogami karena Siti Khadijah beragama Kristen.

Buya tidak berhenti di situ. Ketika Nabi Muhammad memperoleh ayat pertamanya di Gua Hira, kata Buya, Nabi Muhammad menemui paman istrinya itu untuk memperoleh pencerahan.

Jadi, Nabi memahami ayat-ayat Allah atas dasar tuntunan seorang pendeta Kristen. Yang juga penting, kata Buya, adalah ketika Nabi Muhammad beserta umatnya ditindas di Mekah.

Karena terus menderita, Nabi Muhammad memerintahkan pengikutnya mengungsi meninggalkan Mekah.

Yang menarik, tempat yang menjadi tujuan hijrah umat Islam adalah Habasyah, yang dipimpin oleh seorang raja Kristen. Dan di sana, umat Islam memang memperoleh perlindungan.

Tidakkah itu menggambarkan sesuatu mengenai hubungan Nabi Muhammad dengan Kristen?

Dari apa yang ia paparkan terasa sekali bagaimana Buya berusaha menunjukkan kepada umat Islam bahwa umat Kristen memiliki arti sangat penting bagi umat Islam.

Di ceramahnya yang lain, Buya juga mengungkapkan sejarah yang menarik yang tidak banyak diketahui umat Islam. Buya bercerita tentang apa yang dilakukan Nabi Muhammad ketika berhasil menguasai Mekah.

Begitu berhasil menaklukkan Mekah, Nabi Muhammad memerintahkan pengikutnya menumbangkan 480 berhala di kota itu. Nabi kemudian memasuki Ka’bah. Di dalamnya ternyata ada gambar Yesus dan gambar Siti Maryam menggendong Nabi Isa.

Sebagian pengikut Nabi ingin menghapus gambar itu. Tapi dilarang oleh Nabi. Nabi tidak mau gambar Yesus dan Siti Maryam dihapus dari Ka’bah.

Buat Buya, pelarangan ini merupakan bukti bahwa memang ada kedekatan hubungan Nabi Muhammad dengan kaum Nasrani.

Dalam pandangan saya, Buya Syakur adalah salah satu contoh ulama yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Selama ini dia tidak banyak dikenal karena dia memang berdakwah bukan di kota besar.

Ulama berusia 61 tahun ini adalah pendiri Pondok Pesantren Cadangpinggan, Indramayu. Dia adalah ulama dengan latar belakang pendidikan agama yang kokoh. Bukan ulama kaleng-kaleng. Dia menempuh pendidikan agama sejak kecil.

Dia menjadi santri di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin. Dia mahir berbahasa Arab. Dia bahkan menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Lulus pesantren, dia kuliah di Mesir. Di sana dia bahkan didaulat menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Kairo. Seusai lulus di Mesir, dia menempuh S2 di Libya dan Tunisia. Pada 1981, artinya pada usia 20 tahun, dia memperoleh gelar Master sastra linguistik di Tunisia.

Pada tingkat doktoral, Buya Syakur sempat mengambil kuliah di London dengan konsentrasi dialog teater.

Pada 1991, Buya Syakur pulang ke Indonesia bersama Gus Dur, Quraish Shihab, Nurcholis Majid dan Alwi Shihab.

Tapi berbeda dengan nama-nama besar itu, Buya Syakur memilih berdakwah di kampung halamannya, di Indramayu. Buya Syakur memilih bicara pada masyarakat daerah. Di era internet, beliau memperluas wilayah dakwahnya dengan menggunakan media sosial.

Sejak Mei 2017, masyarakat bisa mempelajari pemikiran-pemikiran pencerahannya melalui akun Youtube-nya di KH Buya Syakur MA.

Saya pernah membaca bahwa di mata Gus Dur ada tiga tokoh utama yang berpikir analitis dalam memahami Islam, yaitu Quraish Shihab, Nurcholish Madjid dan Buya Syakur.

Gus Dur rasanya tidak berlebihan. Buya Syakur terasa sekali ingin sekali agar umat Islam terus membuka pikiran. Kata Buya, selama ini umat Islam belajar agama dengan cara yang salah.

“Umat belajar agama dengan cara, pejamkan matamu, matikan lampu, tutup jendela, kunci pintu, yakinlah! Begitu caranya selama ini!” ujar Buya.

Itu semua menurutnya harus diubah. Kata Buya, sekarang umat harus berani berpikir kritis. Dan jangan takut murtad, hanya karena tidak mempercayai sesuatu yang belum tentu benar.

Umat Islam harus berpikir kritis, kritis, kritis, ujarnya. Saya sepenuhnya setuju dengan imbauan Buya Syakur. Ayo kita dukung sang Buya.

Komentar