POLISI DIFITNAH MELANGGAR HAM DALAM PENAHANAN FARID OKBAH

Oleh: Ade Armando

Penangkapan tiga ulama di Bekasi terkait terorisme menimbulkan kehebohan. Ketiga ulama itu diduga terlibat dalam jaringan teroris Jemaah Islamiyah.

Namun kini nampaknya mulai ada upaya membelokkan isu. Ada upaya untuk menciptakan kesan bahwa penangkapan Dr. Farid Ahmad Okbah, Dr. Ahmad Zain An-Najah, dan Dr. Anung Al-Hamat dilakukan dengan cara biadab dan melanggar Hak Asasi Manusia.

Seorang penulis bernama Ahmad Khozinudin yang adalah anggota Tim Advokat Pembela Ulama menyebarkan tulisan dengan judul yang sangat provokatif: “Densus 88 Menodai Kemuliaan Muslimah, Menerobos Kamar Santriwati yang Sedang Tidak Menutup Aurat”.

Ahmad marah dengan proses penangkapan para ulama itu. Menurutnya, dia memperoleh cerita penangkapan tersebut dari istri para ustaz. Menurut Ahmad, Densus 88 tidak saja mengabaikan prosedur hukum, namun juga melecehkan kemuliaan muslimah yang dijaga oleh umat Islam.

Dalam cerita ini, sejumlah anggota Densus 88 pada saat subuh menerobos masuk ke lingkungan pondok dan masuk tanpa izin ke ruangan santriwati-santriwati yang sedang tidak menutup aurat.

“Para santriwati yang merupakan muslimah yang wajib dijaga auratnya, diterobos kehormatannya dan tidak dihargai oleh Densus 88,” tulis Ahmad.

Menurut Ahmad lagi, tindakan yang dilakukan Densus 88 jauh dari kinerja yang profesional, transparan, menghormati harkat dan martabat setiap warga negara, dan mengindahkan koridor syar’i yang diyakini oleh umat Islam.

Selain soal penerobosan masuk itu, Densus 88 juga dikecam karena tidak menunjukkan surat tugas dan menyerahkan Surat Penangkapan kepada keluarga. Pengambilan sejumlah barang milik tersangka dikatakan tidak disertai Berita Acara Penyitaan.

Menurut si penulis, pengambilan barang bukti yang dilakukan oleh Densus 88 lebih mirip perampokan. Ahmad juga berargumen, Densus 88 sebenarnya tidak perlu melakukan penangkapan.

Ketiga terduga teroris memiliki alamat yang jelas, sehingga tidak mungkin akan mangkir apalagi melarikan diri. Pada intinya, Ahmad menganggap penangkapan ini adalah tindakan teror kepada warga negara.

Lagipula, menurutnya, apa yang dilakukan Densus 88 ini bukannya memberantas terorisme, justru menimbulkan teror, ancaman, dan ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Begitulah tuduhan Ahmad.

Pertanyaannya, benarkah cerita dramatis itu?

Nampaknya tidak. Pihak kepolisian sendiri sudah membantah semua tuduhan itu. Menurut polisi, penggeledahan yang dilakukan Densus 88 sudah sesuai dengan prosedur hukum.

Proses penggeledahan didampingi dan disaksikan oleh RT/RW dan saksi dari masyarakat sekitar. Densus 88 tidak melakukan penggeledahan terhadap pondok pesantren apalagi masuk ke kamar santriwati-santriwati.

Penggeledahan hanya dilakukan di rumah ketiga terduga teroris. Di dalam penggeledahan, Densus 88 melibatkan polwan dan memberikan kesempatan bagi Istri terduga untuk berpakaian dan menutup aurat sebelum dilakukan penggeledahan.

Sebelum melakukan penggeledahan Densus 88 sudah menunjukkan surat perintah penggeledahan kepada pihak keluarga. Mereka juga meminta izin untuk melakukan penggeledahan namun beberapa orang dari keluarga berusaha menghalang-halangi kegiatan tersebut yang dilakukan oleh polisi.

Penjelasan polisi ini semakin kuat karena juga beredar video yang menampilkan adegan penggeledehan. Dari video yang nampaknya berasal dari polisi itu, juga terlihat bahwa penangkapan dilakukan sesuai prosedur.

Dalam video ada percakapan yang menunjukkan anggota kepolisian menunjukkan surat pengantar penangkapan kepada anggota keluarga. Sang polisi menyarankan keluarga terduga teroris membaca sendiri surat perintah penangkapan.

Juga terlihat bahwa ada sejumlah santriwati yang datang dari pondok membantu tim Densus 88 pada saat penggeledahan karena istri tersangka tidak mau membuka pintu saat akan dilakukan penggeledahan.

Tulisan Achmad ini mencerminkan kepanikan kelompok-kelompok pendukung para ulama.
Tim pengacara Muslim sudah menyatakan tuduhan bahwa ketiga ulama itu terkait terorisme adalah fitnah. Dengan menyebarkan cerita ini, mereka nampaknya berusaha membangkitkan kemarahan umat Islam.

Mereka membangun narasi bahwa Densus 88 adalah pasukan yang memang mengabaikan hak asasi manusia, terutama hak asasi umat Islam. Dengan sengaja mereka berusaha membangkitkan emosi umat dengan menyebut bahwa polisi menerobos masuk saat para santriwati belum menutup aurat.

Dan segenap tindakan penggeledahan itu dilakukan seolah-olah dengan mengabaikan prosedur hukum yang seharusnyan dipatuhi. Mereka ingin mengalihkan perhatian umat dari dugaan bahwa para ulama ini terkait dengan terorisme, bahkan terorisme internasional.

Saya sendiri lebih percaya pada versi polisi. Yang nampaknya paling menonjol perannya adalah Farid Okbah. Badan Nasional Penanggulangan Terorime (BNPT) menyatakan Farid pernah pergi ke Afghanistan. Di sana, Farid bertugas sebagai fasilitator antara jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI) dengan Al-Qaeda.

Farid merupakan tokoh senior yang dapat dilihat sebagai aktor intelektual di organisasi teroris tersebut. Ia dianggap sebagai mentor di Jemaah Islamiyah. Farid kerap memberikan pelatihan kepada kader ataupun ustaz yang berkaitan dengan jaringan tersebut.

Di tahun-tahun 90-an, Farid pernah ditunjuk sebagai ustaz yang mentraining sejumlah kader dan ustaz yang kemudian menyebarkan visi dan misi JI. Bila dilihat periode waktunya, keterlibatan para ulama ini sudah berawal sejak lebih dari 20 tahun yang lalu.

Polri sendiri menyebut penangkapan Farid, Ahmad Zain, dan Anung merupakan hasil penelusuran dari pemeriksaan 28 terduga teroris yang sebelumnya telah ditangkap. Setelah penangkapan ketiga tokoh ini, sangat mungkin akan ditemukan bagian dari jaringan teroris lain.

Apalagi kini diketahui salah seorang dari ketiga ulama tersebut adalah anggota Komisi Fatwa MUI. Bila MUI saja sudah disusupi oleh terduga teroris semacam ini, kita layak khawatir bahwa teman-temannya mungkin sekali berada di jaringan lembaga lain yang lebih luas.

Mari kita dukung terus Densus 88 memerangi terorisme.

Komentar