KEBAKARAN KILANG PERTAMINA: LALAI ATAU SENGAJA?

Oleh: Rian Ernest

Kok kilang minyak Pertamina terus-menerus terbakar! Ada apa ini?

Pada Sabtu malam lalu, 13 November, terjadi kebakaran kilang minyak milik Pertamina. Kali ini, tangki yang terbakar adalah Tangki di Kilang Lomanis, Cilacap, Jawa Tengah, dengan isi komponen Pertalite sebanyak 31.000.000 liter.

Waduh, banyak banget tuh motor yang bisa diisi.

Kasus kebakaran tangki ini bukanlah hal baru di Indonesia, sebab berdasarkan catatan dari Tirto.id setidaknya telah terjadi tujuh kali kebakaran di Kawasan Kilang Pertamina sejak tahun 1995.

Bahkan di tahun ini, 2021, ada tiga peristiwa kebakaran kilang minyak Pertamina, yaitu pada Maret terbakarnya empat tangki di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Lalu kedua, pada Juni terbakarnya area pertangkian 39 Pertamina, juga di Kilang Cilacap. Dan ketiga, kasus yang yang terbaru, di Sabtu lalu, di Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

Fakta menariknya, dari tiga insiden kebakaran kilang minyak ini, dua di antaranya diindikasikan disebabkan oleh sambaran petir.

Apa dampak kebakaran kilang Cilacap? Menurut data yang beredar, dampak kebakarannya sih tidak terlalu signifikan. Karena pada saat kebakaran, Pertamina telah melakukan penyekatan di tangki tersebut agar tidak menjalar ke tangki-tangki lainnya yang berjumlah 228 tangki.

Untuk ketersediaan stok BBM dan LPG akibat insiden itu, CEO Subholding Commercial and Trading Alfian Nasution menegaskan bahwa stok, baik nasional maupun lokal, terjaga dengan baik. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak perlu panik. Pernyataan ini juga diamini oleh Direktur Utama Pertamina.

Untuk dampak terhadap lingkungan pula, Pertamina telah melakukan pengendalian pencemaran lingkungan, di antaranya menyiapkan peralatan penanggulangan lolosan minyak dan juga pemasangan penyerap pada parit-parit.

Nah, pertanyaannya, apa langkah pencegahan kebakaran kilang Pertamina?

Secara internal, ada satu cara mudah melakukan asesmen, yakni melakukan 5 WHY atau lima kenapa. Intinya, dari setiap kejadian, dicari alasannya. Setiap kali sudah mendapatkan alasan, kita mempertanyakan lagi mengapa alasan itu bisa terjadi. Terus-menerus kita cari alasan-alasannya sampai akhirnya kita puas. Bisa sekali, bisa dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, dan seterusnya.

Contohnya nih…
Kenapa kilang meledak? Tersambar petir. Kenapa bisa tersambar petir? Penangkal petir tidak bekerja baik. Kenapa tidak bekerja? Ada bagian kabel yang rusak. Kenapa bisa rusak? Digigit tikus kabelnya. Ini hanya ilustrasi saja loh teman-teman, masa iya sih Pertamina bisa terbakar karena ada kabel yang digigit tikus…

Secara resminya sampai dengan Senin kemarin, penyidik di Polda Jawa Tengah menduga bahwa penyebab kebakaran adalah karena sambaran petir. Pada Rabu kemarin juga, Kabid Humas Polda Jawa Tengah meminta masyarakat bersabar menunggu perkembangan penyelidikan hingga tuntas.

Kebakaran Kilang akibat Petir seharusnya bisa diminimalisir dengan baik oleh Pertamina. Apalagi kasus sebelumnya terindikasi disebabkan sambaran petir juga. Ifki Sukarya, Sekretaris Perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional mengungkapkan bahwa Pertamina telah melakukan asesmen dan evaluasi atas proteksi dan pencegahan kebakaran dari faktor alam seperti petir. Hasilnya menurut beliau, alat-alat penangkal petir sudah memenuhi standar acuan internasional, dan mempertimbangkan perkembangan kondisi alam.

Tetapi dari hasil evaluasi itu pula, perlu dilakukan penambahan alat yang lebih sesuai dengan kondisi cuaca saat ini.

Hal ini didukung pula oleh ucapan Hery Susanto, anggota Ombudsman Republik Indonesia. Dia mengatakan bahwa secara umum sistem proteksi petir di industri migas Indonesia telah mengikuti standar internasional.

Dalam standar internasional yang sudah dipenuhi Pertamina, katanya nih, tangki yang terbuat dari metal dengan ketebalan 44,8 mm memiliki sifat self-protected, terlindungi terhadap akibat dari sambaran langsung petir, sehingga tidak diperlukan adanya proteksi petir tambahan.

Akan tetapi, pada dasarnya standar internasional ini sebenarnya disusun dengan merujuk kondisi di wilayah subtropis. Alias bukan di wilayah Indonesia. Indonesia kita iklimnya tropis, sehingga ada perbedaan karakteristik petir. Bisa jadi perbedaan itulah yang menjadikan standar internasional tersebut mungkin saja tidak cukup melindungi tangki-tangki minyak Indonesia dari sambaran petir tropis.

Jadi evaluasi sangatlah penting. Alangkah baiknya, dari sisi Pertamina apabila mereka mengikuti standar juga. Mengadaptasi juga karakteristik petir di Indonesia, sehingga hal-hal seperti ini tidak terulang lagi. Mungkin penangkal petirnya ditambah dan sebagainya.

Pada salah satu tulisan ilmiah yang dibuat pada Simposium Internasional Perlindungan Petir di Brazil tahun 2013, bisa saja ada sistem penangkal petir eksternal atau bisa saja struktur metal penyimpan minyak menjadi semacam penangkal petir sepanjang tebal dari struktur metal tersebut memenuhi standar keamanan. Apakah struktur metal di kilang minyak kita memenuhi standar itu, saya gak tahu.

Dan menurut kajian ini juga, bahan tangki dari fiberglass rentan rusak bila disambar petir.
Tulisan ini juga bilang, ada 3 faktor utama yang berpengaruh kepada rentan tidaknya bangunan disambar petir, yakni: Satu, Aktivitas petir di tempat itu, bisa dihitung dari jumlah sambaran petir per area, per satuan waktu. Atau kedua, ketinggian struktur. Semakin tinggi semakin rentan. Atau ketiga, derajat isolasi struktur itu sendiri.

Faktor pertama ini, soal intensitas petir, sudah dikonfirmasi oleh Ifki Sukarya. Beliau bilang intensitas petir cukuplah tinggi pada kejadian kebakaran terakhir. Meski demikian, ada hal berbeda nih, seorang pakar dari Sekolah Tinggi Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), wah ribet namanya ya, Pak Deni Septiadi, beliau meragukan penyebab kebakaran kilang karena sambaran petir.

Menurutnya, berdasarkan karakteristik sambaran petir dari awan ke tanah, tidaklah mungkin menyambar langsung pada tangki minyak Pertamina di malam hari. Menurut beliau, sangat sulit sekali jenis petir awan ke tanah dapat menyambar langsung pada tangki minyak Pertamina di malam hari. Menurutnya, petir awan ke tanah lebih mungkin terjadi pada jam 1 sampai 5 sore WIB pada saat atmosfer kita sedang labil. Pada malam hari, menurut beliau, awan-awan akan mengalami fase punah, sehingga kemungkinan petir awan ke tanah sangat minim.

Dalam kasus kebakaran di kilang minyak kita, memang sulit untuk publik mendapatkan informasi detail, apa yang terjadi, karena perusahaan di manapun, bukan hanya Pertamina, akan mencoba menekan pemberitaan yang merugikan perusahaannya.

Tambahan lagi nih teman-teman, dari sebuah kajian dari Chang dan Lin pada tahun 2006, 1 dari 3 kecelakaan minyak di dunia, disebabkan oleh sambaran petir. Studi yang sama menyimpulkan, bahwa kecelakaan ini bisa dihindari bila rekayasa teknik yang baik sudah dijalankan.

Sekarang kita geser, apakah mungkin ada yang sengaja? Kebakaran di area kilang minyak Pertamina yang terus-menerus berulang menimbulkan beberapa reaksi dari masyarakat. Salah satunya soal dugaan unsur kesengajaan.

Fahmy Radhi, Pengamat energi dari UGM mengatakan bahwa dugaan sementara penyebab terbakarnya tangki di kilang minyak Pertamina Cilacap, akibat tersambar petir, disebut sebagai alasan, yang kata beliau, “sangat naif”.

Hal itu dikarenakan, seharusnya Pertamina mampu menjaga aset kilang dengan pasokan terbesar dengan menerapkan sistem keamanan yang super canggih dan berlapis, sehingga mencapai nihil kecelakaan. Menurut beliau hal ini jelas mengindikasikan bahwa Pertamina abai soal pengamanan kilangnya. Yang mana didukung dengan fakta di lapangan yang mencatat telah terjadi ada banyak kebakaran kilang sejak tahun 1995, dengan mayoritas penyebabnya karena faktor alam, tersambar petir atau tertiup angin kencang.

Beliau juga menduga adanya unsur kesengajaan apabila merujuk pada rentetan peristiwa itu. Selain itu, menurut pengamatan beliau, kata beliau ya, kalau terjadi kebakaran di kilang Cilacap maka akan terjadi peningkatan volume impor BBM. Sebenarnya adalah teori konspirasi yang menarik, tapi ya itulah opini beliau.

Beliau akhirnya juga mendesak Kementerian ESDM untuk mengaudit sistem keamanan di Cilacap, apakah ada kelalaian atau kesengajaan.

Saya pribadi sepakat bahwa harus ada pembenahan dilakukan oleh Pertamina. Soal energi adalah soal ketahanan negara dan soal dana besar yang berputar dan bersumber dari uang pajak rakyat. Kita-kita semua.

Jadi gak bisa setengah-setengah kerjanya. Saya berharap Direksi Pertamina dan Komisaris Pertamina bisa bergandengan tangan mengatasi ini semua. Apakah sengaja dibakar agar ada impor BBM? Jujur saya ragu, terutama karena info terkait itu masihlah sangat minim. Tapi yang pasti beruntunnya kejadian ini, membuat saya menduga ada kelalaian di internal Pertamina. Polri harus tegas menindak, dan internal Pertamina harus memberi sanksi kepada pegawainya dan melakukan pembenahan sistem. Biar tidak jatuh terus di lubang yang sama. Semoga.

Komentar