BAHAR BIN SMITH SUDAH BEBAS, PERLUKAH KITA TAKUT?

Oleh: Ade Armando

Masih ingat Bahar bin Smith? Benar, dia itu ustaz muda yang punya gaya khas. Tampilannya seperti rocker, dengan wajah muda tampan dan berambut panjang pirang. Tapi orang lazim mengingatnya karena kebringasannya.

Kata-katanya kasar, kotor. Perilakunya juga sangat agresif. Dia tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik. Dan juga memobilisasi pengikutnya untuk melakukan pengrusakan dan penghancuran.

Saya membicarakan soal Bahar bin Smith karena dia baru saja dilepaskan dari penjara. Dan langsung saja, melalui kuasa hukumnya, Bahar menyatakan siap berdakwah kembali berjuang bersama ‘Imam Besar Habib Rizieq Shihab’.

Apakah kita perlu khawatir dengan kehadirannya? Tentu saja sih, walaupun kita juga tidak perlu takut.

Bahar adalah tipe ulama perusak Islam. Kalau dibiarkan dia akan gunakan Islam sebagai sumber malapetaka. Dia akan membuat lawannya ketakutan dan memilih menghindar darinya. Karena itu kita harus terus menjaga agar dia tidak kembali menjadi ulama yang menyebarkan kerusakan di muka bumi.

Bahar lahir di Manado sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara. Nama Smith itu datang dari nama keluarga ayahnya. Aslinya sih Sumayt, sehingga seharusnya Bahar bin Sumayt.

Tapi kemudian dibikin kebarat-baratan menjadi Smith. Bahar memiliki empat putra. Semua anaknya diberi gelar Sayyid dan Syarifah, yang mengindikasikan bahwa mereka adalah cucu Nabi Muhammad.

Dia ini pemilik pesantren, tapi kelakuannya jauh dari kedamaian. Dia mendirikan dan memimpin Majelis Pembela Rasulullah sejak tahun 2007. Pengikutnya mencapai ribuan orang yang berdomisili terutama di Tangerang Selatan, Jakarta Selatan, dan Bogor.

Bahar mendirikan Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di daerah Pabuaran, Kemang, Bogor. Dia juga dikenal dekat dengan FPI yang selalu akan mengirimkan laskar untuk mendampingi dan menjaga ketat ceramah-ceramah Bahar.

Bahar adalah salah seorang penggerak serangkaian Aksi Bela Islam yang menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama masuk penjara pada 2017 lalu.

Omongannya kotor dan kasar. Dia berulangkali menyatakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah sarang Partai Komunis Indonesia (PKI). Di tengah proses Pilpres 2019 yang panas, Bahar menyebut Presiden Joko Widodo sebagai pengkhianat bangsa, negara, dan rakyat.

Ia juga menghina Jokowi sebagai banci dan meminta jamaah untuk membuka celana Jokowi supaya terlihat apa ada darah menstruasi di sana. Bahar juga menuduh Jokowi hanya mensejahterakan orang-orang nonmuslim kafir, orang Cina, dan perusahaan-perusahaan Barat serta memperbudak pribumi.

Bukan hanya omongannya, aksi, dan tindakannya juga beringas.

Pada tahun 2010, Bahar pernah memerintahkan anak buahnya menyerang jamaah Ahmadiyah di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada tahun yang sama, Bahar juga terlibat dalam Kerusuhan Koja terkait sengketa makam Mbah Priok di Jakarta Utara.

Pada Ramadan 2012, dia menggerakkan sekitar 150 orang jamaah Majelis Pembela Rasulullah untuk melakukan razia di Cafe De Most Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Dia menuduh kafe itu sebagai sarang maksiat. Massa datang dengan senjata tajam, golok, celurit, stik golf, stik besi, dan kayu. Bahkan, ada senjata yang dibuat khusus menjelang aksi, seperti empat buah pedang yang dibuat seminggu sebelum kejadian.

Polisi ketika itu kemudian menangkap Bahar dan 62 orang pengikutnya. 41 di antara yang ditangkap merupakan anak yang masih di bawah umur. Bahkan, ada anak berusia 13 tahun yang ikut serta dalam aksi sweeping tersebut.

Kasus Bahar yang menyita perhatian juga adalah pemukulan dua remaja yang dilakukan Bahar pada Desember 2018. Bahar marah karena kedua korban itu sempat mengolok-olok Bahar.

Mereka diculik dari rumahnya dan dibawa ke pondok pesantren Bahar. Di sana, kedua korban dipukuli secara brutal dan bergantian oleh dan atas perintah Bahar bin Smith. Peristiwa penganiayaan itu direkam dengan menggunakan telepon seluler, kemudian diunggah ke YouTube.

Rekaman itulah yang kemudian dijadikan salah satu barang bukti oleh polisi.

Saat direkam, korban sudah dalam kondisi babak belur dengan luka memar dan terlihat banyak darah di wajahnya. Ketika polisi mengejarnya, Bahar sempat melarikan diri dan mengganti nama menjadi “Rizal”.

Namun hanya dalam waktu dua minggu, Bahar sudah berhasil diciduk polisi.

Ketika ditangkap, Bahar berdalih sedang melatih bela diri kedua remaja yang dipukuli itu. Untuk aksi preman itu, Pengadilan Negeri Bandung pada Juli 2019 memvonis Bahar penjara tiga tahun.

Ketika dipenjara, ada kasus kekerasan Bahar lain yang terungkap. Ternyata pada September 2018, Bahar diketahui menganiaya sopir online. Supir itu dipukuli karena dianggap menggoda istri Bahar.

Karena itu pengadilan menambah masa tahanan Bahar selama 3 bulan. Bahar sebenarnya sempat keluar dari lapas setelah mendapat asimilasi pada Sabtu 16 Mei 2020.

Namun, hanya tiga hari bebas, dia kembali ditahan dan dijebloskan kembali ke penjara. Bahar dinilai telah melakukan pelanggaran khusus terhadap kesepakatan yang disetujuinya saat memperoleh asimilasi.

Di masa asimilasi, Bahar diketahui memberikan ceramah yang provokatif dan menyebarkan rasa permusuhan dan kebencian kepada pemerintah. Bahar juga dinyatakan melanggar aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam kondisi Darurat Covid-19 Indonesia, dengan telah mengumpulkan massa dalam pelaksanaan ceramahnya.

Karena itulah Bahar dipenjara sampai akhir masa tahanannya.

Kini Bahar sudah kembali menghirup udara bebas. Saya sih tidak yakin bahwa dia akan insyaf. Bahar adalah tipe penjahat kambuhan yang akan kembali mengulang kejahatannya ketika dibutuhkan.

Para pendukungnya, selama ini, menggambarkan penahanannya sebagai bukti kebencian pemerintah Jokowi terhadap Islam. Tak kurang dari Fadli Zon menyebut penahanan Bahar adalah “kriminalisasi ulama”.

Namun demikian, seperti saya katakan di awal, kita tidak perlu takut. Orang semacam Bahar itu justru akan menjadi-jadi kalau menyangka orang takut terhadapnya.

Kalau dibiarkan, Bahar bisa menjelma menjadi tokoh semacam Rizieq Shihab. Bahar dan sekutunya akan terus mengancam Indonesia. Dan karena itu, kita juga harus bersekutu untuk melawan dia dan orang-orang yang berada di belakangnya.

Komentar