ADA APA DENGAN KADRUN?

Oleh: Denny Siregar

Saya dikritik beberapa orang karena dianggap memecah-belah dengan membangun stigma “kadrun” terhadap lawan politik atau oposisi pemerintah. Saya juga dianggap membawa politik identitas karena membawa kebencian terhadap Islam dengan istilah kadrun itu. Mereka menyebut saya Islamophobia, karena selalu membangun narasi kebencian terhadap Islam.

Mau ketawa gak sih? Pengertian kadrun aja salah, kok malah kritik segala. Istilah kadrun itu bukan buat oposisi atau mereka yang berbeda pandangan dengan pemerintah. Kalau itu namanya kampret.

Istilah kampret itu sudah gak digunakan lagi sekarang. Kalau cuma istilah-istilahan saat Pilpres sih, wajar ajalah. Namanya juga pesta demokrasi, asyik-asyik aja. Saya juga dibilang cebong, senang-senang aja. Gak marah, malah ketawa-ketawa. Kalau oposisi gak pernah saya bilang dia kadrun tuh, karena memang pengertiannya saja sudah beda. Kadrun itu bukan orang yang berbeda pandangannya dengan pemerintah. Kadrun itu lebih spesifik, yaitu gerombolan orang-orang yang selalu membawa agama dalam usahanya menghancurkan negara.

Wah, apa benar kadrun bisa menghancurkan negara? Ya, sangat bisa. Kita sudah melihat apa yang mereka lakukan di Timur Tengah, di Irak, di Libya, dan terutama di Suriah. Negara-negara itu sempat hancur karena ulah orang-orang yang fanatik agama. Mereka merusak, membunuh, memperkosa, dan menghalalkan kejahatan dengan segala cara atas nama Tuhan yang mereka fitnah. Mereka ada yang berbaju ulama, berbaju ustaz, dan berbaju santri. Tetapi sesungguhnya otak mereka rusak, karena mereka bahkan menghalalkan bom bunuh diri atas nama perjuangan di atas nama Tuhan yang katanya mereka sembah.

Buat kadrun, pemerintah apapun di dunia ini semuanya kafir, kecuali itu pemerintahan atas nama agama mereka. Mereka menamakannya pemerintahan khilafah. Di dalam sistem khilafah, tidak ada yang namanya negara, yang ada seluruh dunia ini dipimpin oleh seorang khalifah. Negara-negara yang sudah ada sekarang ini akan menjadi wilayah yang dipimpin oleh gubernur-gubernur. Dan untuk menjalankan misi jangka panjangnya, mereka rela bersekutu dengan siapapun yang bisa membiayai perang mereka meskipun orang-orang itu berbeda agama.

Itulah yang terjadi di dunia, terutama di Timur Tengah. Kadrun-kadrun itu berkembang karena pembiayaan dari beberapa negara kapitalis, yang ingin merebut sumber daya alam di sebuah negara dengan biaya yang murah. Daripada negara kapitalis itu mengirimkan pasukan militer yang sudah pastilah berbiaya besar dan akan mendapat penolakan di parlemen mereka dan juga di PBB untuk mengakuisisi sebuah negara, mereka lebih baik membiayai kelompok garis keras yang mengatasnamakan agama di negara target mereka. Pembiayaan itu mulai dari uang sampai senjata. Dan negara kapitalis menganggap apa yang mereka lakukan itu sebagai sebuah investasi.

Terus apa keuntungannya buat mereka? Keuntungan besarnya adalah penjualan minyak dan hasil tambang dari negara yang mereka target. Ketika kadrun-kadrun yang sudah mereka biayai itu berhasil menguasai sebuah ladang minyak, kelompok investor dari negara kapitalis inilah yang mendapat konsesi dari penjualan minyaknya.

Dan menariknya, kelompok investor asing ini mendapatkan dua keuntungan. Keuntungan pertama, dari kadrun-kadrun itu, ada barter senjata dengan minyak, misalnya. Sedangkan keuntungan kedua, negara yang diserang oleh kadrun-kadrun bersenjata itu, akan meminta perlindungan ke negara kapitalis itu. Maka, negara kapitalis itu akan membangun pangkalan militer di sana, dengan biaya yang dibebankan ke negara yang minta dilindungi. Nah, biasanya, selain dapat uang keamanan, negara kapitalis itu juga mendapatkan konsesi minyak. Gila, kan? Kanan kiri dapat. Negara kapitalis itu untung dari berbagai sisi, yang kalah ya negara yang mereka rusuhi.

Jadi bahayanya kadrun itu, bukan saja karena mereka fanatik terhadap agama, tetapi kefanatikan mereka itu menjadi senjata yang membawa kerusakan yang luar biasa. Kalau negara abai terhadap mereka, hanya karena berusaha toleran, maka bisa dipastikan dalam beberapa tahun ke depan, negara itu akan hancur berantakan. Dan pada akhirnya harus meminta perlindungan kepada negara kapitalis dengan barter minyak atau hasil tambang.

Mulai paham kan kadrun itu siapa? Bukan. Kadrun itu bukan mereka yang berbeda pandangan politik dari pemerintah sekarang. Kadrun itu jauh lebih ganas dari itu.

Nah, kenapa mereka harus dipanggil kadrun? Bukankah itu stigma jelek yang membuat bangsa ini terpecah-belah?

Catat, ya. Sebelum ada istilah kadrun, kelompok garis keras fanatik itu, selalu mengklaim kalau mereka itu mewakili umat Islam. Ini bahaya, karena tidak semua umat Islam itu seperti mereka. Ketika kadrun membom sebuah gereja, mereka mengatasnamakan umat Islam. Ketika mereka membunuh orang, mereka mengatasnamakan juga umat Islam. Ketika mereka membuat kerusuhan, mereka bilang ini bagian dari perjuangan umat Islam.

Klaim-klaim “umat Islam” yang dilakukan oleh kadrun-kadrun itu berbahaya buat negeri ini. Kalau dibiarkan, bisa saja agama lain akan menganggap kalau umat Islam itu memang barbar, suka bunuh orang, suka bom bunuh diri, dan lain-lainnya. Ini fitnah yang luar biasa terhadap umat Islam yang mayoritas adalah moderat. Karena itu, kelompok garis keras fanatik yang suka kekerasan ini harus dipisahkan dengan agama Islam. Itulah kenapa mereka akhirnya dinamakan “kadrun”, supaya agama lain tahu, bahwa yang mereka lakukan tidak mewakili agama Islam, tetapi mereka yang mengatasnamakan Islam untuk kepentingan agenda politik mereka.

Stigma terhadap kadrun itu penting dan harus terus-menerus disuarakan. Ini bukan untuk memecah-belah, tetapi justru untuk mempersatukan bangsa yang orang-orangnya berbeda agama. Kadrun adalah kadrun. Kadrun bukan bagian dari sikap umat Islam, meski mereka beragama Islam. Biar jelas, seperti terpisahnya air dan minyak.

Oke, sudah paham kan? Kadrun adalah kelompok intoleran. Mereka tidak bisa diperlakukan dengan toleran. Karena sepuluh tahun pemerintahan SBY, ketika kadrun diperlakukan dengan sangat toleran, mereka menyusup ke mana-mana dan menggurita. Ke pendidikan, ke institusi TNI dan Polri, ke dalam rumah tangga, sehingga orang awam yang dulunya toleran, berubah menjadi zombie, mayat hidup yang tidak berakal dan kerjaannya merusak apapun yang ada di sekitar.

Dan melawan kadrun dengan segala aksi propagandanya adalah dalam rangka membela negara. Karena mencintai tanah air adalah ibadah, sebagian daripada iman. Setuju?

 

Komentar