MUI SARANG RADIKAL? GAK KAGET

Oleh: Denny Siregar

Jujur saya sama sekali gak kaget ketika membaca berita tentang petinggi Majelis Ulama Indonesia yang tertangkap karena aksi terorisme di Indonesia. Dari dulu saya sudah mengingatkan kalau MUI bisa jadi sarang sebenarnya dari kelompok radikal. Kenapa? Ya, karena lembaga itu memakai label “ulama” sehingga sulit dikritik karena akan membawa-bawa agama.

Mengikuti jejak perang Suriah di sekitar tahun 2012-an, pola para kelompok radikal ini persis sama dengan yang di Indonesia. Mereka terbagi dengan dua kasta. Kasta pertama yang elit adalah kaum agamawan, dengan memanfaatkan ormas agama mereka mengeluarkan fatwa-fatwa yang memecah belah negara. Kaum agamawan ini selalu memakai agama sebagai senjata mereka. Yang mereka lakukan pertama adalah mengklaim, bahwa fatwa yang mereka keluarkan adalah fatwa yang mewakili umat Islam. Kata-kata “Islam” di sini menjadi kunci, karena ketika mereka dikritik, mereka berlindung di balik nama “Islam”. Yang mengkritik mereka dianggap menghina Islam. Inilah kelicikan para kelompok radikal di Suriah yang membawa nama agama.

Selain membawa nama Islam, mereka juga menyusup dan mengklaim label “ulama”. Label ulama itu juga penting, dengan membawa-bawa hadis bahwa “ulama adalah penerus Nabi” sehingga banyak umat Islam yang tidak bisa memprotes ataupun mengkritik mereka. Dan dengan jargon “daging ulama itu beracun” yang berarti bahwa ulama itu bersih dari kesalahan, mereka kemudian menggiring banyak umat untuk memerangi pemerintah dan melakukan kudeta.

Inilah yang terjadi di Suriah dulu. Sempat di Suriah ada ulama beneran yang menentang kelompok ulama palsu ini, nama beliau adalah Syekh Ramadhan Al-Buthi, ulama besar Sunni di Suriah. Tapi beliau kemudian dibom ketika sedang ceramah dan meninggal bersama 40-an orang jamaahnya. Penting sekali buat para ulama palsu di Suriah ini menghilangkan nyawa Syekh Ramadhan Al-Buthi, supaya kelompok mereka bisa menguasai label ulama sepenuhnya. Dan dengan label “Islam” juga “ulama” itulah, mereka kemudian mencoba melakukan kudeta berdarah kepada pemerintahan yang sah di Suriah, yang dipimpin oleh Bashar al-Assad. Fatwa dusta yang mereka keluarkan adalah bahwa Presiden Suriah adalah Syiah, sehingga halal darahnya untuk diperangi dan ditumpahkan.

Saya dulu mengamati betul perang Suriah di tahun 2012-an, karena saya yakin benar bahwa api Suriah akan dibawa ke Indonesia. Alasan saya kuat, karena Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, sehingga bisa jadi negara yang cocok untuk dijadikan pemerintahan Khilafah di Asia Tenggara. Dan saya terus mengamati siapa-siapa saja yang terlibat dengan pemberontak Suriah dan membawa apinya ke sini, ke negara kita.

Dan terbukalah siapa-siapa saja mereka. Yang pertama ada Bachtiar Nasir dan kedua ada Zaitun Rasmin. Jejak mereka terbongkar oleh mereka sendiri, ketika mereka berdua aktif terlibat dalam propaganda memproklamirkan pemerintahan yang dideklarasikan oleh pemberontak Suriah. Mereka membawa bendera Suriah versi pemberontak ke Indonesia dan terang-terangan mengumpulkan dana di Indonesia untuk pemberontak Suriah. Anda tahu siapasih Bachtiar Nasir dan Zaitun Rasmin itu? Mereka berdua adalah pengurus Majelis Ulama Indonesia di periode lalu.

Kepengurusan Majelis Ulama Indonesia masa lalu atau periode 2015-2020 adalah kepengurusan yang penuh dengan para pendukung khilafah. Di sana dulu selain ada Bachtiar Nasir dan Zaitun Rasmin, juga ada Yusuf Martak dan almarhum Tengku Zulkarnain. Mereka-mereka inilah penggerak demo besar 212 yang punya potensi untuk membuat rusuh negara. Bayangkan, MUI sebuah ormas dengan label “ulama” orang-orangnya penuh dengan mereka yang ingin mengubah dasar negara kita menjadi negara agama.

Kepengurusan MUI sekarang lebih mendingan lah, karena diisi oleh orang-orang moderat. Tapi sayangnya, tetap meninggalkan nama Zaitun Rasmin sebagai sekretaris di sana. Saya sendiri heran, kenapa ya MUI tidak mencoba melakukan profiling atau rekam jejak anggotanya sebelum melantik mereka menjadi pengurus. Dan benar saja, ternyata masih ada duri di dalam daging yang bercokol di dalam MUI. Terbukti, salah satu elit MUI tertangkap Densus 88 karena punya hubungan dengan kelompok teroris global, Jemaah Islamiyah. Kemungkinan bukan hanya yang tertangkap Densus 88 saja yang punya jaringan dengan terorisme, ada beberapa lagi, cuma Densus 88 belum dapat bukti yang cukup saja untuk menangkap mereka.

Ngeri memang MUI ini. Dengan label ulama, mereka menguasai penuh fatwa untuk umat Islam di Indonesia. Selain itu, selama bertahun-tahun mereka menguasai sertifikat halal di Indonesia dengan konsumen jutaan produk dan dananya tidak teraudit. MUI dengan segala kelebihannya adalah rumah terbaik bagi kelompok radikal untuk menguasai dan mengkapitalisasi umat muslim di Indonesia.

Lucunya, sejak dulu MUI sebenarnya sudah dikritik keras oleh ulama moderat lainnya, seperti Gus Mus, tapi mereka tidak pernah berubah. Gus Mus pernah dengan keras mengatakan, “MUI itu mahluk apa?” Menurut Gus Mus, karena mencatut label ulama, MUI bisa membuat seseorang yang bahkan tidak punya kemampuan agama sama sekali mendadak jadi ulama hanya karena berada di Majelis Ulama.

MUI itu, mungkin karena merasa ulama sehingga berhak arogan – menutup telinga mereka dari kritikan untuk membenahi diri dari dalam. Setiap tahun ada saja kontroversi yang mereka keluarkan, yang tidak membawa kesejukan dalam bernegara. Saya sendiri tidak tahu, gunanya MUI itu apa? Kalau cuma fatwa-fatwa doang, ya kan sudah ada NU dan Muhammadiyah yang punya umat yang juga banyak.

Dan menurut analisa banyak orang, MUI itu dulu dibentuk oleh Soeharto pada tahun 1975, untuk melawan dominasi ormas agama besar seperti NU dan Muhammadiyah. Bisa dibilang MUI itu dulu dibentuk dengan alasan politis, sehingga keputusannya pun banyak yang politis. Jadi gak heran ya, di tahun 2016-2017 banyak pengurus MUI yang merapat ke Cendana dan melakukan aksi demo besar untuk kepentingan politis mereka.

Saya sih punya analisa, yang diincar Densus 88 di MUI bukan satu dua saja, tapi ada beberapa yang memang punya keterlibatan dengan Jemaah Islamiyah, entah sebagai dewan syuro ataupun sebagai pengepul kotak amal untuk kepentingan kelompok mereka. Kita tunggu saja berita selanjutnya, bisa jadi sepak terjangnya lebih menyeramkan.

Halo, para elit MUI. Jangan kira kalian bisa berlindung di balik label ulama. Karena ulama yang benar adalah mereka yang punya pengetahuan tinggi tentang agama dan punya akhlak yang tinggi juga terhadap sesama. Daging ulama itu memang beracun, tapi ingat, ulama juga yang harus pertanggungjawabkan secara langsung perbuatannya di hadapan Tuhan kelak, karena kalian lah seharusnya panutan umat.

 

Komentar