APA SIKAP KITA SOAL KEPUTUSAN MA KURANGI HUKUMAN RIZIEQ?

Oleh: Ade Armando

Mahkamah Agung memotong hukuman Rizieq Shihab menjadi 2 tahun. Semula Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis 4 tahun penjara bagi Rizieq. Ia dinyatakan terbukti berbohong soal hasil pemeriksaan tes Covid-19 di Rumah Sakit Ummi Bogor, dan kebohongan itu dianggap mencipatakan keonaran.

Soal aspek keonaran inilah yang dipersoalkan Mahkamah Agung (MA). Menurut MA, tidak terbukti adanya keonaran di tengah masyarakat dan karenanya hukuman empat tahun itu dianggap terlalu berat.

Menurut saya, marilah kita tidak mempersoalkan keputusan MA ini. Kita hormati saja keputusan mereka. Yang lebih penting dipikirkan adalah apa implikasinya bagi Indonesia.
Semula, kita membayangkan kalau Rizieq dipenjara empat tahun, dia baru akan bebas pada 2025.

Kalau dua tahun, dia akan dilepaskan pada 2023. Dan ini mungkin sekali berdampak pada suasana politik menjelang Pilpres 2024. Salah satu persoalan terbesar yang kita hadapi di Indonesia adalah penggunaan agama dalam politik.

Dari pengalaman Pilpres 2014 dan 2019, serta juga terutama Pilkada DKI 2017, kita menyaksikan langsung bagaimana penggunaan agama bisa memecah belah bangsa. Yang terburuk tentu saja Pilkada DKI.

Manipulasi agama ketika itu berhasil membawa Anies menjadi Gubernur. Tapi yang lebih penting, penggunaan agama menjadikan Pilgub saat itu membawa Jakarta dan bahkan Indonesia terpecah dengan luka yang sampai sekarang masih membekas.

Dan di dalam segenap ketegangan itu, Rizieq berada di jantung perpecahan. Penyebutan Rizieq sebagai imam besar umat Islam tercipta di era itu. Rizieq adalah kekuatan yang berperan penting dalam menggerakkan ratusan ribu umat Islam untuk berkumpul dan menyuarakan kebencian terhadap Ahok.

Rizieq ketika itu mengultimatum pemerintah, kalau sampai Ahok tidak ditangkap, akan terjadi revolusi. Rizieq bahkan memimpin gerakan yang dipenuhi oleh yel-yel ‘Bunuh Ahok’.
Rizieq adalah sosok yang menjadikan Islam damai berubah menjadi Islam yang menakutkan.

Cara dia menyihir para pendukungnya luar biasa. Rizieq membawa para pengagumnya menjadi barisan manusia yang tunduk patuh pada semua perintahnya tanpa akal.

Sayangnya dia tidak menggunakan kekuatan itu untuk memperjuangkan kebenaran. Dia bukanlah pemimpin yang berjihad atas nama Islam. Dia adalah pemain politik, orator ulung, yang memperjuangkan agenda politik sempit bagi dirinya, kelompoknya, atau mereka yang bersedia membayarnya dengan harga mahal.

Loyalitas para pendukungnya jelas terlihat dalam kasus tewasnya enam anggota Laskar FPI di KM 50 Jakarta – Cikampek. Para anggota FPI itu seperti tak takut mati menghadang polisi, menabrak mobil polisi, baku tembak dengan polisi, dan bahkan menyerang di saat mereka sudah berada di bawah kendali polisi.

Buat mereka, Rizieq rupanya jauh lebih berharga dari nyawa mereka sendiri. Mereka siap mati untuk Rizieq. Dan Rizieq ini setahun sebelum Pilpres 2024 nanti, sudah akan kembali bisa beroperasi di ruang terbuka. Pertanyaannya, apakah ini artinya bencana bagi Indonesia?

Menurut saya, apa yang akan terjadi di Indonesia nanti akan sangat bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Mari kita bayangkan skenario apa yang akan terjadi menjelang 2024.

Sangat mungkin kubu Anies akan kembali menggunakan politik identitas untuk meraih kemenangan. Sebenarnya Prabowo pun bisa menggunakan metode itu.

Tingginya suara dia pada Pilpres 2014 dan 2019, tak bisa dilepaskan dari kontribusi sentimen Islam. Namun pada 2024 nanti, dia mungkin sekali akan didukung oleh partai-partai nasionalis.

Namanya mungkin sekali diajukan oleh PDIP bersama Gerindra. Kalau itu yang terjadi, kemungkinan besar isu agama tidak akan dikedepankan. Karena itu perhatian harus diarahkan pada Anies.

Dia, kita tahu menjadi Gubernur karena menggandeng Rizieq. Bahkan kalau diingat, pada Pilgub 2017, elektabilitas Anies semula kalah oleh Ahok dan AHY. Barulah setelah Anies bertandang ke kantor FPI di Petamburan, dukungan terhadapnya melejit pesat.

Jadi hal serupa bisa saja berulang saat ini. Anies mungkin sekali memainkan kartu presiden seiman untuk menarik hati umat Islam di Indonesia. Dan Rizieq menempati posisi kunci dalam skenario itu.

Kita nanti harus bersiap menyaksikan bagaimana Rizieq akan dinarasikan sebagai pejuang Islam yang dizalimi oleh pemerintah kafir dan dia kembali untuk berjihad pada waktu yang tepat.

Ketika dia bebas pada 2023, dia mungkin sekali akan digadang-gadang sebagai sang penyelamat. Akan ada yang mengembangkan narasi bahwa Allah mengarahkan hati para hakim MA sehingga Rizieq bebas tepat menjelang pemilihan presiden. Dan Rizieq datang kembali untuk menjadikan seorang pemimpin kaum mukmin menempati posisi kekuasaan.

Itu adalah skenario yang kita harus bersiap menghadapinya. Tapi setelah mengatakan itu semua, saya ingin mengatakan juga bahwa kita tidak perlu khawatir berlebihan.

Kalau kita tidak ingin segenap kemungkinan terburuk itu terjadi, ya kita jangan membiarkan itu terjadi. Saya teringat pada kalimat Edmund Burke yang sangat terkenal. Katanya, “Yang diperlukan bagi kejahatan untuk menang di dunia ini adalah diamnya orang-orang baik.”

Saya rasa logika itu yang harus selalu diingat. Kejahatan tidak akan memang kalau orang baik berusaha mencegahnya. Kalau kita memilih tidur di rumah, memilih tidak melakukan apa-apa, berdoa, atau hang out di tempat hiburan, pada saat kita tahu kekuatan jahat itu sedang membangun kekuatan, jangan salahkan kalau kita nanti akan jadi korban.

Karena itu, kita semua yang mencintai Indonesia tidak boleh tinggal diam. Tuhan seperti mengingatkan kita bahwa perjalanan masih panjang.

Semula kita menyangka kemenangan sudah diraih ketika HTI dibubarkan, FPI dibubarkan, Rizieq ditahan, Munarman ditahan, dan seterusnya. Tapi itu semua hanyalah satu langkah yang penting, tapi tidak mengakhiri perjuangan kita menyelamatkan Indonesia.

Indonesia hanya bisa selamat kalau cara berpikir mayoritas warga Indonesia bisa dibebaskan dari keterbelakangan dan kebekuan. Kemenangan politik dengan menggunakan agama seperti yang terjadi di Pilkada DKI 2017, hanya bisa berlangsung bila warganya memang bodoh dan tidak rasional.

Karena itu kewajiban kita adalah menjadikan mayoritas umat beragama di Indonesia meninggalkan abad kegelapan dan memasuki pencerahan. Cara beragama umat Islam harus dilepaskan dari doktrin-doktrin kaku yang mengukung.

Umat Islam di Indonesia harus diajarkan untuk tidak tunduk begitu saja pada perintah pemimpin agamanya. Rizieq bisa begitu besar karena umat Islam begitu saja tunduk patuh tanpa berpikir. Anies Baswedan bisa menang karena umat Islam begitu saja percaya bahwa memilih pemimpin seiman tapi korup lebih daripada memilih pemimpin non-Islam tapi bersih.

Kebekuan berpikir semacam itu yang harus didobrak. Karena itu pertarungan kita sekarang adalah pertarungan untuk memenangkan alam berpikir. Para pecinta Indonesia tidak boleh takut dengan kekuatan-kekuatan yang berusaha memaksa orang untuk berhenti bicara, berhenti mempertanyakan, berhenti mendebat, berhenti berpikir.

Orang seperti Rizieq bisa menjadi besar karena dibiarkan memonopoli kebenaran. Dia menjadi besar karena dia dibiarkan membuat orang menyangka dia besar. Bila orang tahu dia hanya sekadar kucing kecil dan bukan singa padang pasir, dia tidak akan menjadi ancaman.

Bila rakyat Indonesia bersama-sama melawan narasi itu, Rizieq dan siapapun yang hendak memanipulasi agama untuk kepentingan politik tidak akan mencapai apa-apa.

Karena itu mari terus suarakan akal sehat.

Komentar