PAK PRABOWO, BERANI GAK PECAT FADLI ZON?

Oleh: Denny Siregar

Hari ini saya baca berita yang bikin senyum-senyum sendiri. Judul beritanya terkesan gagah, Prabowo menegur Fadli Zon karena sentil Jokowi soal Sintang. Kenapa saya senyum? Ya, karena negur seorang Fadli Zon aja harus dikabarkan lewat media.

Meski mantan tentara, berpangkat jenderal, saya sendiri meragukan ketegasan Prabowo. Kalau masalah gagah-gagahan pakai parade, orasi, dan hormat grak sih iya kelihatan gagah, tapi untuk ambil keputusan, ntar dulu deh. Kalau sudah berhadapan dengan internal, Prabowo langsung kelihatan gamangnya. Fadli Zon adalah anak kesayangan Prabowo dulunya. Fadli Zon sejak muda dekat sekali dengan Orde Baru. Bahkan sesudah jadi mahasiswa, dia pernah duduk di kursi empuk Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai wakil pemuda.

Sebagai catatan ya, dulu di zaman Soeharto, gak gampang jadi anggota MPR karena MPR digunakan Soeharto dan kroni-kroninya untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Anggota MPR dulu lebih banyak “ditunjuk” daripada lewat mekanisme yang benar. Pada masa Orde Baru, MPR adalah lembaga paling tinggi karena dianggap “penjelmaan rakyat”.

Dan MPR bisa mengubah GBHN dan bisa memilih Presiden, juga memberhentikannya. Jadi, menjadi anggota MPR di masa Orde Baru tentu harus ada kedekatan khusus dengan pihak Cendana dan Fadli Zon punya kedekatan khusus itu. Di sanalah dia berkenalan dengan Prabowo Subianto, yang waktu itu posisinya moncreng sebagai “bintang terang” di tentara.

Tahun 2015, Fadli Zon membantu Prabowo mendirikan partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra dan dia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Jadi bisa dibayangkan perjalanan bersama antara Prabowo dan Fadli Zon sejak awal Gerindra terbentuk.

Memang sesudah Prabowo akhirnya masuk ke dalam kabinet Jokowi terjadi perpecahan di dalam tubuh Gerindra. Sebagian kader di Gerindra khawatir, merapatnya Prabowo ke Jokowi berpotensi membuat suara Gerindra merosot di 2024 karena ditinggal oleh pendukung utama mereka di Pilpres sebelumnya, yaitu kelompok Islam garis keras. Karena itulah, menurut informasi, Fadli Zon diperintahkan untuk merapat ke kelompok itu supaya mereka tidak lari ke partai lain, seperti Demokrat yang sudah siap menampung. Ini bahaya sekali buat Gerindra.

Sebagai salah satu usaha membuat kelompok garis keras ini kembali merapat adalah harus selalu bertentangan dengan pemerintahan Jokowi. Kita semua tahu, kelompok garis keras ini adalah penentang paling depan pemerintahan Jokowi, karena di masa inilah mereka dihajar habis-habisan oleh Jokowi mulai dari pembubaran HTI sampai FPI. Dan Fadli Zon harus memainkan peran itu meski Prabowo Subianto ketua umumnya ada di kabinet Jokowi.

Makanya tweet- tweet Fadli Zon selalu menentang kebijakan Jokowi sebagai satu usaha supaya kelompok garis keras ini ejakulasi. Mulai dari pembubaran Densus 88 sampai yang kemarin ketika Jokowi sibuk meresmikan sirkuit Mandalika, Fadli Zon mencoba menyindir Jokowi dengan kasus banjir di Sintang.

Tweet Fadli Zon inilah yang dikabarkan oleh media mendapat teguran keras dari Prabowo sendiri. Meski, sekali lagi, saya kok gak percaya Prabowo berani menegur Fadli. Kenapa? Ya karena rekam jejak mereka berdua yang seperti sehidup semati. Gerindra seperti main di dua kaki, satu kaki di Jokowi, satunya lagi di kelompok garis keras itu. Lagian kalau cuma negur sih siapapun bisa, kasih saja ke Aldi Taher dia juga bisa negur siapapun juga.

Masalahnya, beranikah Prabowo memecat Fadli Zon yang selama ini selalu bikin masalah? Jangan cuma lempar handphone aja Pak, tapi bertindaklah lebih tegas kalau committed ke pemerintahan Jokowi. Ketegasan Prabowo dalam menyelesaikan masalah internalnya bisa menjadi acuan kalau dia maju sebagai capres nantinya. Jangan hanya keras ke luar, tapi lembek pada kawan sendiri. Kalau masalah internal partai saja sudah tidak beres, bagaimana bisa memimpin negeri ini dengan segala keruwetannya nanti?

Ada info lain sih, kalau Fadli Zon ini sebenarnya mau disingkirkan oleh Prabowo karena berseberangan. Lagian Prabowo juga sudah punya jagoan baru di partai bernama Sufmi Dasco Ahmad. Jadi sebenarnya, buat apa mempertahankan Fadli Zon yang asyik main politik identitas yang membahayakan negeri ini? Gaya Fadli itu tuh gaya Orba, udah gak cocok untuk politik masa kini.

Yuk kita tunggulah ketegasan Pak Prabowo, meski jujur saja saya gak yakin beliau bisa setegas penampilannya yang selalu berpakaian ala Soekarno dan orasinya yang menggelegar seperti mengajak perang. Ketegasan itu bukan dilihat dari tampilan, tapi itu adalah karakter. Kalau masalah karakter berani dan tegas, maaf Pak Prabowo, Pak Jokowi sampai sekarang belum ada lawannya. Wajah bolehlah diejek planga-plongo, badan bolehlah dihina kurus kering, tapi ketika Jokowi main tunjuk, dua ormas radikal yang massanya begitu banyak, langsung lari pontang panting.

Komentar