OPUNG LUHUT, KERJALAH TERUS…

Oleh: Denny Siregar

Saya kemarin nonton klarifikasinya Luhut Binsar Pandjaitan di acara podcast Deddy Corbuzier tentang isu bisnis PCRnya di PT GSI. Menarik. Buat saya Opung Luhut itu gentle. Dia mau datang dan menjelaskan banyak hal. Terbuka dan tidak takut bicara. Ciri khas orang Batak, suaranya keras tapi sebenarnya hatinya sebening kaca.

Di luar dari setuju atau tidaknya saya terhadap klarifikasi beliau, saya harus memuji, begitulah seharusnya seorang pejabat, apalagi setingkat menteri. Dia mencari cara untuk menyampaikan pendapatnya terhadap isu yang sedang menghantam dia.

Kenapa dia datang ke podcast Deddy Corbuzier? Pertama, karena LBP dan timnya tahu, kalau media online sekarang banyak pelintirannya. Media online sekarang mirip penjual gorengan, harus menggoreng berita supaya ada yang baca. Ya begitulah media online sekarang, mereka harus cari “berita buruk” supaya cuan mereka bagus. Media online bergantung dari banyaknya pembaca berita mereka, sehingga mereka bisa taruh iklan di situ. Supaya banyak orang yang masuk dan baca, biasanya awalnya mereka bikin judul yang clickbait, yang bombastis, yang kadang tidak sesuai dengan isi beritanya.

Yang kedua, lebih bagus memang LBP ngomong langsung sehingga bahasa tubuhnya terlihat. Bahasa tubuh orang jujur dan orang bohong itu keliatan dan terasa. Nah, butuh ruang supaya Opung Luhut bisa terlihat ketika dia mengklarifikasi masalah. Kalau lewat tulisan kan gak kelihatan dia jujur apa tidak. Dan tulisan hasil wawancara itu juga bisa multitafsir. Dan LBP memilih Deddy Corbuzier sebagai tempat dia klarifikasi itu sudah tepat, karena penonton Deddy itu banyak dan beragam. Jadi, pemilihan media apa untuk klarifikasi itu juga sangat menentukan.

Dan sesudah Opung Luhut menjelaskan banyak hal di sana, perhatikan, simpati orang mulai berdatangan. Simpati orang itu sebenarnya sudah ada sejak lama terhadap Opung, karena beliaulah yang selama ini selalu digaris depan ketika membela Jokowi dan menjadi tangan kanan terbaik Presiden. Orang hanya marah dan kesal, ketika tahu, ternyata perusahaan LBP ada juga di bisnis PCR. Sesuatu yang mereka gak sangka, karena selama ini menganggap LBP sempurna, sudah kaya dan sudah selesai dengan dirinya. LBP di tanah Batak memang terkenal dengan charity-nya. Salah satu perannya dalam dunia pendidikan adalah ketika ia dan istrinya mendirikan Yayasan DEL di Toba Sumatra Utara. Yayasan Del inilah yang punya peran penting dalam menyebarkan anak-anak Sumatra yang pintar-pintar di bidang teknologi informasi. Orang Batak itu memang punya prinsip selalu harus jadi Orang dengan O besar.

Dalam artian, banyak orang sebenarnya simpati dengan LBP karena apa yang dia lakukan selama ini. Dan simpati itu tertanam di dalam benak yang paling dalam. Orang jatuh cinta pada sosok Opung Luhut, yang seperti seorang bapak, tetap bekerja demi anaknya. Nah, karena rasa hormat dan cinta itulah, banyak orang yang juga kecewa ketika mendengar ada bisnis yang melibatkan Luhut Binsar Pandjaitan, apalagi bisnis itu berhubungan dengan orang kecil yang diwajibkan tes PCR yang mahal. Marahlah mereka. Tapi marah orang banyak ini berhasil teredam dengan hadirnya Opung Luhut di podcast Deddy. Dan di sinilah komunikasi yang baik tercapai. Apa yang dilakukan LBP seharusnya menjadi acuan pejabat setingkat menteri ketika berkomunikasi dengan rakyat. Lugas dan tidak perlu menyembunyikan apapun.

Dari kasus LBP dengan PT GSI-nya itu, ada satu catatan yang harus kita kasih garis tebal. Bahwa sebenarnya, dengan niat apapun, tidak boleh seorang pejabat pembuat kebijakan punya usaha di bidang di mana dia yang membuat kebijakan. Ini pantangan dan berpotensi menjadi fitnah besar. Itu lubang yang harus ditutupi dan seharusnya sudah diatur oleh Presiden ataupun Undang-Undang. Karena potensi konflik kepentingannya itu besar sekali. Bayangkan kalau satu waktu nanti ada pejabat rakus yang membuat kebijakan, dan dia punya bisnis di kebijakannya tersebut karena beralasan itu untuk amal. Bahaya sekali, kan. Mirip zaman Orde Baru di mana Soeharto bikin yayasan amal, tetapi yayasan itu ternyata buat membiayai proyek-proyek yang juga keluar dari kebijakan-kebijakannya.

Poin kita dari kasus LBP dan PT GSI adalah conflict of interest, atau konflik kepentingan. Saya juga gak percaya kalau LBP ada korupsi di sana. Saya hanya mengingatkan saja, kalau kekuasaan itu seperti pedang. Kalau digunakan dengan benar, pedang itu akan membela kebenaran. Tapi kalau tidak diasah dengan benar, karat di besinya akan mencelakakan tangan.

Salut, Opung. Semoga ke depan kita bisa berbenah lebih baik dalam mengatur negara. Saya seruput kopi dulu. Kopi Seruput. Cita rasa original kopi Indonesia. Mari seruput.

Komentar