CHYNTIA DE FRETES MASUK ISLAM SETELAH DENGAR AZAN?

Oleh: Ade Armando

Namanya Chintya de Fretes. Perempuan ini mengaku mantan pendeta yang masuk Islam setelah mendengar suara azan.

Channel-channel Youtube bersimbol Islam menyambutnya gembira. Video Chintya diterima sebagai muallaf di sebuah masjid menjadi viral.

Sebuah channel menurunkan judul: ‘Pendeta Asal Maluku Chintya Theresia Defretes Menemukan Hidayah dan Mengucapkan Syahadat’. Kanal Youtube yang lain menulis: “Hidayah Suara Azan, Pendeta Cantik di Maluku jadi Mualaf”.

Dalam video itu hadir Chintya yang bercerita tentang perjalanan spiritualnya.

Dia lahir pada 1995 dengan orangtua Ambon dan ayah Belanda. Saat dia lahir, ayahnya seorang polisi warga Belanda, pulang ke negara asalnya.

Chintya mengikuti pendidikan Al-Kitab di Universitas di Bali. Setelah lulus, dia memimpin sebuah gereja di Maluku Tenggara Kemudian dipindahkan ke Bali, karena ia banyak tak sependapat dengan gereja

Pada 2020, menurutnya ia kembali ke Ambon. Dan di Ambon, untuk pertama kalinya ia menyatakan mendengar suara azan berkumandang.

“Hati saya hancur”, kata Chintya terisak.

Ia merasa mendapat hidayah dari Allah dan itu berlangsung beberapa kali. Ia memohon pada Allah untuk menolongnya dan Allah pun mempertemukan dia dengan banyak orang yang membawanya masuk ke dalam Islam.

Kini ia mengubah nama menjadi Siti Rahma Fadillah.

Benarkah cerita itu? Tidak jelas.

Yang pasti, cerita Chintya sudah langsung dibantah. Beredar pengakuan dari beberapa orang yang menyatakan diri sebagai tetangga dan kenal baik Chintya. Ada June Carmen Noya, Lisa Salakay, Thosy Pattipellohy.

Kalau berdasarkan cerita ketiga perempuan yang beredar di medsos ini, Chintya bukanlah orang seperti yang diakuinya. Ayahnya bukan orang Belanda. Dia bukan pendeta.

Yang pendeta adalah mantan suaminya. Dia sendiri tidak mungkin mendapat pendidikan Al-Kitab di universitas di Bali, karena tidak ada universitas di Bali yang memberikan pendidikan Al-Kitab.

Dari pernikahannya, Chintya sudah melahirkan dua putra. Chintya dan suaminya sudah berpisah walau belum cerai. Dan perpisahan mereka terjadi karena antara lain kasus perselingkuhan dan penipuan arisan barang online.

Terus terang, saya sendiri sih nggak tahu pasti cerita versi mana yang lebih benar. Namun kalau kita perhatikan selama ini memang sudah banyak mualaf yang menyebarkan cerita bohong.

Sebelum ini misalnya ada mualaf bernama Fauzan Al-Azmi. Ia mengaku lulusan S2 Teologi Injil Vatican School di Vatikan. Dia mengaku ayahnya adalah seorang Cardinal bernama Yohannes Ignatius dan ibunya adalah penyebar Injil.

Tapi belakangan diketahui dia itu bukan mualaf. Dari dulu pun dia sudah muslim. Nama aslinya Joko Subandi, asal Kudus. Dia bilang ibunya bernama Maria Laura. Padahal ibunya bernama Surahma.

Joko memang penipu berat. Dengan predikat mualafnya, dia menikahi belasan perempuan dari Ciamis, Batam, Riau dan Jambi. Banyak korban yang sampai tertipu ratusan juta rupiah.

Begitu pula ada Chris Bangun Samudra. Dia mengaku alumni S3 di Vatikan. Kebohongannya dengan segera teridentifikasi karena di Vatikan, tidak ada universitas yang mengeluarkan gelar S3.

Belakangan terbongkar, dia cuma pernah bersekolah di SMA Katolik Seminari di Kota Blitar, Jawa Timur. Bahkan, tidak sampai tamat.

Ada pula Steven Indra Wibowo. Dia terkenal sekali sebagai Ketua Mualaf Center Indonesia, yakni semacam lembaga pusat pelayanan bagi para muallaf. Dia ketahuan bohong mengaku sebagai mantan romo di Katedral Jakarta.

Ketahuannya pun sederhana banget. Dia bilang menjadi pastor pada tahun 2000. Sementara dia mengaku lahir pada 1981. Masalahnya, nggak mungkin seseorang menjadi imam pada usia 19 tahun.

Menjadi pastor di Katolik itu tidak seperti proses menjadi ustadz atau ulama di Islam. Untuk menjadi pastor Katolik, seseorang harus menjalani proses pendidikan bertahun-tahun dan berat.

Jadi nggak mungkinlah Steven sudah menjadi pastor pada usia semuda itu.

Atau ada juga yang lebih senior. Misalnya saja Yahya Waloni yang sekarang tersandung perkara hukum karena dituduh menghina Kristen.

Dia juga mengaku sebagai mantan pendeta. Dan mengaku sebagai pendiri dan mantan Rektor Universitas Kristen Papua. Belakangan ketahuan dia bohong karena adanya bantahan dari Universitas Kristen Papua sendiri.

Jadi cerita-cerita mualaf pembohong ini berulangkali ditemukan.

Kenapa mereka melakukannya? Tentu bisa ada banyak alasan.

Dalam kasus Chintya, dia mungkin sekali berusaha mencari perlindungan. Kalau benar dia terjerat kasus penipuan, mungkin sekali dia berharap dengan mengaku sebagai mualaf, dia akan memperoleh dukungan dari umat Islam.

Dengan dukungan itu, dia mungkin berharap bisa melepaskan diri dari pengejaran mereka yang tertipu. Umat Islam memang bisa sangat emosional kalau merasa bahwa saudara seimannya dizalimi. Sementara para mualaf penipu lainnya, saya duga melakukannya untuk popularitas.

Masalahnya memang banyak orang Islam yang bahagia sekali kalau mengetahui ada orang lain yang pindah agama dan masuk Islam. Mereka akan mengelu-elukan mualaf karena mereka merasa berada di jalan yang benar.

Nah para mualaf inilah kemudian akan memanfaatkan popularitas ini untuk cari uang. Akan ada banyak orang Islam berbondong-bondong ingin mendengarkan pengakuan mereka yang pindah agama.

Apalagi kalau si mualaf ini pintar bercerita tentang mengapa dia meninggalkan agama lamanya. Apalagi kalau si mualaf ini pintar bercerita tentang kejelekan-kejelekan agamanya yang lama. Apalagi kalau cerita itu dibumbui dengan kisah-kisah lucu tentang kebodohan umat pemeluk agamanya yang lama.

Ini akan menjadi nilai jual yang tinggi. Dia akan diundang ke banyak tempat. Bahkan bisa punya channel Youtube sendiri.

Karena itulah, seperti saya senantiasa katakan, akal sehat sangat diperlukan bagi kita dalam beragama.

Perpindahan agama seseorang selayaknya dipandang sebagai hal biasa saja. Orang bisa pindah agama karena beragam alasan, dari sekedar bosan dengan agamanya yang lama, untuk bisa mengawini banyak perempuan, sampai yang merasa mendapat pencerahan.

Karena itu marilah kita tidak membesar-besarkan perpidahan agama.

Saya selalu geli membaca atau menyaksikan konten media yang bercerita tentang artis-artis yang pindah agama. Kan pindah-pindah agama itu biasa-biasa saja. Tidak perlu dirayakan, sebagaimana tidak perlu juga dihujat.

Dalam soal yang terakhir ini, masih ada saja pemuka agama menyatakan mereka yang keluar dari Islam layak dibunuh. Alasannya, karena hukuman mati itu diperintahkan syariah.

Sangat tidak masuk di akal. Dan bahkan menakutkan.

Marilah kita sekarang berharap tak ada lagi mualaf-mualaf pembohong lahir di Indonesia. Mereka cuma merusak.

Komentar