MEREKA (MENCOBA) MENTEROR AGAR SAYA BUNGKAM

Oleh: Ade Armando

Saat ini, beredar sebuah video 1 menit yang ceritanya berusaha mendoxing saya. Buat anda yang belum familiar dengan istilah doxing, saya jelaskan dulu ya.

Doxing itu artinya mengungkapkan informasi pribadi seseorang tanpa persetujuan orang itu. Itu lazim dilakukan untuk menteror seseorang yang dianggap sebagai musuh yang harus dihabisi.

Dengan menyebarkan informasi pribadi, pelaku berharap korban akan menderita secara psikologis. Apalagi kalau ada data pribadi yang sebenarnya tidak pantas. Termasuk misalnya foto atau video di masa lalu yang misalnya bersifat amoral.

Istilah doxing belakangan ini sering dilontarkan terkait teror terhadap para aktivis yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. Ketika kelompok-kelompok anti-Jokowi berteriak bahwa kebebasan berekspresi di Indonesia dibungkam, lazimnya yang dijadikan contoh adalah doxing.

Kata mereka, pemerintah mungkin memang tidak menangkapi mereka yang bersuara kritis. Tapi, pemerintah mereka tuduh punya pasukan yang bekerja menteror kaum aktivis dengan melakukan doxing.

Tidak ada bukti sih pemerintah melakukan itu. Tapi narasi itu terus diulang sehingga mereka sendiri akhirnya percaya bahwa pemerintah memang suka mendoxing kaum kritis.

Kali ini pendoxingan menimpa saya, yang kerap disebut sebagai buzzer pemerintah.

Jadi, ceritanya ada pasukan cyber yang bisa meretas e-mail saya, membongkar informasi pribadi di sana, memanipulasi data pribadi yang terhubung dengan email saya dan kemudian menyebarkannya kepada publik.

Data dan peretasan itu mereka muat dalam video satu menit yang saya sebut. Video doxing itu dirancang dengan gaya dramatis.

Nama pembuatnya sok menakutkan: Death Skull. Kalau diindonesiakan ini menjadi tengkorak kematian. Iconnya adalah gambar wajah tengkorak dengan topi baret.

Video dilatarbelakangi lagu yang sering digunakan untuk mengiringi adegan-adegan kekerasan. Kemudian di dalamnya ditampilkanlah nama dan data pribadi saya.

Ada tempat dan tanggal lahir saya. Nama ayah saya (almarhum). Nama ibu saya yang sudah berusia 90 tahun. Nama istri saya. Ada alamat rumah saya, telepon rumah, nomor handphone serta dua alamat email saya.

Lantas di bawahnya ada tulisan: Di Simak Baik-baik. Nama akunnya @nonymousglobal diikuti hashag #Anons. Ini dilanjutkan dengan cuplikan dari aplikasi Get Contact.

Aplikasi ini saat ini terkenal karena berguna untuk melacak siapa pemilik nomor HP tertentu dan bagaimana nama si pemilik itu terdaftar di phonebook pengguna WA.

Ternyata yang muncul dengan nama saya lucu-lucu. Misalnya saja ada phonebook yang menyebut nomor hp saya dengan nama Ade Armando Dosen Pea atau Ade Armando Cebong.

Kemudian pasukan cyber ini menampilkan screenshot yang seolah menggambarkan mereka sudah bisa menembus masuk alamat email saya.

Mereka kemudian menampilkan foto dengan tulisan “The Warriors Squad”.

Lantas ada tulisan: “Mencreeett Admandongo”

Dilanjutkan dengan bukti keberhasilan mereka selanjutnya. Dengan bangga mereka menunjukkan mereka bisa masuk ke Direktori Kepakaran Universitas Indonesia.

Nama saya memang tercantum di situ lengkap dengan jabatan saya. Kemudian mereka menunjukkan mereka seolah berhasil mengubah data tentang karier saya.

Di situ mereka tambahkan, mereka tulis saya adalah Anggota Persatuan LGBT Sedunia, Basel Swiss (2007 sampai sekarang).

Juga, ditulis disitu saya adalah Buzzer Istana Merdeka di bawah pimpinan Kakak Pembina, Moeldoko.

Siapapun pelakunya, mereka adalah kaum yang tolol luar biasa. Mereka pengecut. Mereka itu hanya bisa menyerang dari belakang. Dan mereka sedemikian tololnya sehingga mereka menyangka hal semacam itu akan berdampak pada saya.

Mereka mungkin membayangkan saya dan istri saya akan ketakutan. Padahal, apa sih yang harus ditakutkan dengan penyebaran data kelahiran, nama ayah, nama istri, alamat rumah, alamat email, nomor telepon.

Data-data semacam itu kan memang tidak pernah saya tutup-tutupi. Nomor telepon saya bahkan bisa diketahui kalau orang memasuki data di FB saya. Dan setelah masuk ke backend email saya, apa juga gunanya orang ini memanipulasi data saya?

Memang ada yang percaya kalau saya menyatakan diri anggota Persatuan LGBT Sedunia Memang ada yang percaya bahwa saya buzzer Istana Merdeka di bawah Moeldoko?

Orang-orang ini sih nampaknya memang tumpul kreativitasnya. Mereka mungkin menyangka diri mereka jenius dan brilian. Mereka menyangka bisa membuat orang terkagum-kagum dengan pencapaian mereka.

Namun, maaf ya sebenarnya apa yang mereka lakukan itu nampak sekali tolol. Tidak ada indikasi kepintaran pada diri mereka.

Soal penyebaran nomor telepon saya juga sama dungunya. Apa sih yang saya takutkan kalau nomor telepon saya diketahui orang?

Selama ini saya sudah biasa kok dikontak orang tak dikenal. Kadang ada juga yang menelepon langsung, dan ketika saya angkat, dia akan memaki-maki dengan sumpah serapah yang mesum, cabul, busuk.

Dan kalau itu terjadi ya reaksi saya sederhana. Saya matikan telepon, dan saya blok nomernya. Begitu juga dengan kiriman WA-WA tidak jelas yang isinya juga sama brutalnya.

Reaksi saya sih sederhana. Kalau saya lagi jahil, saya kirim saja sticker-sticker yang saya harapkan menyakiti dia.

Misalnya, stickter gambar orang seperti Rizieq Shihab yang nampak setengah mabuk dan mengangkat segelas bir. Atau video anak Arab yang joget-joget.

Atau sticker tulisan: “Coba Tanya udin, Mungkin dia tahu”.

Atau foto Rocky Gerung yang menyilangkan telunjuk di dahi dengan kata: “Semua Kadrun otaknya begini”, pokoknya dibikin recehlah.

Kalau dia makin ngamuk, ya saya block saja. Kalau dia mengancam saya, ya saya katakan saja bahwa kalau dia melakukan ini lagi, saya adukan nomor pengirim ke polisi. Biasanya sih lantas diam.

Jadi, sebenarnya cara-cara tak beradab semacam ini tak perlu dirisaukan. Buat saya ini semua semacam efek samping dari kebebasan berekspresi.

Kalau yang meretas memang tindak kriminal. Kalau saya mau mengadukan peretasan, saya bisa. Dan Polisi akan mau menerima laporan saya.

Tapi kalau yang mereka lakukan baru sampai memanipulasi data saya sehingga saya seolah-olah adalah anggota Perkumpulan LGBT, ya sudahlah.

Kan menjadi LGBT juga bukan aib. Tapi kalau mereka mulai bergerak lebih jauh , misalnya dengan memanipulasi seolah saya mengirimkan materi pornografis, saya akan serius melaporkannya secara hukum.

Kembali ke cerita awal. Buat saya, serangan pengecut semacam ini sekadar memperkuat dugaan saya bahwa ada pihak-pihak yang ingin membungkam saya.

Saya duga, mereka adalah kaum yang kalah secara politik saat ini.

Mungkin sekali mereka adalah para pendukung Rizieq, atau FPI atau HTI, atau para penegak Syariah yang marah pada saya karena saya selama ini mendukung langkah-langkah tegas pemerintah mengendalikan mereka.

Buat saya ini semua adalah bentuk keputusasaan mereka. Karena itu, wahai para doxers, sudahlah!

Berhentilah membenci negara ini, berhentilah membenci bangsa ini. Bangsa ini hanya akan menjadi besar kalau kita bekerja sama.

Komentar