MENJELANG REUNI ALUMNI 212, MARI KITA KENANG JASA FIRZA HUSEIN

Oleh: Ade Armando

Saya sebetulnya ingin bertemu dengan Firza Husein. Saya ingin mengatakan padanya, terimakasih karena sudah menyelamatkan Indonesia. Saya ingin mengatakan, terimakasih bahwa karena gara-gara dia, Rizieq harus bertahun-tahun kabur dari Indonesia.

Gara-gara Firza, segenap kejayaan Rizieq sirna. Dan begitu Rizieq tumbang, rumah kartu yang dibangunnya juga berantakan. Nama Firza kembali tampil dalam ingatan saya begitu saya mendengar rencana adanya reuni 212.

Supaya Anda tidak lupa, 212 itu merujuk pada demonstrasi besar-besaran pada 2 Desember 2016 yang bertujuan memenjarakan Ahok. Acara itu fenomenal karena adanya mitos bahwa ketika itu 7 juta warga berkumpul di Monas.

Acara itulah yang sekarang akan dikenang melalui reuni akbar yang rencananya akan dilaksanakan pada 2 Desember 2021. Kabarnya, salah satu satu agenda reuni 212 adalah menuntut pembebasan Rizieq Shihab.

Memang absurd sih. Tapi kalau mereka memang masih bermimpi bisa membebaskan Rizieq, ya silakan. Mimpi itu gratis kok.

Sekadar catatan, acara ini sendiri masih belum mendapat izin dari Pemprov DKI. Pemprov DKI kali ini tumben-tumbenan berpikiran lurus. Mereka mengingatkan bahwa kerumunan reuni, kalau jadi dilakukan, bisa melahirkan kluster Covid-19 baru.

Jadi Pemprov minta agar PA 212 mempertimbangkan kembali rencana itu. Bagaimanapun, buat saya, ide bikin reuni 212 itu sendiri menunjukkan betapa mereka masih hidup dalam mimpi.

Mereka berimajinasi bahwa mereka memiliki kekuatan raksasa. Mereka masih membayangkan betapa megahnya kekuatan 212 dulu, dan mereka berharap kejayaan itu mereka bangkitkan kembali saat ini.

Halusinasi ini juga nampak dengan rencana Novel Bamukmin untuk menjadi cawapres Anies Baswedan. Novel bilang, rencana ini datang dari Rizieq Shihab. Bayangkan, Novel Bamukmin sebagai calon wakil presiden. Tidakkah dia sebaiknya mengukur diri dulu di depan cermin?

Tapi itulah 212, mereka terus bermimpi. Sebagaimana mereka sekitar 5 tahun yang lalu itu bermimpi bisa menguasai Indonesia.

Tapi, kalau dipikir-pikir, mimpi mereka 5 tahun yang lalu sebenarnya lebih realistis. Mereka ketika itu memang punya momentum untuk membesarkan gerakan Islam politik yang luar biasa di bawah kepemimpinan Rizieq Shihab.

Syukurlah, ada intervensi suci dari langit. Dan takdir yang menggagalkan 212 itu terjadi lewat Firza. Saya ingin Anda mengenang bersama-sama apa yang terjadi sekitar 5 tahun yang lalu itu.

Semua dimulai dengan pertarungan antara Ahok dan Anies dalam Pilgub DKI 2017. Ahok ketika itu dituduh menista agama. Umat Islam menjadikan kasus penistaan itu sebagai alasan untuk konsolidasi

Kalau semula Ahok cuma ditolak karena beragama Kristen, isunya kemudian melebar menjadi Ahok harus ditolak karena menista agama. Orang seperti Rizieq dengan gembira menggunakan kasus Ahok untuk memobilisasi massa Islam di bawah pimpinannya.

Pada Oktober, Rizieq dengan lantang mengatakan, “Tangkap Ahok, kalau tidak kami bunuh.”

Dia juga mengancam Presiden. Katanya, “Presiden membela Ahok, aparat diam, bunuh Ahok.”

Pada 4 November berlangsung aksi umat Islam pertama. Dikabarkan dana yang dihabiskan mencapai Rp100 miliar. Dan puncaknya adalah pada 2 Desember 2016.

Aksi Bela Islam 212 itu diselenggarakan GNPF MUI (Gerakan nasional Pembela Fatwa MUI). Di poster-poster yang paling mengemuka adalah wajah Rizieq. Sesudah acara itu, kebesaran nama Rizieq semakin tak terbendung.

Pada 23 Desember, Rizieq mengultimatum bahwa kalau sampai Ahok dinyatakan bebas oleh pengadilan, yang harus dilakukan adalah REVOLUSI.

Menurutnya, DPR/MPR harus diduduki selama satu minggu. Katanya, itu bukan makar, karena DPR adalah rumah rakyat. Di akhir tahun Riziq Shihab diangkat menjadi Imam Besar Nasional oleh Persaudaraan Muslimin Indonesia.

Di awal 2017, dia dipilih menjadi Man Of The Year. Anies Baswedan yang menurut polling suaranya masih jauh tertinggal dari Ahok, langsung merapat ke Rizieq.

Lantas beredar video yang menunjukkan bagaimana Rizieq tampil di podium mengajak pengikutnya untuk REVOLUSI.

Buat dia, Ahok harus ditangkap. Kalau tidak ditangkap, ya revolusi! Dia bilang, “Pilih mana: aksi damai atau revolusi?” Dijawab, revolusi!

Dia tanya lagi, “Pilih mana, aksi super damai, atau revolusi!” Dijawab, revolusi! Dia tanya lagi, “Pilih mana, aksi hiper damai atau revolusi?” Dijawab, revolusi! Dia berteriak, “Siap revolusi?” Dijawab, siap!

Jadi ketika itu Rizieq memang tinggal satu langkah menuju posisi Sang Penyelamat, Sang Messiah, Imam Mahdi, bagi umat Islam.

Tapi seluruh cerita itu berantakan dengan hadirnya Firza Husein. Di saat menjelang aksi 212 di awal Desember, Firza ditahan polisi dengan 11 orang lainnya. Dia diduga terlibat dalam konspirasi rencana makar menggulingkan pemerintah.

Selain Firza ada Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zen, dan Ahmad Dhani. Firza tidak ditahan lama, tapi semua perangkat komunikasinya sempat disita.

Namun arti penting Firza bukanlah di soal makar. Di akhir Januari 2017, beredarlah rekaman chat Firza dengan Rizieq. Di dalam rekaman itu, termuat ucapan dan foto-foto mesum antara Firza dan Rizieq.

Kemudian beredar pula rekaman suara Firza dengan wanita lain yang kemudian dikenal dengan nama Kak Emma. Dalam percakapan itu semakin kuat kesan bahwa Firza memang punya affair dengan Rizieq.

Sejak saat itulah kondisi berubah 180 derajat. Pada awalnya kubu Rizieq masih membela diri dengan mengatakan handphone Sang Imam dikloning.

Mereka mengatakan penyebaran chat, foto, dan suara percakapan itu sebagai upaya keji menghancurkan Rizieq. Pada mulanya masih ada aksi-aksi massa untuk membela Rizieq.

Namun upaya menyelamatkan Rizieq ini menjadi sia-sia ketika polisi kemudian menyatakan Rizieq dan Firza akan dijadikan tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran UU Pornografi.

Polisi menyatakan mereka menemukan bukti-bukti yang menunjukkan keaslian chat dan foto-foto mesum Firza dan Rizieq.

“Kasusnya mudah ditangani, seperti kasus Ariel dan Luna Maya,” kata Kapolda ketika itu.

Rizieq, Sang Imam besar, semakin tersudut. Dia dipanggil untuk diperiksa polisi di akhir April. Di panggilan pertama dia tidak hadir karena alasan ‘kurang sehat’. Di panggilan berikutnya, di awal Mei, dia kembali mangkir dengan alasan umroh. Dan sejak saat itu dia tidak kembali ke Indonesia. Sampai tahun lalu.

Sekarang marilah kita bayangkan kalau tidak ada skandal Firza. Kalau saja tidak ada Firza, Rizieq akan menjadi imam besar umat Islam Indonesia sesungguhnya. Dia akan memimpin kubu 212 bukan saja untuk memenangkan Anies Baswedan dan memenjarakan Ahok, tapi juga membangun kekuatan Islamis radikal di Indonesia.

Kalau saja Rizieq tidak kabur, hasil pilpres 2019 mungkin akan lain. Dengan dukungan Rizieq dan 212, Prabowo mungkin sekali bisa mengalahkan Jokowi. Di bawah pimpinan Rizieq, FPI mungkin sekali menjadi sebuah organisasi preman raksasa yang terus menebarkan teror di Indonesia.

Bagi para alumni 212, apa yang berlangsung pada 2 Desember 2016 mungkin akan terus mereka kenang sebagai bukti kekuatan Islam.

Tapi buat saya, 2 Desember 2016 layak dikenang sebagai momentum yang mengawali kegagalan upaya kaum radikal menguasai Indonesia. Karena itu saya kita harus berterimakasih pada Firza Husein. Tanpa dia sadari, dia menjadi tokoh sentral dalam penyelamatan Indonesia.

Komentar