MAU JADI PAHLAWAN? NGACA!

Oleh: Denny Siregar

Hari ini tepat tanggal 10 November dan diperingati sebagai Hari Pahlawan di seluruh Indonesia. Sepi, tidak ada keriuhan, tidak ada pertunjukan. Mungkin karena pandemi dan orang dilarang berkumpul, ya. Semoga tahun depan keriuhan itu bisa ada lagi. Saya pernah titip sesuatu kepada Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, waktu bertemu. Saya titip, tolong dong Mas, untuk Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan, kelak kalau pandemi sudah selesai, seluruh sekolah di Indonesia bikin lagi keriuhan, karnaval, merias sekolah, persis seperti zaman Orde Baru dulu.

Dulu waktu kecil, saya selalu sibuk menyambut Hari Pahlawan dan Hari Kemerdekaan dengan latihan teater untuk dipertunjukkan di sekolah. Sekarang itu jarang banget. Yang banyak malah kegiatan keagamaan. Entah ada apa dengan bangsa ini, sekarang sekolahnya sibuk banget dengan kegiatan keagamaan. Saya rindu masa lalu dan mungkin itulah warisan Pak Harto yang terbaik, di balik segala keburukannya, yaitu sebuah pesan kebangsaan. Dulu pada Hari Pahlawan dan Hari Kemerdekaan, kita ini sibuk menyambutnya dengan keriuhan dan pesta. Sekarang malah situasi seperti itu jarang ada. Dan cara melawan kegilaan beragama seperti yang terjadi sekarang itu hanya dengan membangun nilai-nilai yang dulu diperjuangkan oleh para pahlawan, mengangkatnya setiap tahun sebagai peringatan, memeriahkannya sebagai tanda kita tidak akan pernah lupa akar sejarah negara ini dulu didirikan.

Saya selalu miris kalau dengar orang sekarang ada yang bicara bahwa negara ini tidak akan berdiri kalau agama Islam tidak melawan penjajah. Itu memang benar, tapi tolong lihat juga fakta kalau Kristen, Hindu, Buddha, dan semua bergerak bersama melawan penjajah. Ini bukan tentang agama siapa yang paling banyak, tapi tentang nilai harga diri kita sebagai bangsa Indonesia yang tidak mau diinjak. Manado, Bali, Maluku, semua punya kisah sejarah perjuangan mereka sendiri. Semua punya pahlawan-pahlawan sendiri yang angkat senjata demi harga diri, bukan karena urusan hanya membela yang seiman.

Bahkan warga Tionghoa juga tercatat sebagai bagian dari perlawanan menghadapi penjajah. Coba deh tengok ke Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. Di sana ada pahlawan yang bernama John Lie. Beliau seorang Laksmana Muda yang dulu digelari Hantu Selat Malaka. Gelar John Lie ini bukan main-main. Tanpa John Lie, perjuangan jadi sia-sia karena dialah yang berjasa menyelundupkan senjata supaya kita bisa perang melawan Belanda. Kisahnya dengan kapal perangnya yang bernama “Outlaw” menarik perhatian banyak jurnalis luar negeri untuk meliput. John Lie atau nama aslinya Lie Tjeng Tjoan meninggal dalam usia 77 tahun dan dianugerahi Bintang Mahaputera oleh dua presiden.

Selain nama John Lie banyak sekali warga beretnis Tionghoa dan beragama Kristen juga Buddha, yang berjuang membela negara. Tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena panjang sekali daftarnya. Belum lagi kalau kita membaca Perang Puputan di Bali yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Ini perang gila. Orang-orang Bali kumandangkan Puputan atau perang sampai mati kepada penjajah. Karena gak sanggup menahan kegilaan orang Bali di dalam perang Puputan itulah, Belanda sampai kabur, dan gak tahan.

Kalau kita sering membaca sejarah terbentuknya Indonesia, pasti akan malu melihat orang-orang kemarin sore teriak supaya Indonesia menjadi negara syariah, negara satu agama. Orang baru lahir, bodoh, gak pernah membaca dan pentol korek ini, seharusnya paham kalau darah yang mengalir saat perang dulu itu bukan hanya darah orang Islam saja, tetapi darah seluruh agama, seluruh etnis, dan ras yang ada di Indonesia. Penghianatnya juga ada, dari seluruh agama, seluruh etnis dan ras. Jadi jangan pernah merasa benar sendiri, jangan pernah merasa berjasa sendiri, tidak ikut mendirikan tetapi ribut untuk menguasai.

Itulah kenapa saya gigih melawan orang-orang yang ingin mendirikan negara Khilafah di negeri ini. Saya malu dengan kakek dan nenek saya yang dulu berjuang, mengangkat senjata, mengorbankan nyawa hanya demi kemerdekaan anak dan cucunya. Dan kita tinggal menjaganya, menjaga persatuannya, bukan malah menjadi kelompok eksklusif yang berkumpul hanya atas dasar alasan, “Agamamu apa?”

Menjadi pahlawan di masa sekarang ini tidak susah. Cukup menjaga negeri ini saja dengan segala kebhinnekaannya, itu sudah sangat berharga. Cara supaya bisa menjadi pahlawan masa kini hanyalah robek semua ego di dada bahwa kita berbeda. Pakai satu seragam bersama, bahwa apapun kita, siapapun kita, kita adalah satu, anak Indonesia. Dan Merah Putih bukan hanya dikibarkan, tetapi tanamkan di dalam dada.

Kita seruput dulu kopinya, Kopi Seruput. Cita rasa original kopi Indonesia. Mari seruput.

Saya sudah lama ingin meneriakkan ini. Merdeka!

Komentar