KENAPA REFLY HARUN MENGADUDOMBA PIMPINAN POLISI

Oleh: Ade Armando

Refly Harun ini memang luar biasa. Dia rupanya ingin sekali mengadudomba polisi. Dia rupanya benci sekali dengan POLRI dan pemerintah Jokowi. Dan kebencian itu rupanya membuat dia kehilangan akal sehat.

Atau kebencian itu membuat dia tega menghina intelektualitasnya dengan membangun narasi menyesatkan yang dengan segera diketahui cacatnya.

Kali ini yang dia adudomba adalah Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Tubagus Ade Hidayat dan Kapolda Fadil Imran. Ini dilakukannya di channel youtubenya 10 November. Judulnya: KASUS KM 50: DIRKRIMUM VS KAPOLDA METRO, KOK BEDA?

Saya tertarik menyaksikan videonya karena saya ingin tahu apakah memang ada perbedaan antara penjelasan antara Tubagus dan Fadil.

Yang dipersoalkan tentu saja kronologi penembakan 6 Laskar FPI di kasus Kilometer 50 Jakarta Cikampek, Desember lalu.

Pada 9 November, Pengadilan tentang kasus penembakan Kilometer 50 itu menghadirkan Tubagus Ade Hidayat.

Tubagus diketahui adalah pihak yang memerintahkan anak buahnya memantau dan membuntuti rombongan Rizieq Shihab.
Selama ini saya sangat percaya dengan penjelasan KAPOLDA METRO yang mewakili suara resmi POLRI.

Tapi sebagai orang yang hidup dalam dunia akademis, saya nggak boleh begitu saja menganggap hanya ada satu versi kebenaran.

Kapolda mungkin tak berbohong, tapi tetap saja ada kemungkinan apa yang dia sampaikan masih bisa diragukan kebenarannya karena sejumlah hal. Karena itu saya menyaksikan video Refly dengan sekaligus antusias dan juga khawatir.

Dengan kata lain, kan mungkin saja Refly benar. Mungkin saja ada perbedaan penjelasan Tubagus dengan Kapolda. Dan kalau itu benar, pandangan saya tentang apa yang terjadi dalam tragedi itu sangat mungkin saya harus ubah.

Untungnya, Refly memberi harapan terlalu tinggi. Saya menonton videonya dari ujung ke ujung. Dan ternyata Refly hanya membual. Tak ada sedikitpun informasi yang ia sampaikan bisa membuat orang berakal sehat melihat ada perbedaan penjelasan antara dua petinggi Kepolisian itu, Tubagus dan Fadil.

Saya mengikuti perkembangan kasusnya, penjelasan berbagai pihak, pemberitaan media, penjelasan POLRI, Polda dan seterusnya. Terus terang dari itu semua, saya tiba pada keyakinan bahwa penjelasan POLRI selama ini bisa dipercaya.

Komnas HAM juga menerima penjelasan polisi, setelah melakukan penyelidikan independen sendiri. Memang ada kontroversi. Dan karena itulah dua polisi yang menewaskan para Laskar FPI itu kini diadili.

Yang jadi pusat kontroversi adalah apakah polisi menembak Laskar FPI dengan cara yang dapat dibenarkan secara hukum.

Apakah polisi menembak Laskar FPI dengan sengaja membunuh atau sebagai bagian dari upaya membela diri. Di situ letak pusat masalah. Bila polisi terbukti menembak karena membela diri, mereka akan bebas. Tapi di videonya, Refly Harun sebenarnya tidak membahas itu.

Bahkan Refly tidak menjelaskan tuh secara jelas apa yang dia sebut sebagai perbedaan penjelasan Tubagus dan Kapolda. Sehingga penonton cuma bisa menduga-duga jadinya.

Refly memang menyebut soal penjelasan Kapolda di saat konferensi pers di siang hari setelah penembakan 7 Desember 2020 itu. Kapolda ketika itu menyebut ada 10 anggota Laskar FPI yang menghadang polisi.

Nah, kemudian menurut Refly, kok Tubagus bilang yang dihadapi polisi cuma enam orang Laskar FPI?

Dalam hal ini, kalau saja Refly mengikuti rangkaian penjelasan yang sudah disampaikan baik POLDA maupun Komnas HAM, pertanyaan itu terlalu konyol untuk diajukan. Begini ceritanya, pada awalnya tim polisi memang diganggu oleh dua mobil Laskar FPI yang berisi 10 orang.

Dua mobil itulah yang membuat mobil polisi tertinggal dari rombongan mobil yang membawa Rizieq, dan akhirnya malah berbelok keluar Jalan Tol di Karawang. Tapi mobil pertama FPI, berisi empat orang, kemudian meninggalkan mobil kedua yang rupanya ditugaskan untuk memang menyerang langsung mobil polisi.

Mobil kedua FPI inilah yang berisi enam anggota laskar. Tim 6 anggota laskar inil yang menghadang mobil polisi di Karawang, menyerang dengan pedang dan senjata api, melarikan diri, dan kemudian tembak-tembakan dengan polisi.

Dua dari 6 anggota FPI itu yang tewas dalam baku tembak oleh polisi di saat kejar-kejaran dengan menggunakan mobil. Empat sisanya ditembak sampai tewas ketika mereka berhasil dilumpuhkan dan kemudian melawan di Rest Area KM 50.

Kronologi ini sih sudah berulang-ulang disampaikan di berbagai kesempatan. Jadi tidak ada perbedaan antara penjelasan Tubagus dengan Kapolda.

Bahwa penjelasan Kapolda di konferensi pers pertama Desember 2020 itu memang tidak sedetail penjelasan selanjutnya, ya bisa dipahami dong karena itu dilakukan hanya beberapa jam setelah peristiwa terjadi.

Saat Kapolda memberikan penjelasan pers pertama kali itu, proses pengumpulan data masih berlangsung. Jadi wajar kalau Kapolda tidak sampai secara terperinci menjelaskan kronologi peristiwa. Tapi yang aneh, kok Refly harus menyatakan bahwa ada perbedaan antara penjelasan Tubagus dan Kapolda.

Penjelasan Tubagus tentang peristiwa penembakan Laskar FPI sepenuhnya sejalan dengan penjelasan Kapolda selama ini. Menurut Tubagus, anak buahnya diserang dan dalam posisi tak bisa keluar dari serangan tersebut.

Jumlah anggota polisi lebih sedikit dari Laskar FPI. Di dalam mobil, anggota laskar berusaha menyerang dengan mencekik dan mengambil senjata api milik polisi.

“Kalau serangan dibiarkan, anggota kami selesai,” ucap Tubagus.

Menurut Tubagus, dalam SOP memang dikatakan bahwa penggunaan senjata api bisa digunakan ketika ada serangan membahayakan diri maupun orang lain. Kalau kondisi normal sih, kata Tubagus, senjata api memang digunakan untuk melumpuhkan.

Namun kondisi polisi di KM 50 ketika itu tidak mudah. Ruangan mobil sangat sempit, petugas dicekik, senjatanya berusaha direbut, jumlah tidak seimbang dan bahkan anggota tubuh pun tak terlihat jelas.

Karena itulah terpaksa polisi menembak dari jarak dekat. Jadi Refly mengarang bebas ketika menyatakan ada perbedaan penjelasan Tubagus dengan Kapolda.

Bahkan di sepanjang video, Refly mengada-ada dengan menyatakan ada banyak sekali kejanggalan dalam penjelasan polisi. Kesannya sih dia sebenarnya tidak mempelajari apa yang terjadi.

Misalnya saja dia tampaknya tidak tahu bahwa tim Laskar FPI sempat menghadang mobil polisi. Dia gak tahu ada anggota laskar yang membacokkan pedangnya ke mobil polisi. Dan karena bacokan itulah, polisi mengeluarkan tembakan peringatan yang dibalas pula oleh tembakan dari FPI dan baru kemudian terjadi kejar-kejaran mobil.

Karena tidak tahu bahwa sempat terjadi penghadangan itu, Refly membayangkan bahwa yang terjadi adalah kejar-kejaran dari awal sampai akhir. Karena itu dia bilang, tidak masuk akal bahwa Laskar FPI bisa membacokkan pedangnya ke mobil polisi pada saat kedua mobil melaju cepat.

Terus dia juga bilang: “Kalau mobil memang berhenti ya berhenti di mana?.”

“Itu kan jalan tol, mau berhenti di mana?”,

Lagi-lagi Refly kacau. Mobil berhenti memang bukan di jalan tol, melainkan di luar jalan tol di Kerawang. Bayangkan, Refly bahkan tidak tahu data sepenting itu. Bahwa mobil FPI dan polisi sempat keluar dari jalan tol, bertempur dan baru belakangan masuk kembali ke jalan tol.

Jadi memang ada persoalan serius dengan Refly. Kebencian membuat dia gelap mata. Dia berusaha mengadu domba dengan cara yang menyesatkan dan bodoh.

Komentar