GARA-GARA UCAPAN SAYA SOAL SHOLAT, GUS DUR PUN DISEBUT BADUT

Oleh: Ade Armando

Ucapan saya soal tidak ada kewajiban sholat 5 waktu dalam Al-Quran masih berbuntut panjang. Padahal sudah ada ulama-ulama yang menyatakan ucapan saya benar.

Padahal sudah ulama-ulama yang menegaskan bahwa kewajiban sholat 5 waktu itu memang tidak ada dalam Al-Quran. Tapi tetap saja masih banyak yang marah.

Celakanya saking kalap matanya, serangan pada saya melebar ke mana-mana. Salah satu korbannya adalah Gus Dur almarhum, atau Abdurrahman Wahid.

Jadi ucapan saya yang diributkan, malah Gus Dur yang dinistakan. Saya jelaskan dulu duduk perkaranya.

Ini bermula dari kehebohan yang terjadi gara-gara ucapan saya di Cokro TV bahwa tidak ada kewajiban sholat 5 waktu dalam Al-Quran.

Cuplikan video dan kata-kata saya itu viral banget. Yang komentar juga banyak banget. Tapi yang jelas sudah ada ulama-ulama yang bilang, kata-kata saya itu benar.

Dan yang menyatakan itu bukan orang main-main. Dalam talk show TV One, Ketua MUI, Kyai Cholil Nafis bilang tidak ada yang salah dalam pernyataan Ade Armando.

Di dalam Al-Quran memang tidak ada kewajiban sholat lima kali. Clear, katanya. Begitu juga, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Muti bilang hal yang sama.

Dia bilang, waktu pelaksanaan Shalat memang tidak ada dalam teks Al-Quran.

Jadi, saya merasa seharunya orang-orang terima dong. Tapi ternyata harapan saya berlebihan. Yang marah-marah tetap banyak. Misalnya saja Shamsi Ali, yang adalah imam masjid New York.

Dia ini sebenarnya yang paling awal mengomentari video saya yang pertama dengan nada maki-maki. Sekarang pun dia tetap ngotot bahwa saya salah. Dia misalnya mengutip ayat Al-Quran, Ar-Rum 17-18.

Kata dia di dua surat itu, termuat perintah sholat lima waktu. Ironisnya, siapapun yang bisa berhitung, akan tahu bahwa ayat-ayat itu justru bilang waktu sholat itu tidak lima, melainkan tiga atau empat. Tapi bukan cuma di situ masalahnya.

Shamsi Ali juga setengah mengancam saya. Dia bilang, dia tidak marah, dan tidak emosional terhadap saya. Tapi kemudian dia bilang: “Kalau orang Makassar marah itu bukan lagi dengan kata-kata. Apalagi Putra Kajang. Kepala Ade Armando bisa lembek. Hehe…”

Shamsi, Shamsi…

Katanya nggak marah. Tapi terus mau bikin kepala saya lembek. Saya heran kok orang kayak gini bisa jadi imam masjid di New York. Dan yang bicara kasar bukan cuma Shamsi Yang sok mengancam adalah juga anak buah Rizieq, Novel Bamukmin.

Ingat kan dia?

Dia itu adalah Sekjen DPD Front Pembela Islam. Itu tuh organisasi yang sudah bubar dan imamnya lagi dibui. Dulu Novel suka menggunakan nama Habib di awal namanya.

Ketika kemudian terbongkar dia bukan keturunan nabi. Novel berdalih, nama Habib itu adalah pemberian orangtua sejak dia lahir. Nah dari dulu dia memang kerjaannya mengancam-ancam orang.

Ini memang karakter khas FPI barangkali ya?

Mengaku beriman, tapi kelakuan kayak preman. Sekarang pun begitu. Dia bilang, hati-hati, kepala Ade Armando bisa bonyok seperti Muhammad Kece.

Bonyok? Menggelikan.

Atau ada pula orang yang namanya Geisz Chalifah. Ini orangnya Anies Baswedan. Untuk menanggapi kontroversi sholat 5 waktu itu, dia bilang: Ade Armando bajingan!

Apa hubungan antara bajingan dengan sholat 5 waktu, ya tidak jelas. Tapi, Geisz ini kan memang kalau bicara tidak pernah jelas.

Satu lagi yang juga menarik adalah ucapan Faizal Assegaf. Mungkin Anda lupa ya siapa dia?

Faizal ini selalu digambarkan sebagai aktivis pro demokrasi 1998. Di Pilpres 2014, dia anti-Jokowi. Dia berulangkali menuduh Jokowi korupsi. Sekarang dia tiba-tiba saja pindah gerbong, dan menjelma menjadi pendukung Jokowi banget.

Nah dia pun berkomentar tentang saya. Dia menghina saya. Tapi yang aneh, sembari menghina saya, dia menghina Abdurrahman Wahid almarhum alias Gus Dur.

Terus terang, saya bangga sekali dia menyebut saya dalam satu tarikan napas dengan Gus Dur.

Buat saya sih, walau barangkali saya kadang tak selalu setuju dengannya, Gus Dur adalah salah seorang Bapak Bangsa yang sangat berjasa memperjuangkan keberagaman dan kebebasan di Indonesia.

Jadi kalau sekarang nama saya disebut sebagai orang yang meneladani Gus Dur, saya sangat bahagia. Tapi masalahnya, Faizal menyebut Gus Dur dengan nada yang sangat melecehkan. Dia bilang retorika Ade Armando serupa dengan Gus Dur.

Gus Dur digambarkan Faizal sebagai ‘pengusung logika akal pendek’ dan liberal. Faizal bilang, orang-orang seperti Gus Dur dan saya sebaiknya dihadapi dengan santai, karena kami adalah ‘sesama badut yang saling melengkapi’.

Kalau saya disebut Faizal badut sih biasa saja. Tapi kenapa dia harus juga menyebut Gus Dur ‘badut’?

Dia juga menyebut Gus Dur berpikiran error dan gemar merendahkan kesucian Islam. Jadi buat Faizal, Gus Dur adalah ulama yang merendahkan Islam. Nah bagi saya, Faizal, Shamsi Ali, Geisz Chalifah dan Novel Bamukmin datang dari satu golongan manusia yang serupa.

Mereka tidak terima saja bahwa apa yang saya sampaikan benar. Di mata mereka, apapun yang dikatakan Ade Armando salah. Pokoknya salah!

Jadi kalau ternyata apa yang saya katakan benar, mereka akan mencari-cari alasan untuk tetap menyatakan bahwa saya sebenarnya salah. Atau ketika itu pun mereka tidak punya, yang keluar dari mulut mereka adalah sumpah serapah.

Buat saya, terus terang peristiwa kegaduhan sholat lima waktu ini memberi pelajaran yang penting. Saya belajar tentang betapa memang miskinnya pengetahuan umat islam di Indonesia.

Saya sebenarnya tidak secara khusus mengangkat isu sholat lima waktu. Penyebutan contoh sholat lima waktu ini hanyalah bagian kecil dari video saya yang bicara tentang shariah Islam. Tapi kemudian menjadi besar karena ada pihak-pihak yang mencupliknya begitu saja.

Saya tidak tahu apa alasan media dan netizen yang menggorengnya. Mungkin sekadar karena dianggap atraktif untuk menarik pembaca. Atau memang digunakan untuk menjustifikasi tuduhan bahwa saya adalah bagian dari musuh Islam. Tapi yang jelas itu menjadi besar karena saya dianggap menyebarkan kesesatan.

Jadi kesannya, saya menyatakan menolak sholat lima waktu. Celakanya, mayoritas umat Islam ternyata tidak tahu bahwa kewajiban lima waktu itu tidak termuat dalam Al-Quran. Karena itu ada banyak yang kaget, terkejut, atau bahkan marah. Seolah-olah saya mengada-ada.

Saya geli ketika ada wartawan yang bertanya pada saya: “Mengapa Anda mengatakan kewajiban sholat lima waktu itu tidak ada dalam Al-Quran? Apa penjelasan Anda?”

Saya bilang, lho kan kewajiban itu memang tidak ada dalam Al-Quran? Lalu dia bilang: “Tapi menurut sebagian ulama, Anda tidak berhak menyatakan pendapat semacam itu, karena Anda bukan ahli agama.”

Yang kemudian saya jawab: “Yang saya sampaikan itu bukan pendapat, yang saya sampaikan fakta. Bedakan dong pendapat dengan fakta. Saya tidak bilang dalam pendapat saya kita tidak perlu sholat lima waktu. Saya cuma bilang di dalam Al-Quran tidak ada perintah shalat lima waktu.”

Jadi ketidaktahuan itu merata. Dan ini berarti, mayoritas umat islam Indonesia tidak diberitahu oleh guru agamanya, oleh ulamanya, bahwa di dalam Al-Quran tidak ada ketentuan sholat lima waktu.

Banyak ulama tidak mengatakan bahwa tidak ada kalimat Allah menyatakan sholat harus lima kali. Saya sendiri dulu di masa kecil sampai remaja begitu saja percaya bahwa ada perintah sholat lima waktu dalam Al-Quran.

Tapi untungnya saya ini bukan tipe orang yang statis. Saya ini kepoan, pengin cari tahu terus, belajar terus. Maka sepanjang hidup saya, walau saya tidak masuk pesantren, madrasah, tidak kuliah di perguruan tinggi ilmu agama, saya terus belajar agama.

Guru-guru saya adalah ustad di pengajian, para lulusan Universitas Islam negeri, penjelasan para ilmuwan yang berotoritas tinggi di buku-buku kajian Islam, acara radio, televisi, ensiklopedi Islam, serta banyak tokoh Islam Indonesia yang berpikiran terbuka.

Dari sumber-sumber itulah saya tahu tentang banyak hal yang dulu tidak pernah diajarkan oleh guru-guru agama saya. Termasuk soal sholat lima waktu. Saya tidak yakin apakah dengan penjelasan saya kali ini, kehebohan shalat lima waktu ini akan berakhir.

Haters will always be haters, kata orang. Kalau memang begitu, ya sudahlah. Toh kewajiban saya adalah menyampaikan kebenaran.

Komentar