UTANG KITA BENGKAK?? SINI OM DENNY JELASIN

Oleh: Denny Siregar

Saya masih banyak dapat pertanyaan tentang utang Indonesia. Masih ada nada ketakutan terhadap utang yang bertambah dan bagaimana anak cucu kita membayarnya nanti.

Ini yang saya heran, ngapain mikir bagaimana anak cucu kita bayarnya nanti? Lha kita sekarang aja adalah hasil utang masa lalu. Utang Soekarno, utang Soeharto, utang Habibie, dan utang presiden-presiden sebelumnya. Apakah kita merasa susah harus memikirkan utang negara yang sebelum-sebelumnya? Nggak kan? Kita malah menikmati hasil pembangunan dari utang presiden sebelumnya, bukan sibuk memikirkan bagaimana bayar utang.

Kalau gak pakai utang untuk membangun Indonesia, bagaimana kita bisa membangun negara? Wong negara ini dulu gak punya duit sejak kemerdekaan. Ya, memang tanah air kita kaya raya, tapi bagaimana mengelolanya dengan benar kalau kita gak utang ke negara lain?

Anggap gini deh, kita ini sekarang punya sebidang tanah yang subur. Ditanamin singkong oke, ditanamin buah juga oke. Dan kita hanya punya dua pilihan mengelola tanah kita, yaitu dengan cara tradisional dan cara modern. Cara tradisional, ya pakai tangan. Kita tanam sendiri bibitnya, kita siramin tiap hari, dan menunggu supaya dia tumbuh. Kalau sudah menghasilkan barulah dijual ke orang. Itu juga kalau panennya bagus, gak kena hama tanaman. Tapi berapa hasilnya kalau kita manual begitu? Sedikit banget. Hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan kalau panen rusak atau hujan juga gak turun, kita malah gak bisa makan berbulan-bulan.

Pilihan kedua adalah kita harus membangun pertanian kita secara modern. Proses dari tanam bibit, penyiraman, semuanya pakai mesin. Dan supaya panen terjaga, kita harus bikin pengairan, bikin juga bendungan. Nanti kalau sudah panen, hasilnya gak langsung dijual, tetapi diolah dulu jadi makanan supaya nilai singkong yang kita tanam naik menjadi lebih mahal.

Nah, untuk membangun pertanian modern itu, kita harus ngapain? Ada dua pilihan lagi. Suruh negara luar datang untuk kelola tanah kita, dalam artian kita harus rela dong cuma nunggu doang dengan bagi hasil yang dia tentukan. Atau kita kelola sendiri dengan pinjam uang ke negara lain supaya hasilnya 100 persen milik kita. Mana coba yang kita pilih?

Untuk kasus ini, Indonesia memilih berutang. Catat ya, pinjam duit Rp1 juta misalnya untuk bangun pertanian modern dengan bunga yang rendah. Ketika kita dapat pinjaman, berarti kita mendapatkan kepercayaan. Kita bangunlah pertanian modern dengan hasil penjualan yang jauh lebih besar dari pertanian tradisional. Nah, negara yang mengutangi tadi akhirnya percaya sama kita karena kita berhasil kelola pertanian itu dengan bagus, lalu mereka menawarkan utang lagi. Apa jaminannya? Kepercayaan. Tidak ada jaminan tanah, sertifikat atau apapun, murni kepercayaan. Jadi tidak ada tuh aset di Indonesia yang disita kalau misalnya terjadi hal yang paling buruk, misalnya krisis panen.

Dan kalau kita menyebutnya “utang”, negara yang meminjamkan duitnya ke kita menyebutnya “investasi”. Ya iya dong, dia dapat hasil setiap kali kita kembalikan uang ke dia dengan bunganya. Dan pada posisi ini, negara yang berutang dan yang mengutangi, posisinya sejajar, sama-sama butuh, gak ada yang lebih rendah atau juga lebih tinggi. Okay, sudah mulai paham, kan?

Dari hasil “kerjasama” antara negara yang berutang dan mengutangi inilah, ekonomi di negara kita tumbuh. Kita bisa bangun infrastruktur jalan, supaya mobilitas kita lancar. Kita bisa bangun bendungan besar, supaya pengairan kita terjaga. Kita bisa bangun gedung-gedung tinggi, supaya tenaga kerja terserap, dan banyak lagi. Semua mulainya dari utang dan gak ada masalah sejak lama. Soekarno berutang Rp56 trilunan. Soeharto berutang Rp500 triliun. BJ Habibie berutang sekitar Rp900 triliun. Dan utang kita dari presiden-presiden dulu sudah lebih dari Rp1.000 triliun. SBY tambah utang lagi sampai menjadi hampir Rp3.000 triliun.

Apakah hidup kita semakin susah dengan utang-utang itu? Nggak, kan? Malah kita semakin mudah dapat kerja, perjalanan lancar, keuangan kita oke-oke aja. Cuma ya kita harus bayar pajak, karena uang pajak kita juga untuk bayar bunga utang. Wajar dong, kita nikmatin semua fasilitas yang dibangun juga dari utang. Sampai kapan kita harus bayar pajak? Ya, sampai kita matilah atau jatuh miskin, baru kita tidak ada kewajiban untuk membayar pajak.

Okay, pertanyaan berikut, apa gak takut satu waktu kita gak bisa bayar utang?

Ya nggak lah, kan semua sudah dihitung. Gini cara ngitungnya. Kita tadi ya, punya pendapatan Rp1 juta setiap bulan misalnya dari pertanian singkong. Nah dari pendapatan Rp1 juta itulah, kita punya ruang untuk berutang sampai 30 persennya, atau sampai maksimal Rp300 ribu. Masih kecil utang kita kan dari pendapatan kita? Itu namanya rasio utang terhadap PDB. Jadi aman. Dan itu yang netapin bukan presiden sendirian kok, tapi juga bareng DPR. Jadi lucu kalo ada anggota DPR yang teriak, utang bengkak gimana bayarnya? Lah wong partai lu sendiri kok yang setuju rasio utang, kok sekarang teriak sendirian? Apa supaya terkenal dan dapat suara?

Jadi sebagai catatan kita di sini, utang negara itu gak sama dengan utang di bank, atau utang di koperasi, atau leasing motor. Kalau utang di tempat-tempat itu pasti ada jaminan, kalau gak bisa bayar kita disita rumah atau motornya. Utang negara itu gak ada jaminan aset yang disita. Jaminan terbesarnya adalah kepercayaan. Kalau kita gak mau bayar, ya gak ada negara yang mau utangin kita lagi. Bisa susah sendiri kita karena gak bisa membangun ekonomi lagi. Nah, kalau ada negara yang masih mau kasih utang, berarti kepercayaan kita terjaga dan ekonomi kita baik-baik saja.

Harusnya dengan penjelasan sederhana ini sudah pada mengerti, ya. Kalau belum, ada dua kemungkinan. Belum paham atau benar-benar tidak mau paham karena sudah terlanjur benci.

Untuk yang bencinya sudah ke langit ke tujuh, ya gak ada yang bisa dilakukan. Kita tinggal ngopi aja. Tinggalkan saja dia. Siapa tau, nanti anak cucunya yang nerangin ke kakeknya yang tinggal di kursi roda karena stroke akibat kebencian yang tidak tersalurkan.

Komentar