GARUDA MAU BANGKRUT, BANYAK TIKUSNYA

Oleh: Denny Siregar

Permasalahan di maskapai Garuda itu permasalahan lama, bahkan sudah ada pada masa pemerintahan Soeharto. Maskapai Garuda sejak dulu sudah banyak tikusnya, banyak pencurinya, jadi gak heran kalau sekarang utangnya Garuda sudah setinggi gunung Jayapura.

Korupsi di Garuda, menurut Tanri Abeng mantan Menteri BUMN, sudah sejak zaman orde baru. Dulu bahkan pengelolaan kargo di Garuda dikelola oleh adiknya Soeharto. Perusahaan kargo swasta itu dapat untung Rp6 miliar, tapi yang diterima Garuda cuma Rp300 juta. Itu juga Garuda membiayai operasional mereka sendiri. Bayangkan ya, selama 10 tahun perjanjian kerjasama itu, Garuda cuma dapat untung 10 persennya doang, sedangkan perusahaan adiknya Soeharto dapatnya ratusan miliar rupiah.

Itu baru masalah kargo, belum lagi untuk asuransinya, di mana Garuda harus menunjuk Bimantara sebagai penyelenggara asuransi. Bimantara sendiri adalah perusahaan punya anaknya Soeharto, Bambang Tri. Bambang bukan cuma main di asuransinya, dia pengen dapat lebih keuntungan dengan mainin Garuda. Dan Bimantara akhirnya masuk dalam pengadaan sewa pesawat yang dioperasikan oleh Garuda dengan keuntungan terbesar sudah pasti ada di kantong Bimantara.

Garuda pun semakin sakit, kurus kering karena disedot terus tapi gak dikasih makan. Markup, adalah kata yang biasa di Garuda. Apapun di-markup, dan direksi tidak bisa berbuat apa-apa. Itu baru asuransi dan penyewaan pesawat, belum lagi pembelian simulator dan lain-lain yang sudah pasti harganya bisa jauh lebih tinggi dari harga sebenarnya. Mau apa coba? Mau menolak? Di zaman Soeharto menolak berarti siap dipecat.

Sudah adik, anak, eh cucu juga ikut bisnis juga di Garuda. Ary Sigit cucu Soeharto, main pula di ground handling lewat PT Autotrans. Garuda masih bisa bernafas, tetapi Merpati Airlines sudah sesak. Akhirnya Merpati Airlines pun mati, kurus kering diperkosa habis-habisan.

Itu baru kasus markup ya, belum lagi kasus KKN. Keluarga dan kroni Soeharto memenuhi pegawai di Garuda. Mereka “melahirkan” SDM yang rakus dan tidak berkualitas yang kerjanya menggerogoti Garuda Airlines. Buat mereka Garuda adalah tambang emas yang tiap saat bisa dikeruk dan fasilitasnya dimanfaatkan. Garuda semakin ngawur dan utangnya juga semakin membengkak. Tapi siapa yang peduli, toh itu perusahaan pemerintah.

Ada teori kalau Garuda tidak mungkin bangkrut, karena Garuda adalah wajah Indonesia di dunia internasional. Jadi, mau separah apapun kondisi keuangan Garuda, percayalah, pasti pemerintah akan menolong. Garuda itu simbol. Dan runtuhnya simbol akan berakibat runtuhnya wibawa pemerintah. Itu teori yang dipakai oleh garong-garong di Garuda.

Dengan semakin buruknya manajemen Garuda, utang yang bertambah sana sini, KKN, markup pembelian pesawat, markup kerjasama dengan perusahaan penyewa pesawat, ditambah lagi munculnya pandemi yang membuat seluruh bandara di seluruh dunia ditutup massal, hancurlah Garuda. Utangnya membengkak menjadi Rp70 triliun. Garuda yang tadinya sudah sesak nafas, sekarang sudah harus pakai infus supaya dia tetap hidup.

Garuda sudah gak pernah lagi untung, karena pendapatan mereka habis untuk bayar utang yang sudah menggunung. Akhirnya yang dilakukan oleh Garuda cuma bertahan hidup. Pernah sih Garuda mencatat untung Rp200 miliar, tapi rupanya itu hanya polesan di laporan keuangan saja. Yang dicatat Garuda cuma potensi keuntungan, tetapi sudah dimasukkan sebagai pendapatan. Bayangkan, sudah manajemennya buruk, curang pula.

Dan nafas Garuda sekarang ini cuma dari Pertamina. Garuda sebenarnya sudah gak mampu beli avtur karena biaya operasional mereka gede banget akibat utang yang harus dicicil tiap bulan. Karena itulah mereka terus menerus berutang pada Pertamina yang sekarang jumlah utangnya, kalau gak salah, sudah mencapai Rp12 triliun. Mau gimana coba? Kalau misalnya Pertamina ngambek, nyuruh Garuda bayar utangnya dulu baru bisa ngutang avtur lagi, Garuda akan kolaps saat itu juga. Itu seperti mencabut selang infus dari badan Garuda yang sekarang terbaring terus di tempat tidur, terlalu gemuk, dan sakit-sakitan.

Karena itulah ada rencana dari Erick Thohir, Menteri BUMN, untuk mengubah utang Rp12 triliun itu menjadi saham, karena Garuda sudah gak mungkin lagi bayar. Tapi apakah itu bisa menyelamatkan maskapai yang lambangnya jadi kebanggaan negeri itu? Penyakit Garuda sudah terlalu dalam, sudah sangat kronis. Waktunya tinggal sedikit lagi sebelum akhirnya harus mati seperti saudaranya Merpati. Bahkan sudah ada rencana untuk mengganti Garuda dengan Pelita Airlines. Garuda dibangkrutkan. Sisa harta dibagi-bagi ke para pemberi utang. Meski rugi besar, tapi setidaknya lumayanlah ada balik sedikit modal daripada tidak sama sekali.

Permasalahan maskapai seperti Garuda ini bukannya hanya terjadi di Indonesia aja. Malaysia, Singapura, Thailand, juga bernasib sama. Malaysia Airlines sejak jatuhnya beberapa pesawat mereka, mengalami kerugian besar. Singapura sejak pandemi, dan banyak bandara negara ditutup, hancur-hancuran. Padahal Singapura yang menjadi pusat penerbangan internasional di Asia Tenggara sudah habis biaya untuk merombak bandara Changi habis-habisan.

Rugi puluhan triliun rupiah itu bukan perkara enteng. Cari investor baru juga gak gampang, karena bisnis maskapai ini adalah bisnis padat karya dan padat modal. Para orang kaya di dunia mendingan mereka beli klub sepakbola daripada beli saham bisnis penerbangan. Lebih bergengsi dan gak bikin pusing lagi. Thailand Airways juga nasibnya sama, mereka malah sudah menyatakan diri bangkrut karena gak sanggup bayar utang sebesar Rp112 triliun. Bahkan dikabarkan para pilot Thailand Airways yang dulu gaya hidupnya hedon, sekarang jualan gorengan sekadar untuk menyambung hidup.

Jadi, apakah Garuda akan ditutup? Belum ada keputusan. Sekarang ini Garuda sudah berutang Rp70 triliun. Besar, ya. Dan utang bertambah Rp1 triliun setiap bulannya. Kalau Garuda tidak dapat skema restrukturisasi yang ringan, bisa dipastikan pendarahan Garuda akan semakin dalam. Ya lebih bagus disuntik mati aja sekalian, daripada dibuat hidup terus tapi malah menjadi beban. Garuda dari dulu sarang tikus. Kalau tikusnya sudah terlalu banyak, ya bakar saja sarangnya sekalian.

Gak perlu nostalgia segala bahwa Garuda adalah kebanggaan Indonesia. Maskapai Garuda adalah bisnis dan perlakukan sebagai bisnis. Kalau sudah gak menghasilkan dan malah menjadi beban, ya selesaikan. Tinggal pikirkan bagaimana mengalihkan para pilot supaya mereka tetap mendapatkan kerjaan. Jangan sampai ada cerita sedih kayak pilot di Thailand yang akhirnya jualan gorengan.

Komentar