MENGAPA SAYA TIDAK PERCAYA PADA SYARIAH

Oleh: Ade Armando

Kali ini saya tidak akan bicara tentang isu yang hangat. Kali ini saya hendak menjelaskan sikap beragama saya.

Saya beragama Islam. Tapi saya tidak percaya bahwa umat Islam harus menjalankan syariat Islam. Saya tidak percaya umat Islam harus patuh pada hukum dan aturan Islam yang baku, yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia.

Karena sikap saya ini, sebagian orang menganggap saya aneh dan menentang ajaran Islam. Saya bahkan dianggap sebagai muslim yang anti-Islam.

Saya ingin menjelaskan ini. Saya bukan sedang berusaha membela diri. Namun dengan penjelasan ini, saya berharap orang akan memahami mengapa saya mengambil sikap yang dipersoalkan tadi.

Saya harus ingatkan sejak awal, saya tidak sedang mengatakan cara berpikir saya yang paling benar. Saya tidak ingin mengatakan cara saya beragama lebih benar daripada mayoritas pengeritik saya yang beragama dengan cara berbeda.

Saya percaya pada kekebasan dalam diri setiap manusia untuk berpikir dengan caranya masing-masing.

Kebebasan berpikir adalah sebuah karunia Tuhan yang tidak boleh dirampas oleh orang lain. Karena itu, saya percaya, saya dan Anda berhak sepenuhnya untuk berpikir dengan cara kita masing-masing.

Kalau Anda tidak setuju dengan saya, fine. Tapi izinkan saya menjelaskan, karena menurut saya, cara saya beragama saat ini datang dari sikap dasar saya.

Saya adalah muslim yang percaya pada Allah, pada Nabi Muhammad, pada Al-Quran. Saya percaya bahwa Allah menurunkan ayat-ayat-Nya melalui perantaraan malaikat kepada Nabi Muhammad.

Namun saya tidak percaya bahwa di dalam Al-Quran termuat hukum Islam yang harus dijalankan dengan cara yang sama di seluruh dunia, di sepanjang zaman.

Menurut saya, kalaulah dalam Al-Quran, ada termuat hukum Allah, itu adalah hukum yang merefleksikan kondisi abad ke tujuh di tanah Mekah, saat ayat itu diturunkan.

Dan di situlah saya berbeda dengan mereka yang percaya pada penegakan Syariah.

Kalangan penegak Syariah percaya bahwa Allah menurunkan sebuah paket hukum Islam yang lengkap di abad ke tujuh itu. Bahkan hukum itu tidak hanya termuat dalam Al-Quran, tetapi juga dalam ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad, plus pandangan para ulama di abad-abad pertama Islam.

Dalam pandangan mereka, paket dari Allah itu sudah final.

Memang ada ayat-ayat Al-Quran yang abstrak sehingga perlu dicari maknanya. Namun kalau kalimat-kalimatnya sudah cukup eksplisit, ya ikuti saja hukum itu.

Dalam pandangan mereka, Allah memang menginginkan umat manusia untuk patuh pada hukum Allah yang sudah sangat jelas itu. Kalau ada ayat-ayat yang terasa janggal atau nampak merugikan, itu terjadi karena keterbatasan kita untuk memahami ayat-ayat itu.

Menurut mereka, tidak mungkinlah Allah menurunkan ayat, atau tidak mungkinlah nabi Muhammad memberi contoh dan teladan, yang merugikan masyarakat. Karena itu, ikuti sajalah semua ayat Allah dan kata-kata, serta teladan Nabi Muhammad, maka kita semua akan selamat sentosa mencapai surga.

Di sisi lain, kenapa ulama-ulama masa lalu itu yang harus kita ikuti, ya karena para ulama terdahulu itu hidup di era yang belum terlalu jauh dari saat di mana Nabi hidup dan Al-Quran diturunkan. Dengan demikian, sumber hukum Islam itu adalah ayat-ayat Allah dalam al-Quran, ucapan dan tindakan nabi Muhammad, serta kesepakatan para ulama.

Dan lebih jauh dari itu, hukum Islam itu harus dijalankan dalam kehidupan kita saat ini. Itu adalah kewajiban.

Seperti yang saya katakan, gagasan itulah yang saya tolak.

Saya sendiri bukan seorang sarjana ilmu tentang Islam. Namun kesimpulan saya didasarkan pada pandangan para ilmuwan Islam terkemuka, di dunia maupun di Indonesia.

Kita harus ingat selama berpuluh tahun sejak Indonesia merdeka, gagasan untuk memberlakukan Syariah dengan cara yang setia pada tiga sumber hukum Islam tadi bukan merupakan wacana dominan di Indonesia.

Gagasan semacam itu selalu berposisi minoritas di Indonesia. Baru belakangan, gagasan ini menguat.

Jadi penolakan terhadap Syariah sebenarnya sudah berakar di Indonesia sejak lama. Saya sekadar ingin menunjukkan, mengapa penolakan terhadap Syariah adalah pilihan yang lebih masuk akal.

Pertama-tama, harus jelas bahwa kewajiban untuk menerapkan hukum Islam dengan merujuk ayat-ayat Al-Quran dengan cara yang sama sepanjang masa di seluruh dunia bukanlah perintah yang termuat dalam Al-Quran.

Itu adalah sekadar interpretasi. Dan karena itu adalah sekadar interpretasi, kita juga bisa melakukan interpretasi berbeda.

Kedua, hukum adalah sesuatu yang senantiasa merefleksikan kondisi dan konteks sejarah di mana hukum itu dilahirkan. Yang universal hanyalah prinsip-prinsip umumnya.

Misalnya saja secara universal diakui keadilan harus ditegakkan. Tapi bagaimana keadilan diwujudkan di Indonesia, sangat mungkin berbeda dengan perwujudan keadilan di Amerika Serikat.

Begitu juga dengan hukum Islam.

Bagaimana prinsip keadilan dalam hukum Islam diterapkan di Indonesia bisa berbeda penerapannya dengan di Pakistan.

Ketika Tuhan bicara dengan Nabi Muhammad, Tuhan bicara dalam konteks masyarakat Arab yang masih terbelakang di abad ke-7.

Jadi aturan yang diturunkan mencerminkan kondisi abad ke-7, yang tidak bisa begitu saja diadopsi di abad ke-21.

Membayangkan Al-Quran berisikan peraturan-peraturan yang harus diterapkan dalam cara yang sama dengan abad ke tujuh, menurut saya, sangat tidak masuk di akal.

Saya gunakan saja contoh tentang hubungan Islam dan non-Islam

Karena merasa bahwa ayat-ayat Allah sudah secara jelas menyatakan bahwa umat Islam dilarang untuk memilih pemimpin non-Islam, banyak muslim yang percaya bahwa haram hukumnya memilih, presiden, gubernur, ataupun Ketua BEM dan Ketua Kelas beragama non-muslim.

Ini bagi saya jelas tidak masuk akal.

Bahkan dalam pandangan saya, kalaupun memang ada ayat yang berbunyi begitu, itu bukanlah hukum yang berlaku secara universal di sepanjang waktu. Itu adalah ayat yang merujuk pada episode kehidupan Nabi Muhamad yang spesifik dalam situasi yang sangat kondisional.

Begitu juga karena merasa ada ayat Allah yang secara jelas menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh mempercayai kaum Nasrani, karena kaum Nasrani itu tidak akan pernah berbahagia, kecuali umat Islam pindah mengikuti ajaran mereka, banyak umat Islam yang menganggap mereka tak boleh bersahabat dengan umat Kristen.

Padahal, lagi-lagi, itu merupakan peringatan dari Allah tentang kaum Nasrani spesifik yang hadir dalam kehidupan Nabi pada episode tertentu. Dengan kata lain, peringatan itu tidak merujuk pada kondisi kaum Nasrani di sepanjang waktu.

Atau juga pengaturan tentang pembagian waris dari seorang tua muslim kepada anaknya yang non-muslim. Kalau mengikuti Syariah, si anak tidak akan memperoleh apa-apa.

Namun lagi-lagi saya katakan, itu adalah aturan yang tidak masuk akal karena tidak memenuhi prinsip keadilan.

Atau lagi hukum mengenai seorang muslim yang pindah agama. Menurut Syariah yang diyakini Imam Syafii, yang mazhabnya diterima secara dominan di Indonesia, orang itu harus bertaubat, atau kalau tidak mau bertaubat, ya dihukum mati.

Padahal, ayat Al-Quran itu sebenarnya merujuk pada kondisi genting di mana terjadi peperangan antara umat Islam dan non-Islam, sehingga setiap muslim yang pindah agama dikhawatirkan akan menjadi pengkhianat yang akan membokong dari belakang.

Itu cuma rangkaian contoh sederhana yang saya bisa gunakan untuk menjelaskan bagaimana kalau berusaha diterapkan secara konsisten sesuai apa yang tertera dalam Al-Quran, serta dalam ucapan dan perbuatan Nabi, hukum Islam atau Syariah bisa membawa permasalahan yang luar biasa.

Karena itu dalam pandangan saya, kita memang tidak perlu percaya pada Syariah, dalam arti apa yang termuat dalam Al-Quran, ucapan dan teladan Nabi Muhammad, seperti apa yang disepakati ulama di masa lalu.

Hukum yang kita terapkan sekarang adalah hukum yang sejalan dengan kebutuhan kita saat ini.

Saya hentikan dulu penjelasan saya sampai di sini. Bila banyak yang masih menganggap ini perlu dibicarakan lebih lanjut, dengan senang hati saya akan melakukannya.

Saya minta maaf kalau ini mungkin mengganggu kenyamanan Anda. Tapi marilah kita menerima perbedaan secara terbuka. Dan mudah-mudahan Anda bisa menerima sikap saya.

Komentar