LUAR BIASA, PAK JOKOWI DAN MAS NADIEM MENGANGKAT GURU HONORER MENJADI ASN

Oleh: Ade Armando

Ini berita keren, di tengah pandemi Covid-19 yang kita belum tahu kapan berakhirnya, pemerintah memberikan hadiah luar biasa bagi guru di Indonesia. Ratusan ribu guru yang berstatus honorer di sekolah-sekolah negeri di Indonesia diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ini adalah peristiwa luar biasa karena selama ini para guru honorer seperti tak pernah diperhatikan nasibnya.

Mereka memenuhi gambaran ‘Pahlawan Tanpa Jasa’ yang sesungguhnya. Mereka adalah guru-guru yang dengan penuh dedikasi mendidik anak-anak Indonesia dengan imbalan seadanya.

Penghasilan guru honorer di sekolah negeri sangat tidak menentu. Semua bergantung pada sekolah yang mempekerjakan mereka. Bila sekolah negerinya punya cukup dana dan bermurah hati, mereka bisa memberi imbalan yang lumayan.

Tapi dalam banyak kasus, honor yang diberikan tak akan cukup bagi si guru untuk memenuhi bahan kebutuhan pokoknya.

Sebagian besar guru itu memperoleh penghasilan di bawah upah minimum kabupaten/kota ataupun upah minimum provinsi.

Upaya untuk mengatasi persoalan ini sebenarnya sudah berusaha dilakukan semenjak pemerintahan SBY, tapi memang tidak mudah untuk mengangkat ratusan ribu guru honorer.

MENPANRB Tjahjo Kumolo pernah menyatakan bila pemerintah harus mengangkat sekitar 400 ribu guru honorer, dana yang harus dikeluarkan per bulan mencapai Rp 3 triliun untuk belanja pegawai.

Karena itu keputusan pemerintah saat ini untuk mengangkat ratusan ribu guru honorer adalah sebuah langkah luar biasa yang menunjukkan komitmen tinggi pemerintah terhadap pendidikan dan nasib para pendidik.

Ini menjadi semakin nampak luar biasa mengingat langkah ini diambil saat Indonesia masih harus bekerja keras mengatasi pandemi Covid. Untuk berperang melawan Covid, segenap dana dan energi seolah sudah ditumpahkan untuk memenangkannya.

Namun pemerintah merasa sudah terlalu lama para guru honorer ini dibiarkan nasibnya terlunta-lunta. Untuk itulah, keputusan yang sulit dan berat itu diambil.

Menurut Mendikbud Nadiem Makarim, dengan standar kurikulum yang berlaku saat ini, Indonesia membutuhkan lebih dari 2,2 juta guru. Namun, di lapangan hanya tersedia sekitar 1,3 juta guru ASN yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Karena itulah, sebenarnya terdapat kekurangan sekitar 900 ribu guru ASN di sekolah negeri. Dan bahkan jika memperhitungkan jumlah guru ASN yang pensiun tahun ini, maka dibutuhkan sekitar 1 juta guru.

Kekosongan inilah yang akan diisi para guru honorer yang sudah bertahun-tahun atau bahkan berbelas dan berpuluh tahun mengabdi sebagai guru honorer. Memang para guru honorer ini tidak akan begitu saja diangkat sebagai ASN.

Para guru honorer harus mengikuti test yang diperlukan untuk menentukan apakah mereka memang memiliki kualifikasi memadai untuk menjadi guru dan untuk menentukan di sekolah mana guru tersebut bisa ditempatkan.

Pemerintah memberikan tiga kesempatan test. Test pertama sudah dilakukan, dan sudah ada sekitar 170 ribu guru honorer yang dinyatakan lulus test ASN.

Mereka yang tidak lulus di kesempatan pertama itu, bisa mengikuti kesempatan kedua, dan ketiga. Peluang bagi peserta untuk tidak lulus sampai tiga kali test tentulah kecil. Pemerintah juga memberi semacam keringanan bagi para guru honorer senior. Intinya, standar kelulusan mereka dibedakan dari para pengikut test dari kalangan muda.

Tahun ini jumlah peserta test total mencapai sekitar 506 ribu orang. Diperkirakan sebenarnya jumlah guru honorer di sekolah negeri di Indonesia melampaui angka tersebut.

Namun entah mengapa, provinsi dan kabupaten hanya mengajukan calon dalam jumlah itu.

Perubahan status dari honorer ke ASN akan membawa jaminan kesejahteraan ekonomi bagi guru, yang meliputi gaji dan tunjangan profesi. Guru yang sudah diangkat juga akan dapat mengikuti program-program peningkatan kompetensi dan sertifikasi.

Peningkatan kompetensi ini sangat penting untuk jaminan ekonomi dan karier jangka panjang guru, serta kualitas pengajaran yang diterima oleh para murid.

Saya sendiri adalah dosen, dan terus terang saya bisa merasakan betapa pentingnya kebijakan yang diambil pemerintah ini. Sebagian dari guru honorer itu sudah mengabdi selama belasan tahun atau bahkan lebih dari 20 tahun.

Tak jarang di antara mereka yang terpaksa punya pekerjaan sampingan, seperti tukang ojek, buka warung, atau bahkan kuli bangunan.

Dan kalau ditanya mengapa mereka bertahan dalam ketidakjelasan status sebagai guru honorer, banyak di antara mereka yang mengaku itu dilakukan mereka karena kecintaan pada anak didik.

Mereka senang mengajar. Mereka bahagia membuat orang jadi pintar.

Sayangnya, ketulusan hati mereka untuk mengabdikan diri pada masyarakat ini selama ini kerap diabaikan. Kini, kita tak bisa lagi sekedar bersembunyi di belakang kata-kata indah ‘Pahlawan Tanpa Jasa’.

Para guru honorer itu memang pahlawan. Dan karena itu mereka pantas diangkat sebagai ASN, sebagai tanda terimakasih kita kepada mereka.

Komentar