KENAPA JOKOWI SAYANG PADA PAPUA?

Oleh: Denny Siregar

Selama Orde Baru, yang namanya Papua, dulu bernama Irian Jaya ya, tidak pernah lepas dari hajaran rezim Soeharto. Daerah itu seperti gadis cantik yang tiap hari diperkosa. Kekayaan alamnya dikeruk habis-habisan, tetapi daerahnya gak pernah dibangun. Orang Papua tumbuh dalam ancaman militer waktu itu, bergerak sedikit mereka mati, tidak bergerak juga mereka mati.

Sebagai contoh Freeport. Sejak Soeharto berkuasa, dia menetapkan Papua sebagai Daerah Operasi Militer atau DOM. Represi yang dilakukan oleh Soeharto dengan menggerakkan militer itu awalnya karena ada konflik terbuka antara masyarakat Papua dan PT Freeport. Karena ketidakadilan yang didapat oleh masyarakat Papua, mereka kemudian mulai berontak. Untuk melindungi Freeport, Soeharto menetapkan bahwa masyarakat Papua adalah pemberontak.

Banyak sekali kisah ngeri yang dialami oleh warga Papua ketika daerahnya dijadikan operasi militer. Nyawa mereka seperti tidak ada harganya. Suara mereka dibungkam. Daerah mereka gelap gulita, meskipun kaya tetapi listrik aja tidak ada. Soeharto membuat Papua menjadi ketergantungan kepada pemerintah pusat, dengan pasokan bahan pangan.

Nah, dengan semua tekanan-tekanan itu, wajar saja kalau ada beberapa tokoh Papua yang benci sekali kepada Indonesia. Mereka membangun perlawanan meski taruhannya adalah nyawa. Dan perlawanan itu kemudian berkembang menjadi keinginan untuk merdeka. Dan Soeharto bukannya menyelesaikan masalah Papua dengan pendekatan kemanusiaan, justru dia pakai senjata. Di sinilah mulainya gerakan-gerakan untuk memisahkan diri dari Indonesia, karena kejamnya Soeharto dan pemerintah Orde Baru pada waktu itu kepada Papua.

Zaman kemudian berganti, Soeharto turun dari jabatan. Gus Dur yang menjadi harapan orang Papua untuk menjadikan mereka lebih sejahtera, turun terlalu cepat. Di masa SBY pun ternyata, Papua tidak juga dibangun bahkan hampir dianggap tidak ada. Rakyat Papua hanya dimanfaatkan untuk Pemilu, sesudah itu mereka ditinggalkan. Papua tetap menjadi daerah miskin, meski sumber alamnya kaya-raya. Harga-harga sangat mahal di sana, karena transportasi saja sangat sulit. Bahkan BBM di Papua, sempat menembus harga Rp100 ribu per liternya. Coba, gimana mereka mau sejahtera?

Jokowi kemudian datang dan salah satu program pentingnya adalah pembangunan Papua. Kenapa coba Papua menjadi penting untuk Jokowi? Ini yang menarik.

Saya pernah bertemu sekali dengan Presiden, dulu sekali, di sebuah tempat yang tertutup. Dan setiap kali Jokowi berbicara tentang Papua, matanya terlihat memerah seperti menahan tangis. Dia bercerita tentang banyaknya rakyat Papua di pedalaman yang ketika sakit saja, mereka harus jalan kaki tiga hari tiga malam jauhnya supaya bisa mendapat pengobatan di Puskesmas. Seperti ada rasa bersalah dari Jokowi karena dia sekarang menjadi representasi pemerintah pusat.

Jokowi tahu, cara mengentaskan kemiskinan di Papua, bukan dengan selalu memberikan mereka bantuan tunai ataupun juga pangan. Akar dari kemiskinan di Papua adalah karena infrastruktur di sana tidak pernah dibangun. Insfrastruktur adalah alat penting supaya ekonomi bisa tumbuh. Dengan dibangunnya jalan-jalan, jembatan-jembatan, lapangan terbang, maka akan muncul kegiatan-kegiatan ekonomi baru. Papua butuh infrastruktur supaya biaya hidup sehari-hari mereka bisa lebih murah. Dengan adanya jalan raya, maka truk-truk pengangkut makanan tidak lagi terjebak berhari-hari di jalan tanah yang kalau hujan bisa membenamkan truk mereka ke dalam tanah.

Karena itulah Jokowi mengucurkan dana ratusan triliuan rupiah dalam bentuk dana otonomi khusus kepada Papua untuk membangun ekonomi di daerahnya. Papua benar-benar dimanjakan oleh Jokowi dalam pembangunan. BBM sudah mulai satu harga karena itu adalah kewajiban pemerintah dalam menerapkan keadilan di Indonesia. Sekarang Trans Papua tinggal tersisa 16 km lagi. Trans Papua ini akan menjadi urat nadi ekonomi di Papua. Sedangkan untuk udara, Jokowi sudah memerintahkan Kominfo untuk membangun banyak BTS supaya internet di Papua lancar dan sama kencangnya dengan saudara-saudaranya di seluruh Indonesia.

Pekan Olahraga Nasional ke-20 kemarin adalah etalase pembangunan di Papua. Sengaja ditaruh di Papua oleh Jokowi sebagai gerbang informasi kalau Papua sudah mulai kembali bangkit. Luka akibat kekejaman Orde Baru hanya bisa diobati lewat ekonomi, bukan cuma dielus-elus doang tetapi ditinggal kelaparan. Kelak Jokowi berharap, tidak ada lagi yang memainkan narasi Papua melepaskan diri dari Indonesia, karena Papua adalah bagian dari utuhnya tubuh Indonesia. Papua adalah kita dan kita adalah Papua. Tidak bisa terpisahkan atau kita akan cacat selamanya.

Saya paham sekali, bahwa inilah cara Jokowi untuk merangkul kembali Papua. Si anak emas yang dulu dihajar habis-habisan sampai tidak berdaya. Jokowi seperti memberi pesan, “Papua, maafkan kami yang dulu tidak menghargai kalian. Sekarang era sudah berganti. Indonesia juga sudah berubah. Mari kita bangun negeri ini bersama-sama.”

Mengharukan sebenarnya, karena yang punya tekad untuk mengembalikan Papua bukanlah seorang jenderal, bukanlah seorang bangsawan, bukan juga keturunan raja. Tetapi dari rakyat biasa, yang dulu miskin, dan sekarang dipercaya untuk mengatur negara. Jokowi paham penderitaan Papua, karena dulu dia menjadi bagian dari penderitaan mereka juga.

Untuk saudara-saudaraku di Papua, terimalah jabat tangan kami. Kita lupakan masa lalu, karena masa depan lebih berarti. Untuk kejayaan negeri ini, mari kita sama-sama angkat secangkir kopi

Komentar