COVID MENGAJARKAN INDONESIA UNTUK TIDAK BERGANTUNG PADA ALKES IMPOR

Oleh: Ade Armando

Pandemi Covid-19 mengajarkan kita bahwa Indonesia harus segera mengembangkan kemandirian alat kesehatan. Indonesia tidak boleh terus tergantung terhadap alat kesehatan impor untuk waktu yang lama.

Ini terentang dari soal jarum suntik, ventilator, oxygen concentrator, atau sampai MRI yang digunakan dalam radiologi. Saat ini sekitar 80% alkes di Indonesia datang dari luar negeri. Ini yang harus segera secara bertahap dikurangi.

Bisakah Indonesia melakukannya?

Sangat bisa. Dengan satu syarat: pemerintah bersedia percaya dan bekerjasama dengan industri alat kesehatan dalam negeri.

Saya belajar bahwa ada banyak pengusaha alat kesehatan Indonesia yang merah putih. Mafia hitam alat kesehatan memang masih ada dan mungkin menggurita. Tapi yang merah putih jauh lebih banyak, kuat, dan bekerjasama dalam satu kesatuan organisasi.

Selama ini banyak pihak sinis dengan pengusaha, seolah-olah mereka hanyalah pedagang yang semata-mata mencari keuntungan tanpa peduli dengan nasib bangsa dan negara. Di masa Covid-19, saya menemukan habitat orang-orang bisnis yang berbeda.

Yang harus saya sebut secara khusus adalah kumpulan pengusaha alkes yang tergabung dalam Gakeslab, yakni asosiasi pengusaha alat kesehatan dan laboratorium. Saya tidak ingin terlalu memuji-muji mereka karena saya memang sedang membantu kampanye mereka untuk kemandirian alat kesehatan di Indonesia.

Tapi terus terang, kalau saja ada lebih banyak jenis pengusaha semacam mereka, saya sangat yakin Indonesia akan menjadi salah satu negara unggul di Asia atau bahkan di dunia.

Kalau saja organisasi semacam Gakeslab dilibatkan pemerintah untuk membangun kemandirian alat kesehatan, saya yakin harapan pemerintah agar Indonesia tidak lagi mengandalkan produk impor bisa tercapai.

Kemandirian alat kesehatan adalah keniscayaan bagi Indonesia. Kita belajar di era Covid-19, kenaikan permintaan dengan cepat bisa menciptakan kelangkaan alkes di seluruh dunia.

Kalaupun stocknya ada, harga alkes bisa saja dinaikkan-naikkan karena hukum penawaran dan permintaan di pasar dunia. Dan sebagai sekadar pembeli, Indonesia tak bisa apa-apa.

Tapi kalaupun tidak ada pandemi seperti Covid-19, kemandirian alkes tetap penting. Ke depan, persoalan kesehatan akan terus berlipat karena macam-macam penyebab.

Dari kondisi lingkungan yang memburuk, gaya hidup, sampai lahirnya kelas menengah yang sangat sensitif dengan kondisi kesehatan mereka. Kalau kita terus bergantung pada impor, pihak yang akan paling diuntungkan adalah para produsen alkes yang berada di negara-negara industri maju.

Uang belanja alkes kita akan terus mengalir ke sana. Kita cuma jadi konsumen. Kita cuma menjadi pembeli. Yang semakin kaya ya negara kaya.

Tapi masalahnya upaya mencegah ketergantungan pada impor ini bukanlah soal sederhana. Kita tidak bisa begitu saja bilang, oke mulai bulan depan kita tidak lagi beli alkes impor ya. Kita tidak bisa berharap bahwa alkes dalam negeri itu tersedia begitu saja.

Alkes itu harus diproduksi dan proses produksi alkes itu sama sekali tidak sederhana. Kita sedang bicara tentang produk yang kalau tidak dibuat dengan benar, seksama, berhati-hati dengan tingkat presisi yang tinggi, akan bisa memakan nyawa manusia.

Anda boleh saja sangat nasionalis, tapi Anda toh nggak mungkin memilih produk alkes dalam negeri kalau kualitasnya jauh di bawah yang diimpor dari Belanda misalnya. Kita tidak bisa bermain-main dengan kesehatan dan nyawa manusia.

Bicara stop impor alkes itu tidak sesederhana misalnya dengan kampenye gunakan produk lokal dalam hal barang-barang konsumen. Kadang penyebabnya karena konsumennya memang sok impor.

Tapi yang juga mungkin sekali menjadi penyebab adalah karena produsen dalam negeri tidak sanggup menyediakan produk sejenis dengan kualitas dan harga yang kompetitif dengan produk impor.

Jadi di satu sisi, kita percaya diperlukan upaya kemandirian dengan melakukan apa yang disebut sebagai substitusi impor.

Tapi di sisi lain, kita juga harus berpikir tentang bagaimana cara mencapainya?

Kalau misalnya untuk soal sereal saja kita masih mengandalkan produk impor apalagi produk alkes yang proses produksnya jauh lebih rumit, sangat bergantung pada teknologi tinggi, dan mahal.

Pada 2016, pemerintah sudah mengeluarkan Inpres tentang tata kelola alkes yang antara lain menekankan kemandirian alkes nasional. Pemerintah berharap agar Indonesia tidak lagi bergantung pada alkes impor.

Namun pemerintah tentu tidak bisa berharap ada keajaiban hanya dengan melahirkan Inpres.

Untuk menciptakan kemandirian, pemerintah bisa mengeluarkan rangkaian ketetapan dan kebijakan yang diharapkan bisa mendukung para pelaku usaha bersedia memproduksi alkes dalam negeri.

Tapi kemandirian itu akan sangat bergantung pada mereka yang bergerak dan terlibat dalam industri alkes.

Di situ ada pemodal, produsen alkes, ada penyedia bahan baku, ada distributor, ada peneliti dan pengembang, ada lab, dan tentu saja pada akhirnya ada pengguna (dari rumah sakit, klinik sampai warga biasa yang membeli alkes).

Agar terjadi kemandirian, di Indonesia harus tumbuh perusahaan-perusahaan Indonesia yang memproduksi alkes, dan bukan perusahaan yang hanya mengimpor alkes dari luar negeri untuk dipasarkan di Indonesia.

Untuk itu harus ada pemodal – bisa dari dalam ataupun luar negeri – yang bersedia berinvestasi untuk membangun pabrik-pabrik alkes di Indonesia.

Si pemodal akan bertanya, di Indonesia ini ada tidak sumber daya manusia yang bisa terlibat dalam pengembangan produk, ada tidak komunitas peneliti yang bisa diandalkan, ada tidak lembaga yang bisa menjalankan uji produk, ada tidak penyedia bahan baku dan komponen yang diperlukan industri, ada tidak perlindungan dari pemerintah atau jaminan pasar bahwa produk-produk berongkos mahal ini bisa terjual dan tidak dihabisi oleh kompetitor hitam, ada tidak distributor dan jaringan distribusi yang bisa menjamin produk-produk mereka ini bisa terjual, dan terakhir ada tidak pembeli produk-produk kami ini?

Misalnya saja soal peneliti yang diperlukan dalam proses pengembangan produk. Banyak orang Indonesia pintar. Tapi agar kepintaran mereka terus terjaga, terangsang, terasah, mereka harus hidup dalam sebuah lingkungan yang memberi mereka dorongan untuk produktif.

Salah satu stimulus yang penting adalah adanya harapan bahwa apa yang mereka lakukan dan kembangkan akan memperoleh sambutan dari industri. Kalau tidak, seperti yang terjadi di Indonesia, saat ini ada banyak sekali hasil temuan peneliti yang hanya berhenti di filing di data base lembaga masing-masing.

Di sinilah posisi Gakeslab menjadi sangat penting. Di dalam Gakeslab bergabung perusahaan-perusahaan lokal maupun asal luar negeri yang sungguh-sungguh berkomitmen untuk menciptakan kemandirian alkes.

Gakeslab ini bukan asosiasi baru, tapi sejak Covid-19 energi mereka nampak berlipat untuk membangun kemandirian alkes. Ada banyak hal yang sudah mereka lakukan, tapi salah satu hal yang terpenting adalah berperan dalam pengembangan penelitian dan pengembangan teknologi di dalam negeri.

Gakeslab bekerjasama dengan berbagai universitas, lembaga penelitian, dan asosiasi ilmuwan.

Sebagai contoh saat ini mereka sudah menandatangani memorandum of understanding dengan 11 universitas ternama di Indonesia (UI, ITB, UNPAD, UNDIP, UNS, Politeknik ATMI Solo, ITS, UNAIR, UGM, ITI, dan USU).

Ini adalah langkah penting untuk mempertemukan kelompok peneliti dan pengusaha dalam rangka mempercepat kemandirian alkes. Seperti saya katakan tadi, industri membutuhkan para peneliti yang secara serius mengembangkan produk alkes di pusat-pusat riset.

Pusat-pusat riset itu tidak didanai swasta. Sebagian besar dari mereka didanai pemerintah dan melakukan penelitian tidak untuk kebutuhan pasar.

Tapi karena tidak pernah berorientasi bisnis, laju penelitian mereka berjalan lamban dan seringkali tidak relevan dengan kebutuhan pasar sesungguhnya.

Di situlah peran Gakeslab jadi penting. Gakeslab membantu program-program di pusat-pusat penelitian itu sehingga produk yang dilahirkan akan membantu kemandirian alat kesehatan. Para peneliti akan terlibat dalam projek-projek penelitian yang menghasilkan produk-produk yang langsung akan diserap oleh para pengusaha alkes.

Karena itulah Gakeslab juga melakukan apa yang disebut sebagai business matching yang mempertemukan ratusan pengusaha dan peneliti dalam puluhan pertemuan. Gakeslab bahkan melakukan rangkaian program yang yang telah melatih 200 peneliti untuk mengenal standar-standar alkes agar dapat bekerja sama lebih cepat dan efektif dengan industri.

Mereka juga bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk memperbesar basis produsen alkes dan produsen komponen. Khusus dengan Lembaga studi dan riset medis Indonesia di bawah UI, IMERI, Gakeslab bahkan mengembangkan technopark alkes dengan nama IMEGA Medical Science Technopark.

Saya sangat optimistis bila apa yang dilakukan Gakeslab bisa terus dikembangkan, kemandirian alkes Indonesia bukanlah omong kosong.

Pola serupa bahkan ada baiknya ditiru di industri nasional lain. Saya selalu percaya Indonesia bisa besar bukan hanya sebagai negara konsumen, tapi juga sebagai negara produsen.

Gakeslab adalah contohnya. Mari kita dukung upaya-upaya berbasis akal sehat semacam ini.

Komentar