RISMA ITU MARAH TAPI KERJA. BUKAN KAYAK ANIES

Oleh: Denny Siregar

Saya lama tinggal di Surabaya dan mengikuti dari waktu ke waktu perkembangan di Surabaya. Kalau boleh saya jujur, dulu Surabaya itu kotor dan semrawut. Pedagang kaki lima ada di mana-mana, bahkan di jalan utama. Mereka seperti tidak terurus dan merusak pemandangan orang yang berkunjung ke Surabaya.

Di sepanjang kali di Jagir banyak gubuk-gubuk liar yang dijadikan bahkan tempat transaksi seksual kelas menengah bawah. Kalau kita lewat pinggir kalinya, maka kita akan lihat serombongan orang yang mandi, nyuci, bahkan buang air besar di sana. T

eman-teman saya kalau mampir ke Surabaya, pasti minta diajak jalan-jalan ke Dolly, tempat pelacuran yang gosipnya terbesar se-Asia Tenggara. Mereka ke sana sekadar untuk nonton pameran gadis-gadis pelacur yang dipampang di ruang kaca warna-warni yang bisa dilihat dari pinggir jalan. Lucu memang di Dolly itu. Antara seksualitas dan religiusitas, berdampingan bersama. Antara tawar-menawar harga pelacur dan suara orang mengaji di musala, seperti campur baur.

Tidak ada yang berani menutup Dolly, karena dia memberikan pemasukan besar di kantong-kantong pejabat busuk mulai orang Pemkot dan DPRD. Uang lendir, kata orang-orang yang dimakan juga sama mereka karena besar dan didapat gak pakai susah payah.

Sampai datang Bu Risma yang seperti buldozer menggasak semuanya. Bu Risma ini gak peduli apakah dia santun atau tidak, buat dia menjadikan Surabaya bersih dan bebas pelacuran adalah jihad. Dia gak takut dengan siapapun. “Saya cuma takut sama Tuhan,” katanya waktu itu. Dan, kalau Anda tinggal di Surabaya di zamannya Bu Risma, pasti sering baca berita dia berantem dengan banyak pejabat dan preman hanya karena dia ingin Surabaya kembali tertata.

Jangankan kata marah, bahkan makian keluar dari seorang Risma. Dan kita warga Surabaya biasa banget mendengar itu, bahkan ikut senang. Makian Bu Risma kepada pejabat dan preman di sana bukan pencitraan, dia beneran berantem. Setiap hari. Lama-lama, kami warga Surabaya ikut bersorak sorai dan mendukung Bu Risma, bahkan menjadi pagar betis buat dia.

Dan sekarang Surabaya bersih sudah. Tertata. Dolly, tempat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara itu, musnah dan sekarang jadi tempat bisnis semata. Meski Surabaya itu hawanya sangat panas, tapi sepanjang jalan utama banyak pohon besar yang memang dibuat untuk meredam panas matahari. Taman-tamannya indah dan jadi tempat kumpul warga. Surabaya jauh lebih baik di tangan Risma, daripada walikota-walikota sebelumnya.

Jadi, ketika Bu Risma menjadi Mensos, dan ada videonya yang viral karena dia marah-marah, saya sebagai orang Surabaya senyum-senyum aja. Ya begitulah Risma. Dia memang pemarah. Tetapi marahnya bukan karena supaya dia dapat piala citra, tetapi benar-benar karena dia kesal lihat orang di jajarannya kerja gak benar.

Kita tahulah, Kementerian Sosial dan Dinas Sosial sebelum Risma di sana, adalah sarang tikus. Di sana tikusnya bukan lagi curut, tetapi tikus got yang besar-besar. Mantan Kemensos Juliari Batubara aja ditangkap KPK karena terbukti menerima suap lebih dari Rp30 miliar. Itu baru suap lho, belum banyak data palsu yang ada di sana.

Selama Risma menjadi Menteri Sosial, dia sudah menghapus hampir 10 juta data palsu penduduk miskin di BPJS, mulai dari data ganda, data orang yang sudah meninggal, dan lain-lainnya. Entah karena administrasi di Kemensos yang dulu bobrok atau memang data itu sengaja dibiarkan supaya uangnya bisa dimainkan, yang pasti data-data itu bermasalah dan harus segera dihapus dari servernya.

Itu baru masalah administrasi data bermasalah, belum lagi beberapa pejabat Kemensos tertangkap karena korupsi bantuan sosial untuk penderita Covid-19. Begitu banyak kasus di dalam Kemensos, dan semua kasus itu berujung pada uang. Tahu berapa dana yang dikucurkan dalam bentuk bantuan-bantuan dari pemerintah Indonesia kepada seluruh rakyat Indonesia yang terdampak melalui Kementerian Sosial? Rp110 triliun! Ini bukan jumlah yang main-main, yang bisa bikin orang ijo matanya kalo bisa ngutip 1% saja untuk jajan dan makan lobster sama tetangga.

Tanggung jawab yang sangat berat itulah yang membuat siapapun yang menjadi Menteri Sosial, seharusnya stres. Karena kalau salah data, atau salah penyaluran, maka Mensos bisa dianggap korupsi. Padahal bisa saja itu bukan salah Menteri, tetapi salah Dinas Sosial yang memainkan data. Jadi wajar buat saya kalau Bu Risma marah-marah sampai nunjuk-nunjuk segala.

Nah, yang gak biasa dengan gaya Risma dan bukan orang Surabaya, biasanya kaget. Terus protes, “Kok Risma gak santun ya?”

Risma memang bukan orang yang santun kalau masalah korupsi, dia santun kalau berhadapan dengan rakyat kecil. Dia bisa ngamuk, sama dengan ngamuknya seorang Ibu, ketika tahu uang jajan anaknya yang cuma sedikit itu, dipalak oleh preman. Itulah makanya kami di Surabaya menjuluki dia Ibu, karena dia memang Ibu kami, yang melindungi kami dari jarahan tikus-tikus berdasi yang kerjaannya menggerogoti sana sini.

Risma bukan Anies, yang sibuk silat lidah dengan gaya santun, tapi kerjaannya gak ada sama sekali. Sibuk pencitraan buat nutupin ketidakbisaan. Risma pekerja, dan sebagai pekerja ketika ada yang tidak beres, dia pun meluapkan emosinya.

Maaf ya, yang butuh orang santun, silakan deh lihat Kemensos sebelumnya yang sangat santun, tapi terima suap juga. Saya sih lebih senang lihat Risma marah-marah, karena pasti ada yang gak beres di sana, atau dia menemukan sarang tikus yang selama ini mengganggu kita. Kita di Surabaya tahu, Risma kerjaannya beres. Kalau dia suaranya keras, nang Suroboyo itu biasa. Orang Surabaya itu kayak orang Medan, suaranya aja kencang tapi hatinya seputih kaca. Kayak saya.

Bu Risma, senang lihat Ibu sekarang ada di pentas nasional. Tetap semangat ya Bu, anak-anakmu akan selalu melindungi Ibunya yang tercinta. Seruput dulu kopinya.

Komentar