EKO KUNTADHI, DUKUN CABUL, PKI, DAN TV ONE

Oleh: Shelter CSW

Ada cerita menarik dari senior saya di grup Cokro TV, Mas Eko Kuntadhi. Pekan lalu dia menulis tweet yang mempertanyakan siaran diskusi di TV One akhir September lalu.

Acara yang dia singgung adalah Catatan Demokrasi, di mana Mas Eko sendiri hadir sebagai pembicara. Judul topik yang diangkat malam itu adalah: “Komunis Bangkit Kembali’

Tapi yang ia angkat di tweet sebenarnya bukan isi diskusinya sendiri.

Yang ia kritik terutama adalah bagaimana TV One menampilkan sosok pria penjahat kelamin yang tewas dibunuh menjadi seolah-olah seorang pahlawan korban PKI. Bahkan lagu latar yang mengiringi video jenazah sang pria cabul itu adalah Gugur Bunga.

Lengkapnya Eko menulis begini:

“Di Tangerang pengurus masjid terlibat hubungan asmara dengan istri orang. Suaminya marah. Lalu terjadi pembunuhan. Kejadiannya bulan September. Lalu orang langsung menuding ulah PKI. TV One malah menyetel lagu Gugur Bunga buat dia. Mereka beneran gila PKI!”

Eko memang terlihat marah. Pertama-tama, dia mempersoalkan kenapa pembunuhan seorang pria yang berselingkuh dengan istri orang dikait-kaitan dengan PKI hanya karena itu terjadi pada bulan September.

Yang kedua, Eko marah karena TV One, pada saat menampilkan cuplikan berita itu, menggunakan lagu Gugur Bunga. Padahal Gugur Bunga adalah lagu yang diperuntukkan untuk mengenang para jenderal yang meninggal dalam tragedi G30S PKI.

Kalau Anda saksikan rekaman acara ini yang sampai saat ini ada di kanal YouTube TV One, kemarahan Eko sangat terasa.

Jadi kalau dia sampai menulis di tweet: ‘Mereka gila PKI!’ itu sangat bisa dipahami.

Eko terlihat sekali tidak terima dengan cara TV One menarasikan apa yang disebut sebagai kebangkitan komunis.

Hadir dalam diskusi itu sejumlah pembicara terkenal, seperti Fadli Zon, Said Didu, Salim Said, Hermawan Sulistyo, dan Eko sendiri.

Fadli, Said, dan Salim berada di kubu mereka yang percaya memang terjadi kebangkitan komunisme. Hermawan, di sisi lain, mempertanyakan sikap takut komunis itu namun dengan analisis berimbang.

Sementara Eko jelas-jelas menggugat masih adanya upaya untuk membangkitkan kembali ketakutan pada komunisme dengan cara yang mengada-ada. Dan salah satu bukti yang menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap komunisme itu mengada-ada adalah contoh-contoh yang ditampilkan TV One.

Soal si pria berselingkuh yang ditembak mati di Tangerang itu misalnya. Ketika berita itu pertama kali muncul memang banyak yang menyebut si korban sebagai ustaz. Tapi sekarang sudah terungkap bahwa pria bernama Armand alias Alex itu bukan ustaz melainkan mengaku-aku sebagai paranormal.

Alex buka praktik sebagai dukun. Karena kepintarannya dia bisa menipu seorang perempuan untuk mau ditiduri ketika hendak memasang susuk.

Masalahnya, perempuan itu sudah memiliki suami. Dan ketika si suami mengetahui kejahatan Alex, dia pun marah dan meminta para pembunuh bayaran untuk menghabisi Alex.

Jadi kematian Alex sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Dia bukan ustaz dan dia dibunuh karena kejahatan kelamin.

Yang mengherankan, TV One masih menampilkan contoh kematian Alex sebagai tanda-tanda kemungkinan kebangkitan PKI. Dan yang paling fatal, ketika cuplikan video tentang Alex hadir, yang terdengar sebagai lagu latar adalah lagu Gugur Bunga.

Kalau Anda menyaksikannya di kanal YouTube, lagu itu memang sudah dihilangkan. Pada menit 50-an ada cuplikan judul berita dengan judul: “Ustaz Alex ditembak OTK di Tangerang, Peluru Tembus ke Pintu”

Kemudian ada video jenazah sedang dibawa serombongan orang. Tapi tidak ada lagu latar terdengar. Artinya TV One menyadari kesalahan mereka yang diangkat oleh Eko.

Tapi, biar bagaimanapun, ini kembali mencerminkan kurangnya kepekaan media massa besar terhadap isu-isu sensitif semacam ini.

Epsiode ‘Komunis Bangkit kembali’ ini sendiri terkesan sangat dipaksakan. Di satu sisi, TV One cukup berimbang dengan menghadirkan dua sisi pandangan yang berbeda.

Tapi kelihatan sekali TV One sebenarnya tidak memiliki cukup materi untuk mendukung dugaan bahwa komunisme di Indonesia sedang bangkit kembali seperti yang tertulis dalam judul tayangan.

Selain soal penembakan dukun cabul itu, juga ditampilkan adanya pembakaran mimbar masjid di Sulsel.

Tapi dalam tayangan itu, juga diungkapkan bahwa pembakaran itu sebenarnya terjadi karena kemarahan jemaat yang diusir keluar saat dia tidur-tiduran di masjid.

Kemudian juga ada kasus perkelahian antara seorang muazin masjid dengan seorang jemaat. Telinga si muazin hampir putus.

Tapi terungkap pangkal perkelahian adalah semata-mata cekcok biasa. Jadi apa hubungannya dengan komunisme?

Yang juga terasa sangat dipaksakan adalah soal diturunkannya diorama tiga tokoh anti PKI dari Museum Kostrad yang sempat heboh dibicarakan. Tiga tokoh itu adalah: Soeharto, Nasution, dan Sarwo Edhie.

Host TV One sendiri menjelaskan bahwa Pangkostrad Dudung Abdurrahman sudah menyatakan bahwa penurunan tiga diorama itu dilakukan untuk menghormati permintaan Pangkostrad lama, AY Nasution.

AY Nasution adalah Pangkostrad yang menggagas pemasangan diorama itu namun kini berubah pikiran karena alasan agama.

Jadi sudah sangat jelas penurunan diorama ini tidak ada hubungannya dengan upaya melupakan peran ketiga tokoh itu dalam sejarah penumpasan PKI.

Namun tetap saja narasi bahwa itu adalah bukti kebangkitan komunis ditonjolkan dalam Catatan Demokrasi. Said Didu dan Fadli berusaha terus memanfaatkan isu itu.

Apalagi juga ada cuplikan pernyataan Gatot Nurmantyo yang menegaskan bahwa saat ini upaya mengadu domba rakyat dengan pemerintah, mengadu domba Islam, dan TNI dan ada upaya membelokkan sejarah.

Menurut kami, TV One terlalu memaksakan diri untuk menyatakan isu kebangkitan komunisme itu memang ada.

Mungkin mereka melakukannya karena redaksi TV One memang percaya bahwa ancaman komunisme itu nyata. Atau mungkin karena TV One sekadar berusaha menjual isu yang menarik karena pertimbangan pasar.

Apapun alasannya, sebuah media berpengaruh seperti TV One seharusnya lebih bersikap profesional. Sebagai sebuah lembaga yang dipercaya menjadi sumber informasi dan interpretasi bagi masyarakat, TV One seharusnya bisa lebih bertanggungjawab.

Kalau TV One memang ingin meyakinkan masyarakat bahwa ancaman komunisme itu ada, sajikanlah informasi-informasi yang kuat. Jangan sekadar mencari-cari informasi yang jelas tak ada hubungannya untuk ditampilkan sebagai bukti. Media sebesar TV One seharusnya mencerdaskan, bukan memperbodoh.

Apalagi dengan misalnya mengiringi kematian seorang dukun cabul dengan lagu Gugur Bunga. Itu sama sekali tidak pantas.

Kami percaya TV One akan cukup berbesar hati menerima kritik ini.

Komentar