PAK JOKOWI, TOLONG MANTAN SATPAM KPK INI

Oleh: Denny Siregar

Dulu saya orang yang paling ribut dengan berita adanya “Taliban” di dalam tubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kita. Taliban yang dimaksud ya pastinya bukan ormas di Afghanistan yang sekarang menguasai negara itu ya, tetapi sebuah perumpamaan karena gerakan kelompok fundamentalis di dalam tubuh KPK semakin menguat.

Dan berita kalau adanya kelompok “Taliban” ini juga bukan berita yang dibuat sendiri, justru muncul dari dalam tubuh KPK sendiri. Bahkan almarhum Neta S. Pane dari Indonesia Police Watch pernah mengatakan, kalau di dalam tubuh KPK sekarang sedang tumbuh dua faksi, yaitu faksi polisi Taliban dan faksi polisi India. Saya sih kurang mengerti tentang polisi India itu, mungkin itu faksi yang cari duit dari kerja di KPK. Tapi yang faksi Taliban ini menarik, karena ini berbahaya buat negara.

Saya coba ingatkan kembali, sebelum UU KPK itu diubah, KPK adalah badan yang punya UU sendiri dan tidak tersentuh oleh negara. Pegawai mereka bukan pegawai pemerintah, mereka juga tidak punya pengawas, dan bisa bergerak sendiri tanpa bisa diatur oleh negara. Bisa dibilang, pada waktu itu, KPK adalah negara di dalam negara yang bernama Indonesia. Ini yang berbahaya ketika KPK mulai disusupi oleh paham fundamentalis dan dipakai sebagai senjata oleh mereka dengan tujuan untuk menghancurkan negara ini sendiri.

Karena itu, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sudah benar, bahwa KPK harus berada di bawah negara, semua pegawainya haruslah ASN atau pegawai pemerintah, dan harus dibuat badan yang mengawasi KPK supaya mereka tidak bisa seenaknya menyadap orang tanpa persetujuan. Senjata KPK yang paling mereka kuasai memang cuma “menyadap” orang, baru mereka lakukan Operasi Tangkap Tangan atau OTT. KPK sendiri belum punya kemampuan membongkar kasus-kasus korupsi yang rumit, tanpa memakai penyadapan. Pemerintah sudah mengembalikan KPK ke jalan yang benar, supaya tidak dikuasai oleh orang-orang yang ingin merusak negara dengan alasan “pemberantasan korupsi”.

Nah, dari semua gonjang-ganjing masalah pengambilalihan KPK, yang paling menarik adalah “Benarkah ada Taliban di dalam KPK?”. Sekali lagi ya, kata Taliban itu hanya sebagai perumpamaan untuk merujuk kepada orang-orang atau kelompok yang punya ideologi mengganti negara. Di dalam kata “Taliban” itu ada organisasi-organisasi seperti Jemaah Islamiyah atau HTI yang sudah dibubarkan oleh pemerintah.

Dan dugaan bahwa di dalam KPK dulu ada “Taliban” dibenarkan oleh seorang mantan security di KPK lama, seorang anggota Banser NU. Dia sempat memotret meja salah seorang petinggi KPK, yang di atasnya berdiri gagah bendera Al-Liwa. Sebagai catatan kita, bendera Al-Liwa adalah bendera putih yang bertuliskan kalimat tauhid. Bendera ini diyakini sebagian orang sebagai bendera perang Nabi Muhammad SAW. Pasangannya biasanya adalah bendera hitam yang bernama Ar-Rayah, yang juga bertuliskan kalimat tauhid.

Kedua bendera ini, dijadikan simbol dan sering dipakai oleh Hizbut Tahrir sebagai bagian dari propagandanya. Mereka bersembunyi di balik simbol-simbol Islam sebagai tamengnya. Untuk apa? Supaya ketika ada yang menyerang simbol mereka itu, maka orang itu akan dituduh sebagai penghina Islam. Ini memang cara licik HTI sebagai senjata perang mereka.

Dan yang pernah terjebak strategi ini adalah anggota Banser NU di Garut, tahun 2018 lalu. Ketika Banser NU sedang apel, tiba-tiba ada orang yang memprovokasi dengan membawa bendera hitam itu, yang langsung saja membuat anggota Banser NU di Garut panas hati dan menangkap serta membakar bendera itu. Video pembakaran ini viral dan Banser kemudian diserang karena dibilang telah menghina “Islam”.

Pertanyaannya, benarkah bendera putih dan hitam bertuliskan kalimat tauhid itu adalah bendera Rasulullah? Gak usah berdebat masalah hadis deh, kita ikuti saja peraturan di Arab Saudi, negara penyelenggara ibadah haji, tempat adanya Kakbah, atau pusat ibadah umat Islam. Arab Saudi sendiri sudah mengumumkan pelarangan adanya bendera kalimat tauhid itu di negaranya, karena itu sering dipakai oleh Hizbut Tahrir.

Hizbut Tahrir di Saudi adalah organisasi yang terlarang, karena berpotensi untuk memberontak dan mengganti negara. Rizieq Shihab dulu, waktu masih kabur-kaburan di Saudi, pernah ditangkap dan diinterogasi karena di kos-kosannya ada bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid itu. Rizieq Shihab takutlah, kalau dia dulu terbukti sebagai anggota HTI, sudah dipenggal kepalanya di Saudi.

Nah balik lagi ke KPK, berarti benarkah indikasi adanya kelompok garis keras seperti HTI itu di dalam tubuh KPK?

Ya sudah pasti benar. Buktinya ada di pemasangan bendera itu di meja salah satu penyidik KPK. Bukti apalagi yang harus dihadirkan? Toh pemasangan bendera itu adalah bagian dari pemantapan ideologi mereka. Sama seperti kitalah, ketika kita menancapkan bendera Indonesia di meja kerja kita, itu bisa berarti bahwa ideologi kita adalah NKRI. Kalau pasang bendera Malaysia misalnya, maka ke-NKRI-an kita harusnya diragukan.

Jadi yang saya heran, KPK sampai sekarang terus menyerang Iwan Ismail, mantan security KPK, yang dipecat hanya karena dia memfoto bukti adanya bendera itu di meja penyidik. Iwan Ismail dianggap sudah melanggar peraturan di dalam KPK karena sudah memfoto bendera itu. Dan menurut KPK, Iwan sudah menyebarkan fitnah yang membuat nama KPK rusak dan melemahkan KPK.

Fitnah? Foto itu sendiri dikatakan bukan hoax. Dia heran, kok ada bendera itu di meja penyidik KPK, dia kemudian memfotonya dan membahasnya di grup bersama teman-teman Bansernya. Seharusnya KPK berterimakasih kepada Iwan Ismail, karena sudah membuktikan kalau di dalam KPK benar-benar adanya HTI. Seharusnya Iwan Ismail diberikan penghargaan, dibersihkan namanya, dan dipekerjakan kembali di KPK.

Iwan Ismail adalah pahlawan kita. Dia berani membongkar adanya kebusukan di dalam KPK, yang dibungkus dengan baju malaikat seolah-olah mereka bersih dan tidak bernoda.

Mari kita bagikan video ini supaya sampai ke Pak Jokowi dan berharap Iwan Ismail diberi pekerjaan kembali. Dia adalah orang yang berbakti kepada negeri. Seorang Banser sejati.

Setuju? Seruput kopinya.

 

Komentar