IKHTIAR JOKOWI DALAM MEMAJUKAN DUNIA ISLAM

Oleh: Syafiq Hasyim

Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia juga dianggap sebagai negeri Muslim pelaksana demokrasi terbesar bersama Turki. Bahkan Indonesia juga dianggap sebagai negeri demokrasi terbesar ketiga dalam hal pelaksanaan pemilu. Karenanya, kiprah Indonesia memang diharapkan oleh dunia, terutama dunia Muslim. Apa yang terjadi di Indonesia sedikit banyak akan berpengaruh pada belahan dunia lain.

Namun, sebagai negeri Muslim terbesar banyak kalangan yang menganggap jika kontribusi Indonesia masih belum maksimal. Suara Indonesia belum banyak menentukan seluk-beluk dunia Muslim lainnya, misalnya dalam memajukan peradaban global Islam.

Pemerintahan Jokowi nampaknya ingin meningkatkan peran dan pengaruh Indonesia di kalangan negeri-negeri Muslim. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia. Universitas ini mulai dibangun sejak 2018, berlokasi di daerah Depok, Jawa Barat. Terus terang inisiatif seperti pendirian UIII ini betul-betul bisa dikatakan sebagai terobosan, mengingat Jokowi, terutama dalam periode pertama pemerintahannya, dicitrakan sebagai pemimpin yang memusuhi Islam.

Sudah terkenal saat itu jika Jokowi dituduh mengkriminalisasi ulama-ulama. Jokowi dianggap menggunakan kekuasaannya untuk memarginalisasikan kepentingan Islam, dan masih banyak lagi. Intinya, Jokowi itu dipersepsikan sebagai pemimpin anti-Islam. Karenanya, pendirian UIII bisa dikatakan sebagai salah satu ikhtiar terbaik pemerintahan Jokowi untuk membuktikan komitmennya atas kepentingan dunia Islam.

Jokowi dan Jusuf Kalla pada saat itu mengambil inisiatif ini karena kita, di Indonesia, ingin menjadi salah satu pusat, di mana paling tidak bagi negara-negara Islam, untuk mengirimkan pelajar mereka belajar di Indonesia. Bagi negeri-negeri Muslim, mereka bisa belajar Islam ke Indonesia. Tidak hanya belajar tentang pemikiran para sarjana dan ulama-ulama Islam di Indonesia yang mayoritas moderat, namun mereka juga bisa belajar Islam secara nyata dari pelaksanaan Islam di Indonesia. Yakni, Islam yang bersinergi dengan lokalitas, demokrasi dan juga relatif damai dan toleran.

Secara logika memang pantas jika kita klaim seperti itu, karena terus terang kondisi sosial-politik Indonesia memang lebih baik dari negara-negara Muslim lainnya yang selama ini menjadi pusat masyarakat Islam untuk belajar. Katakanlah negeri Yaman, yang setiap tahun ribuan pelajar kita belajar ke negeri itu, sementara keadaan negeri itu penuh dengan konflik dan perang saudara. Tidak hanya Yaman, namun juga negeri-negeri lainnya seperti Mesir, Libya dan Syiria.

Dengan pendirian UIII ini, Indonesia ingin menjadi negara yang tidak hanya menjadi destinasi belajar bagi pelajar negeri-negeri Muslim, namun juga menyediakan fasilitas dan pembiayaan bagi mereka. Dalam bentuk apa? Mereka, yang lolos seleksi, misalnya mendapatkan living cost (biaya hidup) dan serta tempat tinggal di Indonesia selama belajar di universitas ini.

Untuk apa memberikan beasiswa orang luar untuk belajar di universitas ini? Meskipun terbilang sedikit agak terlambat, namun mari kita belajar mengenai hal ini pada pengalaman negeri Malaysia, Saudi Arabia dan negeri-negeri lainnya. Malaysia membangun sebuah universitas Islam internasional Malaysia (International Islamic University Malaysia) pada tahun 1983. Universitas ini merekrut mahasiswa terutama S2 dan S3 dari seluruh penjuru dunia Muslim. Mereka diundang dan dibiayai untuk belajar di IIUM ini. Bagi yang berpikir pendek, untuk apa negeri Malaysia mengeluarkan uang untuk membiayai mahasiswa asing belajar di negeri mereka?

Namun setelah mereka meluluskan mahasiswa mereka dan alumni mereka kembali ke negeri mereka masing-masing, manfaatnya terlihat bagi Malaysia. Ternyata, kebanyakan alumni mereka menjadi orang terpandang dan menduduki jabatan penting di negeri mereka masing-masing. Bahkan di Lembaga-lembaga internasional. Mereka menjadi akuntan, pejabat publik, professional, pengusaha, bahkan Menteri, serta pemimpin negeri dan juga pemimpin lembaga-lembaga internasional.

Ketika itu terjadi, maka pengaruh Malaysia di negeri-negeri ini jelas ada, karena pasti mereka semua akan mengingat dari mana mereka belajar dan mendapatkan gelar. Saudi dan Mesir juga mendapatkan pengaruh besar atas dunia Muslim, karena menyediakan fasilitas dan beasiswa untuk mahasiswa asing yang sudah sejak puluhan tahun lalu mereka lakukan.

Karenanya, keputusan untuk ikut berpartisipasi di dalam memajukan dunia, keputusan mendirikan dan mendukung operasi UIII adalah hal yang sangat tepat. Masyarakat Indonesia secara keseluruhan perlu tahu jika pemerintah mereka sudah mengambil inisiatif menjadi salah satu tempat tujuan pelajar internasional untuk belajar.

Hal ini penting agar kita tahu bahwa negeri ini tidak hanya mampu bertindak sebagai negeri yang mengharapkan beasiswa dari pihak lain, namun juga memberi kepada pihak lain. Kita tahu bahwa selama ini banyak dari mahasiswa kita yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di negeri-negeri yang bahkan secara ekonomi status mereka jauh di bawah Indonesia, katakanlah seperti Yaman, Sudan, Mesir, Maroko dan masih banyak negeri yang lainnya. Jika kita ingin berperan pada tingkat global, maka memberi beasiswa pada penduduk global untuk belajar di Indonesia adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Tanda-tanda bahwa peran Indonesia untuk memberi sudah terlihat. Ketika UIII mengumumkan beasiswa secara terbuka, maka jumlah yang mendaftar cukup besar. Dari 100 beasiswa S2 yang disediakan, ada sekitar 1009 pelamar dari 59 negara. Dari 1009 pelamar ini, komposisi pelamar mahasiswa internasionalnya cukup besar hampir mendekati separuh. Melihat ini, meskipun baru pada tahap permulaan, kita merasa optimis. Artinya, kehadiran Indonesia untuk memajukan dunia global Islam memang sudah dinantikan.

Kini, mulai September 2021, proses belajar S2 di UIII sudah mulai berjalan, masih memakai sistem daring karena Covid-19. Kita berharap proses belajar ini akan berjalan secara lancar sesuai yang dicitakan dalam visi dan misi Indonesia secara umum dan UIII secara khusus. Pemerintahan Jokowi dan serta Kementerian Agama sendiri memang tidak akan bisa merasakan manfaat besar secara langsung pada saat ini, namun mereka sesungguhnya telah menanam. Mereka telah menanam pohon pengetahuan berupa UIII.

Semua pihak akan mencatat jika pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang memulakan Indonesia untuk hadir dalam kancah peradaban global Islam melalui dunia ilmu pengetahuan. Siapapun yang memiliki konsen pada dunia keilmuan untuk memajukan peradaban Islam global di Indonesia, maka peran pemerintahan ini tidak bisa dilupakan.

Sebagai catatan, sumbangan pemerintahan Jokowi untuk memajukan peradaban global dunia Islam melalui pendirian UIII adalah tindakan yang tepat. Menanamkan pengaruh melalui ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan akan jauh lebih mendalam dampaknya, karena ilmu pengetahuan dan pendidikan akan tertanam di hati dan otak mereka. Kita berharap langkah ini akan terus maju di masa-masa yang akan datang.

Komentar